The Longest Wait Tuai Kontroversi, Shin Tae-yong Cuma Jadi Cameo?

licensed image
Shin Tae-Young. Dok: Getty Images

DINEWS.ID — Film dokumenter perjuangan Timnas Indonesia, The Longest Wait, seharusnya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang skuad Garuda dalam mengejar mimpi tampil di Piala Dunia. Namun, setelah resmi tayang di bioskop pada 28 Oktober 2026, film ini justru memunculkan perdebatan di kalangan pencinta sepak bola Tanah Air.

16LWAT
Poster film dokumenter The Longest Wait tentang perjuangan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026. Dok: cineplex.com

Sorotan paling ramai tertuju pada minimnya porsi Shin Tae-yong (STY), mantan pelatih Timnas Indonesia yang dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan skuad Garuda. Sejumlah penonton menyayangkan sosok pelatih asal Korea Selatan tersebut tidak mendapat ruang yang sebanding dengan kontribusinya selama menangani tim nasional.

Di sisi lain, film ini menampilkan perjalanan emosional para pemain, tekanan publik, pengorbanan keluarga, hingga dinamika di balik layar. Sosok Patrick Kluivert dan pelatih lain juga mendapat perhatian dalam narasi dokumenter tersebut.

Perbedaan antara harapan penonton terhadap dokumentasi sejarah Timnas dan sudut pandang yang dipilih pembuat film inilah yang kemudian memicu perdebatan.

Dokumenter Perjuangan Timnas Selama Hampir Dua Tahun

The Longest Wait merupakan film dokumenter yang diproduksi Fremantle Indonesia bersama Beach House Pictures, bekerja sama dengan PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI). Film ini disutradarai Sam C. Webb dan mulai tayang serentak di bioskop Indonesia pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Mengangkat perjalanan Timnas Indonesia selama hampir dua tahun, film ini tidak hanya menampilkan pertandingan di lapangan. Ceritanya diarahkan untuk memperlihatkan sisi personal para pemain, termasuk tekanan yang mereka hadapi, kehidupan keluarga, pengorbanan, serta suasana di balik ruang ganti.

Dengan pendekatan tersebut, penonton diajak melihat para pemain bukan semata-mata sebagai atlet yang tampil di hadapan ribuan suporter, melainkan manusia biasa yang memiliki beban, emosi, dan kehidupan di luar sepak bola.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir juga pernah menyoroti sisi kemanusiaan yang ingin ditampilkan melalui film tersebut. Seperti diberitakan JPNN, ia menyebut dokumenter ini memperlihatkan sisi lain pemain yang tidak selalu terlihat ketika mereka berada di lapangan.

Legenda Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, turut memberikan apresiasi. Dalam pemberitaan Bogor Update, ia menilai film tersebut mampu menggambarkan bagaimana para pemain mengelola ego dan membangun kekuatan kerja sama tim.

Namun, pendekatan human interest yang menjadi kekuatan film ini ternyata tidak sepenuhnya menjawab ekspektasi sebagian penonton.

Minimnya Porsi Shin Tae-yong Jadi Sorotan

Kritik paling banyak dibicarakan berkaitan dengan minimnya kemunculan Shin Tae-yong. Sejumlah unggahan dan komentar di media sosial menyebut STY hanya muncul dalam beberapa bagian singkat, di antaranya saat Timnas Indonesia mengalami kekalahan dari China dan ketika PSSI mengumumkan pemutusannya sebagai pelatih kepala.

Porsi tersebut dianggap tidak sebanding dengan perjalanan panjang STY bersama Timnas Indonesia.

Selama masa kepelatihannya, STY menjadi salah satu figur yang mendapat perhatian dalam perkembangan sepak bola nasional. Salah satu pencapaian yang sering dikaitkan dengan periodenya adalah keberhasilan Indonesia melangkah ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Karena itu, sebagian suporter berharap dokumenter yang mengangkat perjuangan Timnas Indonesia turut memberikan ruang lebih besar untuk merekam proses pembentukan tim pada masa kepelatihannya.

Kritik tersebut bukan hanya menyangkut berapa lama seorang tokoh tampil di layar. Bagi sebagian penonton, dokumenter tentang perjalanan Timnas juga merupakan catatan sejarah yang perlu menggambarkan proses, pergantian fase, serta kontribusi berbagai sosok yang terlibat.

