DINEWS.ID — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin membuka peluang baru dalam dunia penelitian. Namun, kemajuan teknologi tidak cukup hanya menghasilkan temuan ilmiah. Riset juga dituntut mampu menjawab persoalan masyarakat, menjaga lingkungan, dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan.
Tantangan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam 2nd International Conference on Technology and Science (ICOTENS) 2026 yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pakuan (Unpak) Bogor.
Konferensi internasional ini berlangsung di IPB International Convention Center (IICC), Botani Square, Kota Bogor, Sabtu, 31 Oktober 2026. Mengusung tema “Sustainable Natural Sciences in the Era of Artificial Intelligence and Green Technology”, kegiatan tersebut mempertemukan akademisi dan peneliti dari lima negara.
Para peserta dan akademisi yang terlibat berasal dari Jepang, Filipina, Amerika Serikat, Malaysia, dan Turki. Kehadiran mereka membuka ruang pertukaran gagasan serta memperkuat hubungan akademik lintas negara dalam pengembangan sains dan teknologi.
ICOTENS 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis Universitas Pakuan ke-46. Melalui konferensi ini, FMIPA Unpak berupaya memperluas kolaborasi penelitian sekaligus mendorong agar perkembangan ilmu pengetahuan tetap sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan keberlanjutan global.
AI Buka Peluang Baru dalam Dunia Penelitian
Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. Didik Notosudjono, menyampaikan bahwa perkembangan kecerdasan buatan yang berlangsung pesat memberikan peluang baru bagi dunia penelitian.
Menurutnya, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses riset di berbagai sektor. Beberapa bidang yang berpotensi mendapatkan manfaat di antaranya kesehatan, pemodelan sistem lingkungan, hingga pengembangan material baru.
Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai dapat membantu peneliti menghadapi persoalan yang semakin kompleks. AI dapat menjadi salah satu instrumen pendukung untuk mengolah informasi, mengembangkan pendekatan penelitian, serta membuka kemungkinan lahirnya temuan baru.
Meski demikian, Didik mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tetap harus diimbangi kemampuan berpikir kritis manusia.
“Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung penelitian dan menjawab persoalan yang semakin kompleks. Namun, pemanfaatan teknologi ini tetap memerlukan kemampuan berpikir kritis manusia agar penggunaannya memberikan manfaat nyata dan mendukung keberlanjutan pada masa mendatang,” kata Didik, Sabtu (31/10/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa AI bukan satu-satunya penentu kualitas penelitian. Kemampuan manusia dalam menganalisis, menilai, dan memahami persoalan tetap dibutuhkan agar teknologi digunakan secara tepat.
Dalam konteks sains berkelanjutan, pemanfaatan AI juga perlu diarahkan pada upaya menjawab persoalan nyata, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.
Riset Tak Cukup Berhenti di Publikasi Ilmiah
Selain membahas peluang teknologi, ICOTENS 2026 turut menyoroti pentingnya arah penelitian akademisi agar tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah.
Dekan FMIPA Universitas Pakuan, Asep Denih, menekankan bahwa hasil penelitian seharusnya memiliki nilai guna dan dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat.
Menurutnya, pengembangan riset perlu diarahkan pada sejumlah aspek penting, mulai dari pemberdayaan masyarakat, ketahanan lingkungan, dampak sosial, hingga keberlanjutan global.
Dengan demikian, penelitian tidak hanya menjadi kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak lebih luas.
“Pengembangan riset perlu diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, ketahanan lingkungan, dampak sosial, dan keberlanjutan global. Konferensi ini menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi akademik serta jejaring komunitas ilmiah secara global,” ujar Asep.
Pandangan tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam penyelenggaraan konferensi. Sebab, tantangan keberlanjutan membutuhkan kontribusi berbagai bidang ilmu dan kerja sama antarlembaga.
Melalui pertukaran pengetahuan, akademisi dan peneliti memiliki kesempatan untuk memperluas perspektif, membandingkan pendekatan penelitian, serta membangun peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Libatkan 13 Institusi Nasional dan Internasional
Ketua Panitia ICOTENS 2026, Uswatun Hasanah, mengungkapkan bahwa konferensi internasional edisi kedua ini melibatkan 13 institusi nasional dan internasional sebagai co-host.
Keterlibatan sejumlah institusi tersebut memperkuat ruang pertemuan akademik yang dibangun melalui ICOTENS. Konferensi ini tidak hanya menjadi tempat penyampaian gagasan ilmiah, tetapi juga membuka peluang terbentuknya kerja sama penelitian antar-lembaga.
Panitia berharap diskusi lintas disiplin dalam kegiatan tersebut dapat memicu lahirnya gagasan ilmiah baru. Selain itu, kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu memperkuat jejaring penelitian dan membuka kesempatan penyelenggaraan konferensi bersama di negara-negara mitra pada masa mendatang.
Harapan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi akademisi dalam menghadapi tantangan perkembangan sains dan teknologi.
Bagi Universitas Pakuan, penyelenggaraan ICOTENS juga menjadi momentum untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem penelitian yang terbuka terhadap kolaborasi internasional.
Di tengah perkembangan AI dan teknologi hijau, riset berkelanjutan membutuhkan keterhubungan antara kemajuan ilmu pengetahuan, kemampuan manusia, dan kebutuhan masyarakat.
Melalui ICOTENS 2026, FMIPA Universitas Pakuan mendorong agar kolaborasi akademik tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi turut membuka jalan bagi pengembangan penelitian dan inovasi yang relevan dengan persoalan nyata serta tantangan keberlanjutan global. (Yis)













