DINEWS.ID — Malam sudah larut, suasana rumah mulai sunyi, tetapi mata masih sulit terpejam. Tubuh terasa lelah setelah menjalani aktivitas seharian, sementara pikiran justru semakin ramai. Ada pekerjaan yang belum selesai, persoalan keluarga yang belum menemukan jalan keluar, hingga kekhawatiran tentang hari esok.
Situasi seperti ini mungkin pernah dialami banyak orang. Sesekali sulit tidur belum tentu menandakan gangguan insomnia. Namun, jika kesulitan memulai tidur, sering terbangun di tengah malam, atau bangun terlalu pagi terus berulang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.
Kabar baiknya, memperbaiki kualitas tidur tidak selalu harus dimulai dengan obat tidur. Perubahan kebiasaan sehari-hari dan terapi perilaku dapat membantu mengatasi masalah tidur, terutama jika dilakukan secara konsisten.
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), bagian dari National Institutes of Health Amerika Serikat, menjelaskan bahwa terapi perilaku kognitif untuk insomnia atau Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I) merupakan pilihan utama untuk menangani insomnia jangka panjang. Terapi ini membantu seseorang mengubah pola pikir dan kebiasaan yang membuatnya sulit tidur.
Lantas, bagaimana cara mengatasi insomnia tanpa obat yang bisa mulai dicoba?
1. Atur Jam Tidur dan Bangun Secara Konsisten
Salah satu langkah sederhana untuk memperbaiki pola tidur adalah membiasakan diri tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari.
Kebiasaan ini membantu tubuh mengenali ritme tidur dan bangun. Usahakan jadwal tersebut tetap terjaga, termasuk saat akhir pekan, agar perbedaan waktu tidur tidak terlalu jauh.
Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam. Namun, kebutuhan setiap orang bisa berbeda, sehingga kualitas tidur dan kondisi tubuh saat menjalani aktivitas sehari-hari juga perlu diperhatikan.
Hindari memaksakan diri tidur terlalu awal ketika belum mengantuk. Sebaliknya, bangunlah pada waktu yang telah ditentukan dan bangun rutinitas yang mendukung tidur pada malam berikutnya.
2. Kurangi Kopi dan Minuman Berkafein Menjelang Tidur
Kebiasaan minum kopi pada sore atau malam hari dapat menjadi salah satu penyebab seseorang sulit terlelap. Kafein merupakan zat stimulan yang dapat membuat tubuh tetap terjaga meskipun waktu istirahat sudah tiba.
Selain kopi, kafein juga dapat ditemukan dalam teh, minuman bersoda tertentu, minuman energi, dan cokelat.
NIH menjelaskan bahwa efek kafein dapat bertahan hingga sekitar delapan jam. Karena itu, orang yang mengalami kesulitan tidur sebaiknya mencoba menghindari minuman berkafein pada sore hingga malam hari dan memperhatikan respons tubuhnya.
Alkohol juga bukan solusi untuk mengatasi insomnia. Meski dapat membuat seseorang merasa mengantuk pada awalnya, alkohol bisa mengganggu kualitas tidur dan menyebabkan seseorang lebih mudah terbangun pada malam hari.
3. Jauhkan Ponsel Sebelum Tidur
Bagi sebagian orang, membuka media sosial menjadi kebiasaan terakhir sebelum memejamkan mata. Niatnya hanya melihat beberapa unggahan, tetapi tanpa disadari waktu berlalu hingga larut malam.
Paparan cahaya dari layar dan aktivitas yang membuat pikiran terus terjaga dapat mengganggu persiapan tubuh untuk tidur. Karena itu, cobalah membatasi penggunaan ponsel, komputer, dan televisi sekitar satu jam sebelum waktu tidur.
Waktu tersebut dapat digunakan untuk melakukan kegiatan yang lebih menenangkan, seperti membaca buku, mendengarkan musik lembut, atau merapikan barang untuk keesokan hari.
Jika pekerjaan mengharuskan penggunaan perangkat elektronik pada malam hari, cobalah mengurangi aktivitas yang merangsang pikiran dan memberikan jeda sebelum berbaring.
Tujuannya bukan sekadar menghindari layar, melainkan membantu tubuh dan pikiran beralih dari aktivitas harian menuju waktu istirahat.
4. Ciptakan Kamar yang Nyaman untuk Tidur
Lingkungan kamar turut memengaruhi kenyamanan saat beristirahat. Cahaya yang terlalu terang, suara bising, suhu yang tidak nyaman, atau kasur yang kurang mendukung dapat membuat tidur menjadi lebih sulit.
Cobalah menjaga kamar tetap gelap, tenang, dan memiliki suhu yang nyaman. Gunakan tirai untuk mengurangi cahaya dari luar atau penutup mata jika diperlukan. Penyumbat telinga juga dapat dipertimbangkan apabila suara sekitar sering mengganggu.
Pastikan bantal, kasur, dan selimut terasa nyaman. Tidak semua orang membutuhkan perlengkapan tidur mahal; yang terpenting adalah menciptakan lingkungan yang mendukung istirahat.
