DINEWS.ID – Masa depan pencak silat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet di gelanggang. Di balik setiap pesilat yang berprestasi, ada pelatih yang membimbing teknik, membangun mental, dan menjaga kualitas latihan. Karena itu, peningkatan kompetensi pelatih menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat pembinaan pencak silat di Indonesia.
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) menggelar Pelatihan Pelatih Nasional Pencak Silat Tingkat Muda (III) di Ole Suites Hotel, Sentul, Bogor, pada 21-25 Oktober 2026.
Sebanyak 44 peserta dari wilayah Sumatra dan Jawa mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapat kesempatan meningkatkan kompetensi kepelatihan sekaligus mempersiapkan diri untuk berkontribusi lebih besar dalam pembinaan pencak silat di daerah masing-masing.
Pelatihan yang diberitakan Kemenpora pada Rabu, 28 Oktober 2026, itu dibuka oleh Plt. Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Setiyana Djafar. Hadir pula Sekretaris Jenderal PB IPSI Abdul Karim Al Jufri dan praktisi sekaligus narasumber Ferry Hendarsin.
Bagi para pelatih, pelatihan dan sertifikasi bukan hanya menjadi kesempatan untuk menambah pengetahuan. Keduanya juga dapat menjadi bagian dari perjalanan profesional agar kemampuan yang dimiliki semakin diakui dan bisa dikembangkan ke jenjang berikutnya.
Sertifikasi Jadi Bekal Karier Pelatih
Sekretaris Jenderal PB IPSI Abdul Karim Al Jufri menegaskan pentingnya pelatihan dan sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi pelatih pencak silat. Menurutnya, pengalaman melatih di daerah perlu disertai pengakuan kompetensi agar pelatih memiliki kesempatan berkembang lebih luas.
“Sehebat apa pun melatih di daerah, tanpa label pelatih nasional, kalian hanya mentok sampai di daerah,” ujar Abdul Karim.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya jalur peningkatan kapasitas bagi para pelatih. Pengalaman di gelanggang menjadi bekal, tetapi proses belajar dan sertifikasi juga diperlukan untuk membuka peluang pengembangan karier.
Abdul Karim menjelaskan, pelatih memiliki peran penting dalam mendukung tiga agenda PB IPSI. Agenda tersebut meliputi mendorong pencak silat masuk Olimpiade, mengembangkan pencak silat sebagai daya tarik wisata budaya, serta memperkuat pembinaan melalui pendidikan.
Ketiga agenda itu membutuhkan pembinaan yang berkelanjutan. Kualitas pelatih menjadi salah satu unsur yang perlu diperhatikan agar pencak silat dapat terus berkembang, baik sebagai cabang olahraga prestasi maupun sebagai bagian dari budaya Indonesia.
Pelatih Dibutuhkan untuk Pembinaan di Sekolah
Kebutuhan terhadap pelatih pencak silat juga diperkirakan meningkat seiring rencana penerapan pencak silat sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah nasional terintegrasi.
Abdul Karim menyampaikan bahwa setiap sekolah membutuhkan pelatih laki-laki dan perempuan. Karena itu, perguruan pencak silat didorong untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pelatihan kepelatihan.
Dari 44 peserta yang mengikuti pelatihan di Sentul, baru lima orang di antaranya merupakan perempuan. Jumlah tersebut menjadi perhatian PB IPSI untuk mendorong semakin banyak perempuan mengikuti program peningkatan kompetensi pelatih.
Keterlibatan pelatih perempuan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pembinaan di sekolah. Dengan semakin banyaknya pelatih yang memiliki kompetensi, kesempatan untuk memperkenalkan dan mengembangkan pencak silat melalui kegiatan pendidikan juga dapat diperluas.
