Heboh Beeru Stevia, BPOM Turun Tangan: 5 Cara Memilih Pemanis yang Lebih Bijak

Daun stevia dan pemanis alternatif sebagai pengganti gula pasir untuk mengurangi konsumsi gula harian.
Daun stevia dan pemanis alternatif sebagai pengganti gula pasir untuk mengurangi konsumsi gula harian. Dok: Pexels

DINEWS.ID – Tren mengurangi konsumsi gula membuat pemanis alternatif semakin diminati. Salah satu yang banyak digunakan adalah stevia, pemanis yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana dan dikenal memiliki tingkat kemanisan tinggi dengan kontribusi kalori yang sangat rendah.

Namun, kepercayaan konsumen terhadap produk pemanis stevia kini menjadi sorotan setelah muncul polemik mengenai kandungan Beeru Stevia. Produk tersebut ramai diperbincangkan setelah seorang kreator konten yang dikenal sebagai Dokter Detektif (Doktif) mengungkap hasil pengujian laboratorium yang disebut menunjukkan adanya sukralosa dan neotam.

Temuan itu memunculkan pertanyaan karena kedua bahan tersebut diklaim tidak tercantum dalam daftar komposisi pada kemasan produk.

Dilansir dari detikHealth, Kamis, 29 Oktober 2026, BPOM menyatakan masih melakukan penelusuran, pengambilan sampel, dan pengujian terhadap produk tersebut. Artinya, hasil pengujian yang beredar di media sosial belum menjadi kesimpulan resmi regulator.

Sementara itu, Beeru Indonesia mengumumkan penghentian sementara penjualan produknya hingga proses verifikasi selesai. Perusahaan juga menyatakan sedang berkoordinasi dengan mitra manufaktur untuk menelusuri informasi yang beredar.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa label seperti natural, zero sugar, atau zero calorie tidak seharusnya membuat konsumen mengabaikan informasi komposisi dan nilai gizi.

Lantas, bagaimana membedakan pemanis stevia dengan pemanis buatan, serta apa yang perlu diperhatikan sebelum membeli produk pengganti gula?

1. Mengenal Stevia dan Kandungan Pemanisnya

Stevia berasal dari tanaman Stevia rebaudiana yang daunnya mengandung senyawa pemberi rasa manis bernama steviol glycosides atau glikosida steviol.

Senyawa tersebut memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibandingkan gula pasir. Karena digunakan dalam jumlah relatif kecil, pemanis stevia berbasis glikosida steviol dapat memberikan rasa manis dengan kontribusi kalori yang sangat rendah.

Namun, istilah stevia pada produk komersial tidak selalu berarti seluruh isinya merupakan ekstrak daun stevia murni. Produk cair maupun bubuk dapat memiliki bahan tambahan lain untuk membantu formulasi, menjaga kestabilan, atau menyesuaikan karakter rasa.

Karena itu, konsumen perlu membaca daftar komposisi secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan nama produk atau gambar tanaman pada kemasan.

Perlu dipahami pula bahwa pemanis stevia tidak otomatis menjadikan seluruh makanan atau minuman yang menggunakannya sebagai produk rendah kalori. Kandungan energi tetap bergantung pada bahan lain yang digunakan dalam produk tersebut.

pexels magda ehlers pexels 4184218

2. Sukralosa dan Neotam Bukan Otomatis Berbahaya

Sukralosa dan neotam merupakan pemanis buatan yang digunakan untuk memberikan rasa manis dengan jumlah relatif kecil.

Sukralosa dibuat melalui modifikasi struktur sukrosa atau gula. Sementara itu, neotam merupakan pemanis berintensitas tinggi yang berasal dari turunan asam amino.

Keduanya berbeda dari glikosida steviol yang berasal dari tanaman stevia. Namun, perbedaan asal bahan tidak serta-merta menentukan bahwa satu jenis pemanis selalu aman dan jenis lainnya selalu berbahaya.

BPOM mengatur penggunaan pemanis buatan dalam pangan olahan, termasuk jenis produk yang boleh menggunakannya serta batas maksimum penggunaannya. Artinya, penggunaan bahan tersebut harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

Persoalan dalam polemik Beeru Stevia bukan semata-mata apakah sukralosa dan neotam merupakan bahan buatan. Hal yang perlu dipastikan adalah apakah kandungannya sesuai dengan komposisi yang dicantumkan, apakah kadarnya memenuhi ketentuan, serta apakah klaim produk pada kemasan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

3. Mengapa Transparansi Label Sangat Penting?

Daftar komposisi dan informasi nilai gizi merupakan bagian penting yang membantu konsumen menentukan produk sesuai kebutuhan.

