DINEWS.ID – Aksi demonstrasi yang digelar oleh aliansi mahasiswa dari GMKI dan PMKRI Cabang Bogor di Gedung DPRD Kota Bogor, Jumat (19/6/), sempat diwarnai kericuhan.
Ketegangan memuncak hingga memicu dugaan tindakan represif dari aparat keamanan saat massa aksi memaksa merangsek masuk dan naik ke lantai atas gedung untuk menemui perwakilan dewan.
Situasi di lapangan mulai tidak kondusif saat mahasiswa yang tertahan di pintu masuk terlibat aksi saling dorong dengan petugas kepolisian dan Satpol PP yang berjaga. Massa menilai upaya mereka untuk menyalurkan aspirasi secara langsung justru direspons dengan tindakan penghalauan yang berlebihan oleh petugas keamanan.
Dalam aksi bertajuk “Indonesia Menuju Krisis” tersebut, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan krusial. Di antaranya adalah penolakan pemborosan APBN, penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG), penurunan harga BBM, penolakan militerisme di ranah sipil, serta penolakan terhadap revisi Undang-Undang Polri.
Sejumlah peserta unjuk rasa mengaku mendapatkan perlakuan fisik saat mencoba menerobos barikade penjagaan. Ketua PMKRI IPB, Andrew Leo Wijaya, menyayangkan lambannya respons dari pihak dewan dan menyoroti tajam tindakan represif yang dilakukan oleh oknum aparat di baris depan pengetatan.
”Saya sendiri mengalami tendangan tersebut. Terjadi aksi dorong-dorongan. Padahal posisi kami sudah mundur, tetapi teman-teman tetap didorong sampai ke tembok dan dihimpit di sana. Aparat keamanan yang seharusnya mengamankan situasi, dalam hal ini justru menyerang dan menendang,” ujar Andrew.
Merespons rentetan ketegangan fisik yang terjadi di area gedung legislatif tersebut, pihak kepolisian langsung memberikan klarifikasi terbuka setelah situasi di lokasi berangsur-angsur mereda.
”Saya mewakili aparat yang bertugas menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang tidak diinginkan tersebut,” pungkas Kabag Ops Polresta Bogor Kota, Kompol A. Nana Suryadi. (Yis)