Ketika figur yang dianggap memiliki peran penting hanya muncul sekilas, muncul pertanyaan mengenai kelengkapan narasi yang disajikan.

Rumor Appearance Fee Belum Terbukti

Di tengah polemik tersebut, muncul berbagai spekulasi di media sosial mengenai alasan minimnya porsi STY.

Salah satu isu yang beredar adalah dugaan adanya kendala kesepakatan komersial atau appearance fee, yakni biaya yang berkaitan dengan penggunaan penampilan dan hak citra seseorang dalam sebuah produksi film.

Namun, informasi tersebut masih berupa rumor. Belum ada keterangan resmi dari PSSI maupun pihak produksi Fremantle Indonesia dan Beach House Pictures yang mengonfirmasi bahwa persoalan biaya atau hak citra menjadi penyebab minimnya kemunculan STY.

Karena itu, dugaan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai fakta.

Selain isu komersial, terdapat pula kemungkinan bahwa minimnya porsi seorang tokoh berkaitan dengan pilihan kreatif sutradara. Film dokumenter memiliki keterbatasan durasi sehingga pembuatnya harus menentukan sudut pandang dan materi yang dianggap paling sesuai dengan alur cerita.

Dalam kasus The Longest Wait, pihak produksi sejak awal mengarahkan cerita pada pengalaman personal pemain, tekanan publik, dan pengorbanan keluarga. Pendekatan tersebut berbeda dengan dokumenter yang secara khusus membahas sejarah kepelatihan atau perkembangan taktik sebuah tim.

Meski demikian, pilihan kreatif itu tidak serta-merta menghilangkan pertanyaan penonton mengenai kelengkapan perjalanan Timnas yang hendak direkam.

Penonton Terbelah, Ada yang Tetap Mengapresiasi

Perdebatan mengenai STY membuat respons penonton terhadap The Longest Wait tidak sepenuhnya seragam.

Sebagian penonton mengapresiasi sisi emosional dan sinematografi film. Mereka menilai dokumenter tersebut berhasil memperlihatkan kehidupan pemain di luar lapangan, termasuk dukungan keluarga dan perjuangan menghadapi tekanan sebagai bagian dari Timnas Indonesia.

Namun, kritik juga muncul terhadap penyuntingan dan alur cerita. Sejumlah penonton menilai ada bagian yang terasa kurang runtut, termasuk penggunaan cuplikan pertandingan yang dianggap tidak sepenuhnya sesuai dengan konteks narasi.

Persoalan minimnya porsi STY turut memperkuat kritik mengenai kelengkapan dokumentasi sejarah perjalanan Timnas.

Di media sosial, respons terhadap film ini bahkan memunculkan dua sikap berbeda. Sebagian suporter menyerukan untuk tidak menonton sebagai bentuk kekecewaan terhadap minimnya penghargaan kepada STY. Sementara kelompok lain mengajak publik tetap memberikan dukungan karena film tersebut juga merekam perjuangan para pemain dan menjadi dokumentasi perjalanan sepak bola Indonesia.

Perbedaan respons tersebut memperlihatkan bahwa penonton tidak hanya menilai film dari kualitas visual atau penyuntingannya. Ada pula harapan emosional agar perjalanan panjang Timnas Indonesia diceritakan secara utuh dan memberikan ruang bagi berbagai figur yang pernah berkontribusi.

Hingga informasi yang tersedia dalam bahan pemberitaan ini, belum ada klarifikasi resmi dari PSSI maupun tim produksi yang menjelaskan secara khusus alasan minimnya porsi Shin Tae-yong.

Pada akhirnya, The Longest Wait menghadirkan dua hal sekaligus: dokumentasi perjuangan para pemain Timnas Indonesia dan perdebatan mengenai bagaimana sejarah perjalanan tim nasional seharusnya diceritakan.

Bagi sebagian penonton, kisah perjuangan Garuda tidak hanya tentang pertandingan dan mimpi menuju Piala Dunia, tetapi juga tentang orang-orang yang membangun perjalanan tersebut dari satu fase ke fase berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *