Harga Acuan Ayam dan Telur Naik, Pedagang Pasar Khawatir Pembeli Makin Sepi

20260309 1511 screenshot 99
Salah satu pedagang telur di pasar tradisional. Foto: Istimewa

DINEWS.ID – Kenaikan Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam pedaging dan telur ayam ras yang ditetapkan Kementerian Pertanian (Kementan) mulai 15 Juli 2026 disambut beragam respons. Jika pemerintah menilai kebijakan ini penting untuk melindungi peternak, para pedagang pasar justru dihantui kekhawatiran penjualan akan semakin merosot.

Kementan menetapkan HAP ayam pedaging hidup (live bird) sebesar Rp19.500 per kilogram dan telur ayam ras Rp24.000 per kilogram. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan harga di tingkat peternak tanpa membebani konsumen.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan pemerintah berupaya menciptakan harga yang adil bagi seluruh pihak.

“Tidak boleh ada yang dirugikan. Peternaknya harus untung, tetapi konsumennya juga tidak boleh dirugikan. Karena itu harga ayam maupun telur tidak boleh terlalu mahal, tetapi juga tidak boleh terlalu murah,” ujarnya.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan tantangan berbeda. Pedagang mengaku daya beli masyarakat masih lemah. Bahkan saat harga ayam dan telur relatif murah, jumlah pembeli belum juga meningkat.

Maman, pedagang ayam di Pasar Penggilingan, Jakarta Timur, mengaku cemas jika kenaikan harga dari peternak membuat harga jual ikut naik.

“Kalau harga sekarang saja yang beli sudah sedikit, bagaimana nanti kalau harganya naik?” ujarnya.

Saat ini, Maman membeli ayam dari peternak dengan harga sekitar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram, kemudian menjualnya sekitar Rp35.000 per ekor dengan berat rata-rata 1,5 kilogram.

Kekhawatiran serupa disampaikan Andri, pedagang telur ayam ras di pasar yang sama. Menurutnya, naik turunnya harga dari pemasok merupakan hal yang biasa. Namun, faktor yang paling menentukan tetap kemampuan masyarakat untuk membeli.

“Semuanya kembali ke kemampuan beli masyarakat. Kalau harga dari supplier naik, mungkin pesaing jadi lebih sedikit, tetapi pembelinya juga belum tentu bertambah,” katanya.

Andri mengungkapkan penjualan telur saat ini justru menurun meski harga sedang rendah. Melimpahnya stok membuat banyak pedagang baru menjual telur hingga ke warung-warung kecil di luar pasar tradisional.

Hal serupa juga dirasakan pedagang di Pasar Klender, Jakarta Timur. Fajar, pedagang ayam, mengaku siap mengurangi stok harian apabila harga dari pemasok naik karena khawatir permintaan semakin melemah.

“Kalau harga naik, kemungkinan saya kurangi jumlah ayam yang dijual setiap hari. Kondisi ekonomi masyarakat masih lesu,” katanya.

Sementara itu, Raden, pedagang telur di Pasar Klender, mengaku omzet hariannya turun cukup signifikan. Jika sebelumnya mampu menjual 20 hingga 25 kilogram telur per hari, kini penjualannya hanya sekitar 15 kilogram.

“Padahal harga telur sedang murah. Jadi masih tanda tanya apakah nanti kalau harga naik pembeli justru semakin berkurang,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan di pasar bukan hanya soal harga di tingkat peternak, tetapi juga lemahnya daya beli masyarakat. Kenaikan harga acuan memang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak, namun para pedagang berharap kebijakan tersebut tidak semakin menekan penjualan di tengah lesunya konsumsi rumah tangga. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *