Perundungan Bisa Mengubah Cara Remaja Memandang Diri, Ini Cara Melindungi Identitasnya

pexels mikhail nilov 7929736
Ilustrasi dampak perundungan pada remaja. Dok: pexels-mikhail-nilov-7929736

DINEWS.ID — Perundungan atau bullying bukan sekadar persoalan ejekan, hinaan, maupun perlakuan tidak menyenangkan di lingkungan sekolah. Jika terjadi berulang kali, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara remaja memandang dan menilai dirinya sendiri.

Komentar negatif tentang penampilan, kepribadian, hingga perilaku bisa perlahan tertanam dalam pikiran korban. Remaja yang terus-menerus menerima perlakuan tersebut berisiko mulai mempertanyakan siapa dirinya dan apakah penilaian buruk dari orang lain memang benar.

Namun, pengalaman menyakitkan tidak harus menjadi gambaran permanen tentang diri seseorang. Sebuah penelitian yang melibatkan 310 remaja di Curitiba, Brasil, menunjukkan pentingnya kemampuan seseorang untuk tetap merasa terhubung dengan dirinya pada masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Konsep psikologi tersebut dikenal sebagai self-continuity atau kesinambungan diri. Gagasan ini dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang perlu memahami bahwa dirinya jauh lebih luas daripada pengalaman buruk yang sedang dihadapi.

Temuan tersebut dibahas oleh Sheri McVay, mahasiswa doktoral, dan Jonathan Santo, profesor di Departemen Psikologi University of Nebraska at Omaha, dalam artikel yang diterbitkan pada 20 Oktober 2026.

Masa Remaja Menjadi Periode Penting Pembentukan Identitas

Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mengalami perubahan fisik, sosial, kognitif, dan psikologis. Minat berkembang, lingkungan pergaulan semakin luas, sementara nilai, tujuan, kemampuan, serta gambaran tentang masa depan mulai terbentuk.

Dalam proses tersebut, hubungan dengan teman sebaya memiliki peran penting. Pertemanan dapat memberikan dukungan, rasa diterima, dan kesempatan bagi remaja untuk mengenali dirinya.

Sebaliknya, pengalaman perundungan dapat memberikan pesan yang berbeda. Remaja yang berulang kali menerima komentar menyakitkan mengenai penampilan atau kepribadiannya bisa mulai menginternalisasi perkataan tersebut.

Misalnya, seseorang yang terus-menerus disebut tidak menarik, tidak pintar, atau tidak pantas berteman dapat mulai mempercayai penilaian itu. Padahal, komentar tersebut merupakan perlakuan dari orang lain, bukan gambaran utuh tentang dirinya.

Situasi ini menjadi penting karena remaja sedang berada dalam tahap membangun dan memperkuat identitas. Penilaian dari lingkungan sekitar dapat memengaruhi cara mereka memahami siapa dirinya dan bagaimana mereka melihat masa depan.

Apa Itu Self-Continuity dan Mengapa Penting?

Para peneliti menjelaskan bahwa self-continuity merupakan pemahaman subjektif bahwa diri seseorang pada masa lalu, sekarang, dan masa depan tetap saling terhubung.

Konsep ini bukan berarti seseorang harus menjadi pribadi yang sama sepanjang hidup. Perubahan justru merupakan bagian alami dari pertumbuhan, terlebih selama masa remaja.

Seseorang bisa memiliki minat baru, mengubah kebiasaan, mengembangkan kemampuan, bahkan memiliki pandangan hidup yang berbeda seiring bertambahnya usia.

Namun, di tengah perubahan tersebut, tetap ada hubungan antara siapa dirinya dahulu, siapa dirinya sekarang, dan sosok yang ingin dibangun pada masa depan.

Kesinambungan diri membantu seseorang melihat kehidupannya sebagai sebuah perjalanan, bukan hanya berdasarkan keadaan yang sedang dialami.

Dalam konteks perundungan, pemahaman ini dapat memberikan perspektif yang lebih luas. Remaja mungkin sedang mengalami penolakan atau perlakuan buruk, tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis menentukan seluruh identitasnya.

Dengan kata lain, ada perbedaan antara mengalami sesuatu yang menyakitkan dan menganggap pengalaman tersebut sebagai definisi diri.

Penelitian terhadap 310 Remaja Temukan Hubungan dengan Perundungan

Dalam penelitian yang dilakukan selama satu tahun ajaran terhadap 310 remaja di Curitiba, Brasil, para peneliti mengamati hubungan antara pengalaman menjadi korban perlakuan negatif dari teman sebaya dan kesinambungan diri.

Hasilnya menunjukkan bahwa remaja yang mengalami viktimisasi oleh teman sebaya selama tahun ajaran tertentu melaporkan tingkat self-continuity yang lebih lemah pada tahun ajaran berikutnya.

Para peneliti mengukur kesinambungan diri melalui tiga pertanyaan. Pertanyaan tersebut menilai sejauh mana remaja merasa tetap menjadi orang yang sama dari waktu ke waktu meskipun mengalami berbagai perubahan.

Penelitian itu juga menemukan bahwa remaja dengan tingkat kesinambungan diri lebih kuat cenderung tidak menyetujui penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.

Salah satu contoh pernyataan yang digunakan untuk mengukur penilaian diri negatif adalah, “Jika bisa, saya ingin mengubah banyak hal tentang diri saya.”

Temuan tersebut memperlihatkan adanya hubungan antara pengalaman perundungan, kesinambungan diri, dan cara remaja menilai dirinya.