Seseorang yang sedang mengurangi asupan gula, misalnya, perlu mengetahui jenis pemanis yang digunakan. Begitu pula konsumen yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang mengikuti pengaturan pola makan dari tenaga medis.

Jika terdapat bahan yang tidak dicantumkan pada label, konsumen kehilangan informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan secara tepat.

Dalam kasus Beeru Stevia, hasil uji laboratorium yang dibagikan Doktif disebut mencatat kandungan sukralosa sebesar 101.297,89 miligram per liter dan neotam sebesar 5.280,99 miligram per liter. Dokumen tersebut juga mencantumkan kandungan karbohidrat sebesar 47,21 persen serta energi total 188,84 kilokalori per 100 gram sampel.

Namun, angka tersebut masih merupakan hasil pengujian yang dibagikan pihak independen. BPOM belum mengeluarkan kesimpulan resmi mengenai kandungan dan keamanan produk tersebut.

Karena itu, konsumen sebaiknya menunggu hasil pemeriksaan regulator sebelum menarik kesimpulan akhir.

4. Apa Kata WHO tentang Penggunaan Pemanis Non-Gula?

Pemanis rendah atau tanpa kalori sering digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi konsumsi gula. Namun, penggunaannya tidak otomatis menjadi strategi terbaik untuk menurunkan berat badan dalam jangka panjang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui pedoman yang diterbitkan pada 15 Mei 2023 memberikan rekomendasi agar pemanis non-gula tidak digunakan sebagai strategi utama pengendalian berat badan atau pencegahan penyakit tidak menular.

Rekomendasi tersebut didasarkan pada tinjauan bukti yang menunjukkan belum adanya manfaat jangka panjang yang meyakinkan dalam mengurangi lemak tubuh. WHO juga mencatat kemungkinan hubungan dengan sejumlah dampak kesehatan yang tidak diinginkan dalam studi jangka panjang.

Meski demikian, WHO menegaskan bahwa pedoman tersebut bukan penilaian toksikologi terhadap keamanan masing-masing jenis pemanis. Pedoman itu juga tidak menggantikan batas asupan aman yang ditetapkan lembaga berwenang.

Dengan demikian, rekomendasi WHO perlu dipahami secara tepat. Bukan berarti semua pemanis non-gula terbukti berbahaya, melainkan konsumen tidak dianjurkan menjadikannya sebagai jalan pintas untuk mengendalikan berat badan.

5. Lima Cara Memilih Pemanis Pengganti Gula

Agar tidak hanya terpaku pada klaim pemasaran, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sebelum membeli produk pemanis.

Pertama, baca daftar komposisi.

Periksa jenis bahan yang digunakan. Jangan hanya melihat tulisan stevia, alami, atau bebas gula pada bagian depan kemasan. Pastikan seluruh bahan yang tercantum dapat dipahami.

Kedua, periksa informasi nilai gizi.

Perhatikan jumlah energi, karbohidrat, dan gula dalam produk. Klaim nol gula tidak selalu berarti nol kalori, sehingga informasi nilai gizi tetap perlu diperiksa.

Ketiga, pastikan legalitas produk.

Periksa nomor izin edar dan identitas produsen melalui kanal resmi BPOM. Legalitas merupakan salah satu aspek penting, meskipun bukan alasan untuk mengabaikan informasi komposisi dan cara penggunaan.

Keempat, jangan berlebihan menggunakan pemanis.

Rasa manis yang sangat kuat dapat membuat seseorang terbiasa menginginkan makanan dan minuman dengan tingkat kemanisan tinggi. Mengurangi takaran secara bertahap dapat membantu membiasakan lidah terhadap rasa yang tidak terlalu manis.

Kelima, utamakan pola makan seimbang.

Kayu manis, vanila, atau buah utuh dapat digunakan untuk memberikan aroma dan cita rasa pada makanan maupun minuman. Namun, buah tetap mengandung gula alami sehingga jumlah konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Mengurangi Gula Tidak Harus Bergantung pada Pemanis Alternatif

Polemik Beeru Stevia menunjukkan pentingnya keterbukaan informasi dalam industri pangan. Konsumen berhak mengetahui bahan yang digunakan dalam produk, terlebih ketika produk tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup sehat.

Namun, memilih pemanis tidak cukup hanya dengan membandingkan bahan alami dan buatan. Kesesuaian komposisi, kadar penggunaan, informasi nilai gizi, serta kebutuhan masing-masing individu juga perlu diperhatikan.

Bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula, langkah paling mendasar tetap membiasakan diri mengurangi rasa manis secara bertahap dan menerapkan pola makan seimbang.

Pemanis alternatif dapat menjadi salah satu pilihan, tetapi bukan pengganti kebiasaan hidup sehat secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *