DINEWS.ID – Di tengah rutinitas yang padat dan kebiasaan menatap layar sepanjang hari, meluangkan waktu untuk menikmati alam bisa menjadi cara sederhana untuk mengistirahatkan pikiran. Salah satu praktik yang mulai banyak dikenal adalah forest bathing atau mandi hutan.
Meski disebut mandi, aktivitas ini tidak mengharuskan seseorang menyentuh air atau melakukan kegiatan fisik tertentu. Forest bathing merupakan praktik relaksasi dengan menghabiskan waktu di lingkungan hutan, memperhatikan suasana sekitar, serta melibatkan pancaindra untuk merasakan kehadiran alam.

Praktik yang berasal dari Jepang ini dikenal dengan istilah shinrin-yoku. Caranya cukup sederhana, yakni berjalan perlahan di antara pepohonan, mengamati warna daun, mendengarkan suara burung, mencium aroma tanah dan tumbuhan, serta menikmati udara di sekitar.
Menurut panduan Forestry England, kegiatan ini dapat membantu orang dewasa maupun anak-anak mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan melalui pengalaman yang lebih dekat dengan alam.
Tidak Perlu Terburu-buru Saat Menikmati Hutan
Salah satu prinsip utama forest bathing adalah memperlambat aktivitas. Berbeda dengan hiking yang umumnya berorientasi pada jarak atau tujuan perjalanan, forest bathing lebih menekankan pengalaman selama berada di alam.
Karena itu, pengunjung tidak perlu berjalan cepat atau mengejar target tertentu. Cobalah bergerak perlahan agar lebih mudah memperhatikan hal-hal kecil yang sering terlewatkan.
Matikan atau jauhkan perangkat elektronik untuk sementara waktu. Dengan mengurangi gangguan notifikasi, perhatian bisa lebih terarah pada lingkungan sekitar.
Sesekali, berhentilah untuk duduk atau berdiri dengan tenang. Perhatikan aroma yang tercium, suara yang terdengar, serta perubahan cahaya di antara pepohonan.
Latihan pernapasan juga bisa dilakukan. Tarik napas secara perlahan hingga terasa mencapai bagian perut, kemudian embuskan lebih panjang. Dalam panduan Forestry England, memperpanjang embusan napas hingga sekitar dua kali durasi tarikan napas dapat membantu tubuh memasuki kondisi lebih rileks.
Libatkan Pancaindra untuk Merasakan Alam
Forest bathing bukan sekadar berjalan di bawah pepohonan. Pengalaman ini mengajak seseorang menggunakan seluruh pancaindra untuk mengenali lingkungan.
Ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba:
- Penglihatan: Perhatikan warna hijau dedaunan, bentuk batang pohon, cahaya matahari, hingga detail kecil pada tumbuhan.
- Pendengaran: Dengarkan suara burung, gesekan daun, aliran air, atau suara alam lainnya.
- Penciuman: Kenali aroma tanah, dedaunan, bunga, dan udara hutan.
- Perabaan: Rasakan tekstur daun atau permukaan batang pohon dengan tetap memperhatikan keamanan dan tidak merusak tanaman.
- Pengecapan: Jika ingin mencoba sesuatu dari alam, pastikan makanan atau tumbuhan tersebut benar-benar aman dan dikenali. Jangan sembarangan mencicipi tanaman liar.
Selain itu, cobalah duduk diam sambil mengamati lingkungan. Hindari terlalu sibuk memikirkan pekerjaan, daftar tugas, atau persoalan sehari-hari selama waktu relaksasi tersebut.
Panduan Forestry England juga menyebutkan bahwa warna alam, terutama hijau dan biru, dapat memberikan suasana yang menenangkan. Mengamati detail lingkungan sekitar bisa menjadi bagian dari pengalaman mindfulness.
Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan?
Bagi pemula, forest bathing tidak harus langsung dilakukan dalam waktu lama. Mulailah dengan durasi yang terasa nyaman, kemudian tingkatkan secara bertahap.
Forestry England merekomendasikan waktu hingga dua jam untuk mendapatkan pengalaman forest bathing secara lengkap. Namun, pemula dapat memulainya dengan sesi yang lebih singkat agar tubuh dan pikiran terbiasa menikmati suasana alam tanpa tekanan.
Mencatat pengalaman setelah kegiatan juga bisa menjadi kebiasaan menarik. Tuliskan hal-hal yang dilihat, suara yang didengar, aroma yang dirasakan, atau perubahan suasana hati setelah menghabiskan waktu di alam.
Catatan tersebut dapat membantu seseorang mengingat kembali pengalaman dan mengenali hal-hal sederhana yang membuat dirinya merasa lebih tenang.
Anak-anak Juga Bisa Mencoba Forest Bathing
Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa. Anak-anak juga dapat diajak menikmati alam melalui aktivitas sederhana, seperti mengamati bentuk daun, mencari suara burung, atau mengenali berbagai jenis tumbuhan.
Selain menjadi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama, kegiatan tersebut dapat membantu anak belajar berkonsentrasi dan mengenal lingkungan.
Meski demikian, anak-anak perlu didampingi orang dewasa selama berada di kawasan hutan. Perhatikan pula keberadaan tanaman berduri, jelatang, serangga, serta kondisi jalur yang dilalui agar kegiatan tetap aman.
Tidak Harus Selalu Pergi ke Hutan
Bagi yang tinggal di perkotaan atau kesulitan menjangkau kawasan hutan, pengalaman menikmati alam tetap bisa dimulai dari lingkungan yang tersedia.
Taman kota, kebun, kawasan pepohonan, atau ruang terbuka hijau dapat menjadi tempat untuk mencoba aktivitas serupa. Bahkan, Forestry England menyediakan galeri virtual yang memungkinkan masyarakat menikmati gambar suasana hutan dari rumah.
Meski pengalaman langsung tentu berbeda, melihat gambar lingkungan hutan juga dapat menjadi cara sederhana untuk menghadirkan suasana alam di tengah kesibukan.
Jika memungkinkan, pilih waktu yang relatif sepi agar suasana lebih tenang. Pagi hari saat akhir pekan atau sore pada hari kerja bisa menjadi pilihan, selama kondisi lokasi aman dan sesuai untuk dikunjungi.
Pada akhirnya, forest bathing mengingatkan bahwa menikmati alam tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh, perlengkapan khusus, atau aktivitas yang melelahkan. Terkadang, memberi waktu bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, bernapas lebih tenang, dan memperhatikan lingkungan sekitar sudah menjadi langkah sederhana untuk melepas penat.













