Diskop UKM Kabupaten Bogor: Gerai KDMP Pakansari Paling Siap Beroperasi

WhatsApp Image 2026 06 24 at 20.39.54
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Pakansari, Kabupaten Bogor

DINEWS.ID – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kabupaten Bogor mengungkapkan bahwa Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Pakansari menjadi unit yang paling siap beroperasi dibandingkan gerai lainnya yang saat ini tengah dibangun di wilayah Kabupaten Bogor.

Kepala Diskop UKM Kabupaten Bogor, Iman Wahyu Budiana, menjelaskan bahwa hingga April 2026 telah terbangun sebanyak 137 gerai KDMP. Pembangunan jaringan gerai tersebut dilaksanakan oleh PT Agro Industri Nasional (AgriNas) dengan target penyelesaian hingga Agustus 2026.

Menurut Iman, per 25 Mei 2026 tercatat sebanyak 43 gerai telah selesai dibangun dan menerima fasilitas pendukung dari AgriNas. Namun, sebagian besar masih memerlukan penyempurnaan pada sejumlah fasilitas operasional seperti sistem kasir dan CCTV.

“Gerai yang sudah dibangun sampai April 2026 sebanyak 137 unit. Dari jumlah tersebut, 43 gerai sudah menerima fasilitas. Namun masih ada beberapa yang belum sepenuhnya lengkap, seperti perangkat kasir dan CCTV. Untuk yang paling siap dan sudah lengkap seluruh fasilitasnya saat ini adalah Gerai KDMP Pakansari,” ujar Iman saat ditemui di Kantor Diskop UKM Kabupaten Bogor.

Gerai KDMP Pakansari telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang operasional, mulai dari kendaraan logistik berupa motor roda tiga, truk roda enam, hingga kendaraan pikap. Selain itu, sistem kasir terkomputerisasi, jaringan CCTV, serta tata letak rak penjualan juga telah terpasang dan siap digunakan.

Iman menjelaskan, konsep gerai tersebut nantinya akan menyerupai ritel modern dengan sistem pelayanan yang terintegrasi. Saat ini, gerai hanya tinggal menunggu distribusi produk untuk mulai beroperasi.

“Kalau melihat kesiapan fasilitasnya, Gerai Pakansari sudah siap digunakan. Tinggal menunggu pengisian produk dari pusat,” katanya.

Di sisi lain, pembangunan gerai KDMP di sejumlah wilayah lainnya masih terus berjalan. Saat ini terdapat 96 gerai yang masih dalam proses pembangunan dengan progres fisik bervariasi antara 10 hingga 40 persen.

Sementara itu, dari total kuota 189 gerai KDMP yang direncanakan di Kabupaten Bogor, masih terdapat 52 titik yang belum dapat dibangun karena terkendala persoalan lahan.

Iman mengungkapkan bahwa Gerai KDMP Pakansari juga menjadi satu-satunya gerai yang telah memiliki kelengkapan dokumen perizinan secara penuh, mulai dari Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) hingga Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Adapun untuk gerai-gerai lain yang memanfaatkan aset pemerintah daerah maupun tanah kas desa, proses administrasi dan perizinannya masih berlangsung. Khusus untuk aset milik pemerintah daerah, proses penyelesaiannya saat ini tengah dikoordinasikan oleh Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

Untuk mengatasi kendala pada 52 titik yang belum dapat dibangun, Diskop UKM Kabupaten Bogor telah mengajukan usulan lokasi pengganti kepada pemerintah pusat. Kelayakan lokasi tersebut nantinya akan dinilai langsung oleh tim dari AgriNas.

Terkait mekanisme operasional gerai serta proses rekrutmen Manajer Bisnis KDMP, Iman menegaskan bahwa kewenangan tersebut berada di tingkat pusat melalui kerja sama antara Kementerian Koperasi dan pihak terkait. Hingga saat ini, pemerintah daerah belum menerima informasi maupun pelibatan dalam proses rekrutmen tersebut.

“Sampai saat ini belum ada informasi yang disampaikan kepada kami di dinas terkait proses rekrutmen maupun pelaksanaannya. Kemungkinan koordinasi dengan daerah baru dilakukan pada tahap pendidikan dan pelatihan,” jelasnya.

Menanggapi kekhawatiran sebagian kepala desa terkait potensi dampak kehadiran gerai KDMP terhadap usaha ritel lokal, Iman mengajak seluruh pihak untuk melihat perkembangan program tersebut secara objektif setelah mulai beroperasi.

Menurutnya, tingkat daya saing sebuah gerai akan sangat ditentukan oleh sistem operasional, kualitas layanan, serta harga produk yang ditawarkan kepada masyarakat.

“Kita belum bisa menilai seperti apa dampaknya sebelum gerai beroperasi penuh. Apakah nantinya akan menyerupai ritel modern atau memiliki sistem yang berbeda, itu masih perlu dilihat. Yang jelas, dalam persaingan usaha, faktor harga dan pelayanan akan menjadi penentu utama,” pungkasnya. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *