Daerah  

IPB University Bantu KWT dan KTD Mulyaharja Kembangkan Model Bisnis Pertanian

WhatsApp Image 2026 10 25 at 18.14.24
IPB University mendampingi KWT Ciharashas dan KTD di Mulyaharja, Bogor, memetakan potensi usaha pertanian dan menyusun model bisnis melalui BMC. Dok: Istimewa

DINEWS.ID – Kelompok tani di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, didorong untuk mengembangkan usaha pertanian melalui perencanaan bisnis yang lebih terarah. Upaya tersebut dilakukan Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (PPP), Sekolah Vokasi IPB University, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) tahun ketiga.

Program ini menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) Ciharashas serta Kelompok Tani Dewasa (KTD) Lemah Duhur dan Alam Jaya Makmur. Melalui pelatihan pengembangan model bisnis, para peserta diajak memetakan potensi usaha, mengenali calon konsumen, hingga menyusun strategi pemasaran sesuai kondisi kelompok masing-masing.

Salah satu metode yang digunakan adalah Business Model Canvas (BMC), yakni pendekatan untuk memetakan berbagai unsur penting dalam sebuah usaha. Peserta diajak mengidentifikasi produk yang ditawarkan, calon konsumen, potensi pasar, cara mempertahankan pelanggan, kebutuhan sumber daya, aktivitas kelompok, hingga peluang pendapatan.

Pemetaan tersebut membantu kelompok melihat usaha secara lebih menyeluruh, sekaligus mengenali aspek yang masih perlu diperbaiki agar potensi pertanian dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Target Bisnis Jadi Dasar Pengembangan Kelompok

Dalam pelatihan tersebut, Dr.Eng. Henry Kasmanhadi Saputra, S.Pi., M.Si., IPU., dan Widya Hasian Situmeang, S.K.Pm., M.Si., menjadi pemateri yang membahas pengembangan model bisnis dan penguatan kapasitas kelompok.

Henry menekankan bahwa pengembangan bisnis dalam sebuah organisasi perlu diawali dengan target yang jelas. Target tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rencana jangka pendek, menengah, dan panjang agar kegiatan usaha memiliki arah yang terukur.

“Kalau membicarakan bisnis dalam sebuah organisasi, kita harus punya target, Bapak-Ibu. Target tersebut kemudian diturunkan menjadi target jangka pendek, menengah, dan panjang,” jelas Henry.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyelaraskan kerja tim. Dengan arah dan target yang sama, setiap anggota diharapkan dapat berkontribusi dalam menjalankan serta mengembangkan usaha kelompok.

Pendekatan ini menjadi penting karena usaha pertanian kelompok tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk. Pengelolaan organisasi, pembagian peran, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar juga menjadi bagian dari perencanaan bisnis.

KWT Mulyaharja Punya Beragam Potensi Produk

Hasil pemetaan menunjukkan KWT Ciharashas memiliki beragam potensi usaha, mulai dari budidaya dan edukasi pertanian hingga pengolahan hasil pertanian.

Produk yang teridentifikasi antara lain sayuran hidroponik dan konvensional, ikan lele, telur ayam, pisang, bibit tanaman, serta berbagai jenis umbi-umbian. Kelompok ini juga memiliki potensi produk olahan, seperti keripik pisang dan singkong, smoothies pakcoy, nugget lele, manisan pala, peyek, dan nasi kotak.

Calon pasar yang dapat dijangkau juga beragam, mulai dari warga Mulyaharja dan mahasiswa hingga pengunjung kawasan wisata serta pihak yang berkaitan dengan kegiatan pertanian.

Keragaman tersebut membuka peluang bagi kelompok untuk menentukan produk unggulan berdasarkan potensi yang dimiliki dan kebutuhan calon konsumen. Namun, pengembangan usaha juga membutuhkan perhatian terhadap konsistensi kualitas produk, pencatatan keuangan, penguatan merek, serta ketersediaan sarana produksi.

Kebutuhan lahan dan rumah tanam atau greenhouse, serta peningkatan keterampilan dalam mengelola usaha, turut menjadi aspek yang dapat dipertimbangkan dalam rencana pengembangan KWT.

Dengan pemetaan yang lebih terstruktur, kelompok diharapkan dapat menentukan prioritas usaha dan mengidentifikasi kebutuhan yang perlu dipenuhi untuk meningkatkan kapasitas produksi maupun pemasaran.

KTD Didorong Perluas Strategi Pemasaran

Sementara itu, KTD Lemah Duhur dan Alam Jaya Makmur memiliki potensi usaha yang bertumpu pada berbagai komoditas pertanian. Hasil pemetaan mencakup bayam, kangkung, talas, padi, kacang panjang, nilam, ubi jalar, singkong, hingga cabai rawit.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pemasaran sejumlah komoditas yang masih mengandalkan pengepul. Kondisi ini menjadi peluang bagi kelompok untuk mengevaluasi strategi pemasaran, memperluas akses kepada calon pembeli, serta menyesuaikan pengelolaan hasil panen dengan kebutuhan pasar.

Selain potensi komoditas, KTD juga memiliki modal sosial yang mendukung kegiatan pertanian. Pertemuan rutin dan gotong royong, termasuk upaya memperbaiki irigasi, menjadi bagian dari aktivitas kelompok.

Ketersediaan peralatan seperti traktor, pacul, koret, parang, dan arit juga mendukung kegiatan budidaya. Meski demikian, kelompok masih perlu memperhatikan penguatan permodalan, pengetahuan manajemen organisasi, promosi, serta pengelolaan usaha.

Pemetaan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi kelompok untuk melihat peluang pengembangan yang realistis, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Dengan demikian, potensi komoditas yang sudah dimiliki dapat dikelola melalui perencanaan yang lebih terarah.

Libatkan Pemerintah Kelurahan dan Tim Dosen

Kegiatan pelatihan turut dihadiri Lurah Mulyaharja Muslim Yuliantono dan Sekretaris Kelurahan Mulyaharja Taufik Hidayat yang mewakili pemerintah kelurahan.

Kehadiran perwakilan pemerintah setempat menjadi bagian dari keterlibatan pemangku kepentingan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi lokal.

Pelaksanaan program juga melibatkan tim dosen Program Studi PPP, Sekolah Vokasi IPB University, yakni Ratih Kemala Dewi, S.P., M.Si., Ph.D.; Restu Puji Mumpuni, S.P., M.Si.; Dr.Eng. Henry Kasmanhadi Saputra, S.Pi., M.Si., IPU.; Tri Budiarto, S.K.Pm., M.Si.; Agief Julio Pratama, S.P., M.Si.; Widya Hasian Situmeang, S.K.Pm., M.Si.; Muhammad Iqbal Nurulhaq, M.Si.; dan Ririh Sekar Mardisiwi, M.Si.

Kegiatan ini turut didukung Sylvina Azkyah sebagai pembawa acara dan co-fasilitator, Widya Hasian Situmeang sebagai fasilitator, serta Revalina Sulaeman, Alleta Aurel Kanayla, dan Muhammad Arif Rahman sebagai asisten.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat tersebut, hasil pemetaan model bisnis diharapkan menjadi dasar bagi KWT Ciharashas dan KTD Lemah Duhur serta Alam Jaya Makmur dalam menentukan prioritas pengembangan usaha.

Penguatan perencanaan, kerja sama anggota, dan strategi pemasaran diharapkan membantu kelompok mengoptimalkan potensi pertanian yang dimiliki sekaligus mendorong keberlanjutan usaha masyarakat di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *