Daerah  

Kronologi Lansia 83 Tahun Tewas Terserempet KRL di Kebon Pedes Bogor

Di mobil Amulance lansia terserempet KRL di kawasan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Di mobil Amulance lansia terserempet KRL di kawasan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Dok: Istimewa

DINEWS.ID – Seorang pria lanjut usia berinisial MRS (83), yang dikenal warga dengan panggilan Pak Rais, meninggal dunia setelah terserempet Kereta Rel Listrik (KRL) relasi Bogor–Jakarta di kawasan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa (3/11/2026) sekitar pukul 09.45 WIB.

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban saat itu sedang berjalan di bantaran rel ketika sebuah KRL melintas dari arah Bogor menuju Jakarta. Korban terserempet kereta hingga mengalami insiden fatal.

Kapolsek Tanah Sareal, Kompol Sonson Sudarsono, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan saksi di lokasi, korban tidak tertabrak secara penuh, melainkan terserempet laju kereta.

“Untuk kronologis dari saksi di lokasi, yang bersangkutan sedang berjalan di bantaran rel kereta, kemudian tiba-tiba ada kereta dari arah Bogor menuju Jakarta. Korban tersebut terserempet, jadi bukan tertabrak,” ujar Kompol Sonson Sudarsono, Selasa (3/11/2026).

Setelah kejadian, masinis KRL sempat menghentikan perjalanan untuk memberi tahu warga sekitar. Kondisi lokasi yang relatif sepi membuat informasi mengenai insiden tersebut disampaikan langsung kepada masyarakat di sekitar rel.

Ketua RW 02 Kelurahan Kebon Pedes, Sumardi, mengatakan warga yang menerima informasi kemudian mendatangi lokasi dan memindahkan korban ke tepi rel. Langkah itu dilakukan untuk menghindari risiko terserempet kereta lain yang melintas.

“Kereta sempat berhenti ngasih tahu ke warga karena kondisinya sepi di sini. Korban langsung dipindahkan sama warga ke tepi rel, takut ada kereta lewat lagi,” kata Sumardi.

Korban Diduga Tidak Mendengar Kedatangan Kereta

Berdasarkan pendataan kepolisian dan pengurus lingkungan, MRS merupakan warga RT 01/RW 11, Kelurahan Kebon Pedes. Korban diketahui lahir pada 1943 dan tinggal di lingkungan tersebut.

Menurut keterangan keluarga dan tetangga, korban mengalami pikun serta gangguan pendengaran. Ia juga disebut kerap berjalan mondar-mandir di sekitar kawasan permukiman.

“Yang bernama MRS memang warga asli sini dan usianya kelahiran 1943, berarti sudah sepuh. Menurut informasi keluarga dan tetangga, korban memang pikun dan ada gangguan pada pendengarannya,” terang Kompol Sonson.

Kondisi tersebut diduga membuat korban tidak menyadari kedatangan kereta. Namun, keterangan mengenai kondisi korban itu berasal dari informasi keluarga dan tetangga yang disampaikan kepada kepolisian.

Jenazah Dibawa ke Rumah Duka

Setelah menerima laporan warga, jajaran Polsek Tanah Sareal bersama Tim Inafis Polresta Bogor Kota mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan identifikasi awal.

Pihak pengurus RW menyebut korban hidup dalam kondisi ekonomi kurang mampu. Korban juga baru kehilangan istrinya yang meninggal dunia belum genap 40 hari sebelum peristiwa tersebut terjadi.

Atas koordinasi dan kesepakatan dengan keluarga, jenazah tidak dibawa ke rumah sakit, melainkan langsung dipulangkan ke rumah duka untuk proses pemakaman.

“Atas koordinasi dan keinginan pihak keluarga, korban langsung dibawa ke rumah duka untuk dilakukan proses pemakaman,” pungkas Kompol Sonson.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tidak beraktivitas di bantaran maupun jalur rel kereta api. Area tersebut merupakan ruang operasional perjalanan kereta yang berisiko membahayakan keselamatan, termasuk bagi warga yang berjalan di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *