DINEWS.ID – Kebijakan batas maksimal potongan biaya platform aplikasi transportasi online sebesar 8 persen mulai diterapkan. Di Kota Bogor, sejumlah mitra pengemudi mengaku mulai merasakan perubahan pada pendapatan mereka, meski masih menyampaikan sejumlah catatan terkait sistem yang diterapkan perusahaan aplikasi.
Salah seorang mitra pengemudi ojek online (ojol), Wahyu (31), mengatakan kebijakan tersebut membuat potongan yang diterima pengemudi lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, sebelum aturan baru berlaku, potongan biaya aplikasi dapat mencapai sekitar 20 persen dari nilai perjalanan.
Ia mencontohkan, untuk perjalanan dengan tarif Rp10.400, pengemudi sebelumnya hanya menerima pendapatan bersih sekitar Rp7.000 setelah dipotong biaya platform.
“Potongan 8 persen ini memang lebih stabil dan lebih baik dibandingkan sistem sebelumnya yang potongannya bisa mencapai 20 persen. Alhamdulillah, sekarang ada kenaikan pendapatan untuk ongkos driver,” ujar Wahyu saat ditemui di Bogor, Kamis (9/7/2026).
Meski demikian, Wahyu menilai kebijakan tersebut juga membawa dampak lain. Menurutnya, penyesuaian tarif membuat sebagian pelanggan mulai mengurangi penggunaan layanan transportasi online karena biaya perjalanan dinilai sedikit lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Selain itu, ia menyoroti keberadaan layanan Paket Hemat yang dinilai memengaruhi persaingan antar-pengemudi dalam memperoleh pesanan.
Menurut Wahyu, sebagian besar pelanggan di Bogor lebih memilih layanan tersebut karena tarifnya lebih murah, dengan selisih sekitar Rp7.000 hingga Rp8.000 dibandingkan layanan reguler.
Akibatnya, pengemudi yang hanya mengaktifkan layanan reguler mengaku lebih sulit memperoleh order.
“Harapan kami sebenarnya Paket Hemat itu ditiadakan. Masalahnya ada pada sistem akumulasi potongan. Kalau dulu, meski dapat 10 orderan, potongan maksimal sekitar Rp20.000 per hari. Sekarang, berapa pun total pendapatan tetap dipotong 8 persen. Kalau sehari dapat Rp300.000, potongannya bisa lebih dari Rp20.000. Itu cukup terasa buat kami,” katanya.
Order Menurun Saat Libur Sekolah
Wahyu juga mengungkapkan jumlah pesanan di Kota Bogor cenderung menurun selama masa libur sekolah. Berbeda dengan hari kerja yang didominasi aktivitas pelajar dan pekerja, permintaan layanan transportasi online saat liburan dinilai lebih fluktuatif.
Meski begitu, ia mengaku masih mampu memenuhi target harian dengan rata-rata 10 hingga 20 perjalanan setiap hari.
Menurutnya, jumlah tersebut sudah tergolong baik untuk wilayah Bogor, meski masih berada di bawah rata-rata pengemudi di Jakarta yang memiliki jumlah pelanggan lebih banyak.
“Di Bogor, dapat 20 orderan itu sudah bagus. Rata-rata driver di sini dapat sekitar 10 sampai 15 orderan per hari. Kalau di Jakarta tentu lebih tinggi karena basis pelanggannya jauh lebih besar,” pungkasnya. (Yis)








