DINEWS.ID – Proses perbaikan infrastruktur pascabencana di kawasan Jalan Kebon Pedes, Kota Bogor, akhirnya resmi dimulai. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengucurkan anggaran sebesar Rp5,4 miliar untuk membangun Dinding Penahan Tanah (DPT) di titik longsoran rawan tersebut, Rabu (17/6/).
Kepastian pengerjaan fisik ini menyusul ditandatanganinya Surat Perintah Kerja (SPK) serta serah terima lokasi proyek kepada pihak kontraktor pelaksana. Pemerintah Kota Bogor melayangkan usulan resmi ke tingkat provinsi, mengingat kewenangan pengelolaan jalur tersebut berada di bawah Pemprov Jabar sejak bencana longsor pertama kali terjadi pada 15 Januari 2026 lalu.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat meninjau langsung lokasi longsoran, menyampaikan apresiasinya atas respons cepat jajaran pemerintah provinsi. Ia juga meminta masyarakat untuk memaklumi proses administrasi pengalokasian anggaran yang membutuhkan waktu sebelum pengerjaan di lapangan bisa dieksekusi.
”Alhamdulillah, respons dari Pemprov sangat baik dan hari ini sudah ditandatangani Surat Perintah Kerja (SPK) untuk pelaksanaan konstruksi di lapangan, sekaligus dilakukan serah terima lokasi pekerjaan kepada pihak kontraktor. Artinya, proyek ini sudah siap untuk digarap,” ujar Dedie A. Rachim di Jalan Kebon Pedes, Rabu (17/6).
Konstruksi fisik penanganan longsor jangka panjang ini ditargetkan memakan waktu selama 150 hari kalender. Proyek ini akan mengaplikasikan struktur DPT mutakhir yang mengombinasikan penguatan beton di bagian bawah dengan pemasangan bronjong kawat penahan batu, menggunakan material urukan pilihan (granular soil), serta penataan sistem drainase jalur air agar tidak tersumbat.
Di sela-sela peninjauan, Dedie juga memberikan edukasi keras mengenai perilaku masyarakat yang sering kali memicu terjadinya bencana abrasi tanah di lereng-lereng tebing, salah satunya akibat tumpukan sampah liar.
”Salah satu penyebab utama longsor di area tebingan adalah kebiasaan buruk menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan sampah liar. Tumpukan sampah yang menggunung di lereng tebing dapat menghalangi dan menghambat jalur alami mengalirnya air. Akibatnya, tekanan air terhadap dinding tanah menjadi sangat besar dan akhirnya memicu tanah abrasi lalu ambrol,” tegas Dedie.
Di sisi lain, karena Jalan Kebon Pedes merupakan salah satu jalan tersibuk di Kota Bogor yang padat baik siang maupun malam, pihak kontraktor dipastikan akan bekerja secara paralel demi mengejar target 150 hari selesai.
Dedie mengatakan, konsekuensinya, kenyamanan berkendara masyarakat akan sedikit terganggu dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah Kota Bogor sendiri telah menyiapkan beberapa alternatif jalur pengalihan arus. Selain itu, skema sistem buka-tutup jalur akan mulai diterapkan secara kondisional di lapangan, terutama saat mobilisasi alat-alat berat masuk ke area konstruksi.
”Namanya juga sedang ada pekerjaan konstruksi demi kebaikan bersama. Waktu pengerjaannya terbatas dan biayanya pun mahal, jadi dukungan dari masyarakat sangat kami butuhkan. Mau tidak mau, skema sistem buka-tutup jalur akan kami terapkan secara kondisional, terutama pada saat alat-alat berat mulai masuk ke lokasi proyek,” pungkas Dedie. (Yis)