Abdul Karim turut mengingatkan seluruh peserta agar terbuka terhadap ilmu baru dan terus belajar. Ia menekankan bahwa kegiatan pelatihan harus berlangsung dalam lingkungan yang aman serta bebas dari pelecehan.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam proses peningkatan kualitas kepelatihan. Selain kemampuan teknis, lingkungan belajar yang aman juga diperlukan agar peserta dapat mengikuti kegiatan dan mengembangkan kompetensinya dengan baik.
Tiga hingga Lima Peserta Berpeluang Ikut Pelatihan Lanjutan
Plt. Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Setiyana Djafar, menegaskan bahwa sertifikasi menjadi bukti kompetensi sekaligus dorongan bagi pelatih untuk terus memperbarui pengetahuan.
Ia meminta para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan disiplin dan menerapkan ilmu yang diperoleh setelah kembali ke daerah masing-masing.
Menurut Setiyana, pencak silat termasuk salah satu dari 21 cabang olahraga unggulan yang diharapkan dapat menembus Olimpiade. Peningkatan kualitas pelatih menjadi bagian penting dari upaya pembinaan atlet untuk mendukung harapan tersebut.
Agar penerapan hasil pelatihan dapat dipantau, peserta akan dibekali buku saku. Melalui buku itu, mereka diminta mencatat kegiatan kepelatihan dan menyampaikan laporan bulanan dari daerah masing-masing.
Dengan mekanisme tersebut, pelatihan tidak berhenti ketika peserta menyelesaikan kegiatan di Sentul. Penerapan ilmu di daerah juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam evaluasi.
Hasil evaluasi nantinya menjadi pertimbangan bagi tiga hingga lima peserta terbaik untuk mengikuti pelatihan berikutnya. Mereka berpeluang melanjutkan ke jenjang Madya dan Utama, hingga pelatihan internasional, sesuai hasil evaluasi dan persyaratan yang berlaku.
Setiyana juga mengingatkan pentingnya kemampuan bahasa Inggris bagi pelatih yang ingin mengikuti program kepelatihan di luar negeri.
Kesempatan melanjutkan pelatihan itu menjadi salah satu jalur pengembangan bagi peserta yang mampu menunjukkan hasil sesuai kriteria. Namun, kelanjutan ke jenjang berikutnya tetap bergantung pada evaluasi dan persyaratan yang ditetapkan.
Pelatih Diminta Tidak Pelit Ilmu
Kemenpora berharap para peserta tidak hanya membawa pulang sertifikat atau pengetahuan baru untuk kepentingan pribadi. Mereka juga diharapkan menjadi penggerak peningkatan kualitas kepelatihan di perguruan dan daerah masing-masing.
Setiyana mendorong peserta membagikan ilmu yang diperoleh kepada pelatih lainnya. Dengan cara itu, manfaat pelatihan dapat menjangkau lebih banyak orang dan mendukung pembinaan yang lebih luas.
“Jangan pelit ilmu. Mari jadikan kegiatan ini upaya membangun sistem pembinaan di daerah,” ujar Setiyana saat membuka pelatihan secara resmi.
Pelatihan ini turut menghadirkan praktisi, akademisi, dan tenaga ahli di bidang pencak silat serta ilmu keolahragaan. Di antara narasumber yang terlibat adalah Ferry Hendarsin, Prof. Dr. Awan Hariano, Dr. Haris Nugroho, Prof. Dr. Johansyah Lubis, Dr. Indro CH, dan Dr. Hendro Wardoyo, bersama sejumlah narasumber lainnya.
Melalui peningkatan kompetensi, pemantauan penerapan ilmu, dan kesempatan mengikuti pelatihan lanjutan, program ini diarahkan untuk memperkuat kualitas pelatih pencak silat di daerah.
Pada akhirnya, pengembangan pencak silat membutuhkan proses pembinaan yang tidak terputus. Pelatih yang terus belajar dan berbagi pengetahuan dapat mengambil peran penting dalam menyiapkan atlet, memperluas pembinaan di sekolah, serta menjaga keberlanjutan pencak silat sebagai olahraga dan warisan budaya Indonesia.