Jika memungkinkan, gunakan tempat tidur terutama untuk tidur. Kebiasaan bekerja, makan, atau menonton dalam waktu lama di tempat tidur dapat membuat batas antara aktivitas dan waktu istirahat menjadi kurang jelas.
5. Lakukan Aktivitas Fisik pada Siang Hari
Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus mendukung kualitas tidur. Tidak harus langsung melakukan olahraga berat. Berjalan kaki, bersepeda santai, atau melakukan latihan ringan dapat menjadi pilihan sesuai kemampuan tubuh.
Hal yang perlu diperhatikan adalah waktunya. Olahraga yang terlalu dekat dengan waktu tidur dapat membuat sebagian orang tetap terjaga karena tubuh belum cukup rileks.
Cobalah menjadwalkan aktivitas fisik pada pagi atau siang hari. Mendapatkan paparan cahaya alami pada siang hari juga membantu menjaga ritme tidur dan bangun tubuh.
Selain itu, hindari kebiasaan tidur siang terlalu lama, terutama jika membuat Anda kesulitan mengantuk pada malam hari.
6. Tenangkan Pikiran Sebelum Berbaring
Kesulitan tidur tidak selalu berkaitan dengan kondisi fisik. Stres, kecemasan, dan persoalan yang terus dipikirkan juga dapat membuat seseorang sulit memejamkan mata.
Ketika pikiran dipenuhi berbagai kekhawatiran, mencoba memaksa diri untuk segera tidur justru bisa menambah tekanan. Semakin takut tidak bisa tidur, semakin besar kemungkinan seseorang terus memperhatikan apakah dirinya sudah mengantuk.
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah menuliskan hal-hal yang sedang dipikirkan sebelum tidur. Catat pekerjaan yang perlu diselesaikan esok hari, persoalan yang ingin dibicarakan, atau langkah kecil yang bisa dilakukan untuk menghadapi masalah tersebut.
Latihan pernapasan perlahan, meditasi, membaca buku, atau mendengarkan musik yang menenangkan juga dapat membantu sebagian orang merasa lebih rileks.
Namun, teknik relaksasi bukan obat untuk semua penyebab insomnia. Jika kecemasan atau tekanan emosional terus mengganggu tidur, bantuan tenaga profesional dapat diperlukan.
7. Jangan Memaksa Tidur Ketika Mata Belum Mengantuk
Berbaring lama sambil terus melihat jam dapat meningkatkan rasa frustrasi. Seseorang mungkin mulai menghitung berapa jam tidur yang tersisa sebelum harus bangun, lalu semakin khawatir karena belum juga tertidur.
Dalam pendekatan terapi perilaku untuk insomnia, seseorang dianjurkan pergi ke tempat tidur ketika mulai mengantuk. Jika belum bisa tidur dan justru semakin gelisah, bangunlah sementara dan lakukan kegiatan tenang dengan pencahayaan redup.
Misalnya, membaca beberapa halaman buku atau duduk santai di ruangan lain. Kembalilah ke tempat tidur ketika rasa kantuk muncul.
Langkah ini membantu membangun kembali hubungan antara tempat tidur dan tidur, bukan dengan aktivitas terjaga yang disertai kecemasan.
Pendekatan tersebut merupakan salah satu bagian dari stimulus control, yakni teknik yang digunakan dalam CBT-I. Untuk insomnia yang berlangsung lama, penerapannya sebaiknya menjadi bagian dari pendekatan terstruktur, bukan sekadar mengandalkan tips tidur secara terpisah.
Kapan Insomnia Perlu Mendapatkan Bantuan Dokter?
Perubahan kebiasaan dapat membantu memperbaiki tidur, tetapi tidak semua insomnia bisa diatasi dengan langkah mandiri.
Menurut NIH, insomnia kronis umumnya ditandai kesulitan tidur setidaknya tiga malam dalam seminggu selama lebih dari tiga bulan. Gangguan tidur juga perlu diperiksa jika mulai mengganggu konsentrasi, pekerjaan, suasana hati, atau keselamatan saat beraktivitas.
Jangan menunda konsultasi jika masalah tidur terus berulang, semakin berat, atau disertai keluhan lain. Gangguan tidur bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan, efek obat tertentu, kecemasan, maupun masalah seperti sleep apnea.
Untuk insomnia jangka panjang, tanyakan kepada dokter mengenai CBT-I. Terapi ini biasanya berlangsung sekitar enam hingga delapan minggu dan dapat dilakukan melalui tenaga kesehatan terlatih, secara langsung, melalui telepon, atau dalam format daring yang sesuai.
Mengatasi insomnia tanpa obat bukan berarti mengabaikan bantuan medis. Pendekatan tanpa obat tetap dapat melibatkan terapi profesional yang teruji. Sebaliknya, hindari mengganti obat tidur yang telah diresepkan dengan perubahan kebiasaan secara mendadak tanpa berkonsultasi kepada dokter.
Pada akhirnya, tidur yang lebih baik tidak selalu datang dari usaha memejamkan mata sekuat tenaga. Rutinitas yang konsisten, lingkungan yang nyaman, pengelolaan stres, dan penanganan yang tepat dapat membantu seseorang membangun kembali pola tidur yang lebih sehat.













