DINEWS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) kembali menguat seiring dengan penguatan di pasar saham yang mencatat kenaikan selama 10 hari berturut-turut.
Pada perdagangan Jumat (18/7/2025), rupiah ditutup menguat 44 poin atau 0,27% ke level Rp 16.296 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun 0,37% menjadi 98,37. Sebelumnya, pada Kamis (17/7/2025), rupiah sempat ditutup melemah 53,5 poin (0,33%) ke level Rp 16.340 per dolar AS.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh sikap hati-hati pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) usai data indeks harga konsumen (IHK) AS menunjukkan angka sedikit di atas ekspektasi.
“Data itu menyoroti dampak awal tarif yang diberlakukan pemerintahan Trump,” ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, data IHK memperkuat pandangan bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, seiring inflasi yang masih stagnan dan kekhawatiran penerapan tarif lebih awal.
Di sisi lain, ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell turut menjadi perhatian pasar. Trump, pada Rabu (16/7/2025), menolak klaim bahwa dirinya berencana mencopot Powell, tetapi tidak sepenuhnya menutup kemungkinan tersebut.
“Investor semakin waspada, terutama dengan tenggat waktu 1 Agustus terkait kebijakan tarif yang semakin dekat,” tambah Ibrahim.
Ia menambahkan, ketidakpastian kebijakan perdagangan AS, serta kekhawatiran fiskal akibat rancangan undang-undang pengeluaran besar-besaran dan pemotongan pajak Trump, turut menekan kepercayaan terhadap aset-aset AS. Hal itu berdampak pada pelemahan mata uang, obligasi Treasury, dan pasar saham Wall Street. ***









