DINEWS.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) merespons video viral di media sosial yang memperlihatkan petani menggunakan paracetamol dan vitamin B kompleks untuk menyuburkan tanaman cabai.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Agung Sanusi, menegaskan hingga saat ini belum ada rekomendasi resmi maupun bukti ilmiah yang memadai untuk mendukung penggunaan obat-obatan yang diperuntukkan bagi manusia sebagai sarana budidaya tanaman cabai.
“Penggunaan obat-obatan yang diperuntukkan bagi manusia, seperti paracetamol maupun vitamin B kompleks untuk tanaman belum memiliki rekomendasi resmi dalam praktik budidaya cabai di Indonesia,” kata Agung, Sabtu (20/6).
Menurutnya, fenomena tersebut kemungkinan muncul dari pengalaman empiris sebagian petani atau informasi yang berkembang di media sosial. Namun, efektivitas penggunaan paracetamol untuk meningkatkan produktivitas cabai belum terbukti secara konsisten, aman, dan ekonomis di lapangan.
Karena itu, Kementan menegaskan praktik tersebut tidak dapat dijadikan acuan dalam budidaya tanaman yang direkomendasikan pemerintah.
Kementan Ingatkan Potensi Risiko
Agung menjelaskan, penggunaan obat manusia pada tanaman tanpa dasar ilmiah dan pengawasan berpotensi menimbulkan sejumlah risiko.
Mulai dari kemungkinan residu senyawa farmasi pada lingkungan, gangguan terhadap keseimbangan mikroorganisme tanah, hingga munculnya persepsi keliru bahwa obat manusia dapat menggantikan pupuk atau sarana pertanian yang telah melalui proses registrasi dan pengujian.
Selain itu, praktik tersebut juga berpotensi menambah biaya produksi petani karena manfaatnya belum terbukti secara ilmiah.
“Kami mengimbau petani tetap menggunakan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang telah terdaftar serta memiliki dasar ilmiah dan izin edar untuk sektor pertanian,” ujarnya.
Agung juga mengungkapkan sejumlah penelitian internasional menunjukkan tanaman dapat menyerap paracetamol dari media tanam dan mengakumulasikannya pada jaringan tanaman dalam kondisi tertentu. Namun penelitian tersebut masih dilakukan dalam skala laboratorium dan belum menjadi dasar rekomendasi penggunaan pada tanaman pangan.
Dipicu Harga Pupuk Mahal?
Dalam video yang viral, petani mengaku menggunakan paracetamol karena harga pupuk dinilai semakin mahal. Menanggapi hal itu, Kementan mengakui fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi harga sebagian bahan baku pupuk dan pestisida.
Meski demikian, pemerintah menyatakan terus berupaya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan sarana produksi pertanian melalui koordinasi dengan produsen, distributor, dan pemerintah daerah.
Agung menegaskan, penggunaan paracetamol dan vitamin B kompleks sebagai alternatif pupuk sebaiknya tidak dipopulerkan sebelum tersedia penelitian yang komprehensif mengenai efektivitas, keamanan, dampak lingkungan, serta potensi residu pada hasil panen.
“Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan sarana produksi pertanian,” katanya. (Red)