Peneliti juga menemukan sejumlah bukti mengenai kemungkinan adanya pengaruh tidak langsung. Pengalaman menjadi korban perundungan sebelumnya diduga dapat berkaitan dengan penilaian diri yang lebih negatif pada kemudian hari melalui melemahnya kesinambungan diri.

Meski demikian, hasil penelitian ini tidak berarti bahwa setiap remaja yang mengalami perundungan pasti memiliki pandangan negatif terhadap dirinya. Temuan tersebut menunjukkan hubungan yang perlu dipahami dalam konteks perkembangan psikologis remaja.

Pengalaman Buruk Tidak Harus Menentukan Masa Depan

Mengapa hubungan dengan diri sendiri pada masa lalu dan masa depan menjadi penting?

Salah satu penjelasan yang diajukan peneliti adalah bahwa self-continuity membantu seseorang melihat pengalaman saat ini dari sudut pandang yang lebih luas.

Remaja yang mengalami perundungan mungkin merasa terluka, ditolak, atau dikucilkan. Dalam situasi tersebut, keadaan sekarang bisa terasa seolah-olah akan berlangsung selamanya.

Namun, ketika seseorang mampu menghubungkan pengalaman sekarang dengan perjalanan hidupnya secara keseluruhan, pengalaman buruk dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari cerita hidup, bukan sebagai gambaran permanen tentang dirinya.

Seorang remaja yang pernah diejek, misalnya, tetap memiliki kenangan tentang hal-hal yang disukai, kemampuan yang pernah dikembangkan, hubungan baik dengan orang lain, serta cita-cita yang ingin diwujudkan.

Hal-hal tersebut dapat membantu mengingatkan bahwa dirinya tidak hanya terdiri dari pengalaman perundungan.

Pengalaman sulit memang bisa meninggalkan bekas. Akan tetapi, pengalaman tersebut tidak menghapus siapa seseorang sebelum kejadian itu dan tidak otomatis menentukan siapa dirinya pada masa mendatang.

Bagaimana Orang Tua dan Guru Membantu Memperkuat Identitas Remaja?

Penelitian tersebut juga membahas kemungkinan untuk memperkuat kesinambungan diri pada remaja. Salah satu pendekatan yang dinilai menarik adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk membayangkan hubungan antara diri saat ini dan diri pada masa depan.

Sebuah studi percontohan dari peneliti lain, sebagaimana dibahas dalam artikel tersebut, menggunakan latihan menulis surat untuk diri sendiri pada masa depan. Siswa juga diminta menulis dari sudut pandang diri mereka yang dibayangkan berada pada masa depan.

Latihan itu mendorong siswa memikirkan hubungan antara siapa mereka sekarang dan sosok yang ingin mereka capai kelak.

Hasil studi percontohan tersebut menunjukkan penguatan orientasi masa depan dan keterkaitan dengan perencanaan akademik serta karier yang lebih baik.

Meski penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana pendekatan tersebut dapat membantu remaja yang mengalami perundungan, gagasannya dapat menjadi titik awal bagi orang tua, guru, dan konselor.

Mereka dapat membantu remaja melihat dirinya secara lebih utuh melalui percakapan sederhana, misalnya dengan mengajak mereka mengingat pengalaman positif, mengenali nilai yang tetap dipegang, serta membayangkan tujuan yang ingin dicapai.

Berikut beberapa pertanyaan reflektif yang dapat digunakan untuk membantu remaja menghubungkan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan:

  1. Jika mengingat beberapa tahun lalu, sifat, nilai, atau minat apa yang masih menjadi bagian penting dari dirimu sekarang?
  2. Pengalaman sulit apa yang pernah kamu lewati dan mengingatkan bahwa kamu memiliki kemampuan untuk bertahan?
  3. Ketika membayangkan dirimu beberapa tahun mendatang, bagian apa dari dirimu saat ini yang ingin tetap kamu pertahankan?
  4. Apa yang ingin kamu ubah atau kembangkan pada masa depan, dan langkah kecil apa yang bisa mulai dilakukan sekarang?

Pertanyaan tersebut bukan untuk mengabaikan rasa sakit yang dialami remaja. Sebaliknya, percakapan ini dapat membuka ruang bagi mereka untuk mengenali kekuatan, pengalaman, dan harapan yang masih dimiliki.

Remaja Perlu Diingatkan bahwa Dirinya Lebih dari Pengalaman Buruk

Bagi remaja, persoalan yang terjadi saat ini terkadang terasa sangat besar. Penolakan, ejekan, atau pelecehan dari teman sebaya bisa membuat mereka merasa tidak memiliki tempat dalam lingkungan pergaulan.

Namun, satu pengalaman buruk tidak seharusnya menjadi ukuran untuk menilai seluruh kehidupan seseorang.

Orang tua dan guru memiliki peran untuk membantu remaja memahami bahwa mereka tetap memiliki nilai, kemampuan, dan kesempatan untuk berkembang. Dukungan tersebut juga perlu disertai perhatian terhadap perundungan yang terjadi agar korban tidak dibiarkan menghadapi masalah sendirian.

Gagasan self-continuity memberikan perspektif bahwa identitas seseorang terus berkembang. Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan saling terhubung, tetapi tidak harus selalu ditentukan oleh satu kejadian.

Remaja boleh mengakui bahwa dirinya pernah terluka tanpa harus menganggap luka itu sebagai keseluruhan identitasnya.

Sebab, pengalaman sulit bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup, tetapi bukan penentu tunggal tentang siapa mereka dan akan menjadi seperti apa pada masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *