DINEWS.ID – Penggunaan internet di Indonesia terus berkembang dan semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari. Ponsel pintar kini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi perangkat utama untuk bekerja, bertransaksi, berbelanja, mengakses layanan perbankan, hingga menyimpan berbagai informasi pribadi.
Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, penetrasi internet nasional mencapai 81,7 persen atau setara dengan sekitar 235,26 juta jiwa. Angka tersebut menunjukkan semakin luasnya masyarakat yang terhubung dengan dunia digital.
Namun, meningkatnya aktivitas digital juga membuat perlindungan data pribadi semakin penting. Ancaman seperti phishing, pencurian akun, aplikasi berbahaya, hingga penyalahgunaan informasi pribadi dapat terjadi ketika pengguna kurang memperhatikan keamanan perangkat.
Ponsel yang digunakan untuk mengakses berbagai layanan digital menyimpan banyak informasi sensitif. Karena itu, mengaktifkan fitur keamanan bawaan perangkat menjadi langkah sederhana yang sebaiknya tidak diabaikan.
Berikut lima fitur keamanan digital yang perlu diperiksa dan diaktifkan pada ponsel Android maupun iPhone.
1. Aktifkan Autentikasi Dua Faktor untuk Melindungi Akun
Autentikasi dua faktor atau two-factor authentication (2FA) merupakan lapisan perlindungan tambahan ketika seseorang masuk ke sebuah akun digital.
Dengan fitur ini, pengguna tidak hanya mengandalkan kata sandi. Sistem juga meminta verifikasi kedua, misalnya melalui aplikasi autentikator, kunci keamanan, notifikasi persetujuan, atau metode lain yang disediakan layanan.
Fitur ini penting untuk akun email, media sosial, penyimpanan awan, dan layanan keuangan yang mendukungnya. Apabila kata sandi diketahui orang lain, pelaku masih harus melewati proses verifikasi tambahan.
Google melalui panduan resminya menjelaskan bahwa Verifikasi 2 Langkah dapat membantu melindungi akun ketika kata sandi dicuri. Google juga menyediakan pilihan penggunaan aplikasi autentikator dan metode verifikasi lainnya.
Pengguna dapat mengaktifkannya melalui pengaturan keamanan masing-masing akun. Jika tersedia, metode autentikasi menggunakan kunci sandi atau aplikasi autentikator dapat dipertimbangkan.
Hal penting lainnya, jangan pernah memberikan kode OTP atau kode verifikasi kepada orang lain, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas layanan resmi.
2. Gunakan PIN Kuat dan Kunci Biometrik
Pengamanan layar merupakan perlindungan pertama ketika ponsel hilang, tertinggal, atau digunakan tanpa izin.
Pengguna sebaiknya memakai PIN yang tidak mudah ditebak, dengan kombinasi angka yang tidak berkaitan dengan tanggal lahir, nomor telepon, atau pola sederhana seperti 123456.
Jika perangkat mendukungnya, aktifkan pula pengenalan sidik jari atau wajah sebagai lapisan autentikasi tambahan. Fitur biometrik dapat mempermudah pengguna membuka perangkat tanpa harus selalu mengetikkan PIN.
Namun, PIN atau kata sandi perangkat tetap perlu dijaga karena dapat digunakan sebagai metode cadangan pada kondisi tertentu.
Bagi pengguna iPhone, Apple juga menyediakan fitur Stolen Device Protection. Fitur ini memberikan persyaratan keamanan tambahan untuk tindakan sensitif ketika perangkat berada jauh dari lokasi yang biasa dikunjungi. Beberapa tindakan mengharuskan autentikasi Face ID atau Touch ID tanpa alternatif kode sandi.
Dengan kombinasi pengunci layar yang kuat dan biometrik, risiko akses tanpa izin dapat dikurangi.
3. Batasi Pemasangan Aplikasi dari Sumber Tidak Dikenal
Aplikasi berbahaya dapat menjadi pintu masuk pencurian informasi pribadi. Salah satu risikonya adalah pemasangan file APK dari tautan yang dikirim melalui pesan singkat, grup percakapan, atau situs yang tidak jelas.
Tidak semua file APK berbahaya, tetapi pengguna perlu berhati-hati ketika diminta memasang aplikasi di luar toko resmi, terutama jika aplikasi tersebut menjanjikan hadiah, layanan keuangan, atau meminta akses yang tidak relevan.
Pada perangkat Android, pengguna dapat memeriksa pengaturan izin pemasangan aplikasi dari sumber tidak dikenal dan memastikan akses tersebut tidak diberikan secara sembarangan.
Google juga menyediakan Play Protect untuk memeriksa aplikasi dan perangkat terhadap perilaku berbahaya. Sistem ini dapat memberikan peringatan, menonaktifkan, atau menghapus aplikasi yang terdeteksi membahayakan.
Sementara itu, pengguna iPhone sebaiknya mengunduh aplikasi melalui App Store dan memperhatikan informasi pengembang serta izin yang diminta aplikasi.
Prinsip utamanya adalah tidak memasang aplikasi hanya karena menerima tautan dari orang yang tidak dikenal atau tergiur tawaran yang belum terverifikasi.
4. Periksa dan Batasi Izin Aplikasi
Setiap aplikasi dapat meminta akses terhadap sejumlah fitur perangkat, seperti kamera, mikrofon, kontak, lokasi, foto, dan penyimpanan.
Sebagian izin memang dibutuhkan agar aplikasi dapat bekerja. Namun, tidak semua aplikasi memerlukan akses ke seluruh informasi tersebut.
Aplikasi navigasi, misalnya, membutuhkan akses lokasi untuk memberikan petunjuk perjalanan. Sebaliknya, aplikasi yang hanya digunakan untuk membaca dokumen belum tentu membutuhkan akses mikrofon atau daftar kontak.
Karena itu, pengguna perlu memeriksa izin aplikasi secara berkala dan mencabut akses yang tidak relevan.
Google menjelaskan bahwa pengguna Android dapat mengelola izin melalui menu pengaturan aplikasi. Sementara itu, Apple menyediakan pengaturan privasi untuk mengontrol akses aplikasi terhadap lokasi, kamera, mikrofon, kontak, dan informasi lainnya.
Pada Android, pemeriksaan dapat dilakukan melalui menu Pengaturan, kemudian Aplikasi dan Izin. Pada iPhone, pengguna dapat membuka Pengaturan, lalu Privasi & Keamanan.
Kebiasaan memeriksa izin aplikasi membantu pengguna mengetahui informasi apa saja yang dapat diakses oleh setiap layanan di ponsel.
5. Aktifkan Fitur Pelacak Perangkat yang Hilang
Ponsel yang hilang atau dicuri bukan hanya berarti kehilangan perangkat, tetapi juga berpotensi membuka akses terhadap data pribadi apabila tidak dilindungi dengan baik.
Karena itu, fitur pelacak perangkat sebaiknya diaktifkan sejak awal.
Pada perangkat Android, pengguna dapat memanfaatkan layanan Find Hub milik Google untuk membantu menemukan perangkat yang hilang. Ketersediaan dan kemampuan pelacakan bergantung pada pengaturan perangkat, akun, konektivitas, serta dukungan layanan.
Google menyediakan pengaturan agar perangkat dapat ditemukan melalui menu layanan Google di bagian keamanan dan keselamatan perangkat.
Sementara itu, pengguna iPhone dapat memanfaatkan fitur Find My atau Lacak untuk membantu menemukan perangkat, mengaktifkan Mode Hilang, dan mengambil langkah perlindungan lainnya.
Fitur tersebut sebaiknya disiapkan sebelum perangkat hilang. Pengguna juga perlu memastikan akun pemulihan dan metode autentikasi tetap dapat diakses.
Apabila ponsel benar-benar hilang, segera gunakan perangkat lain untuk mengamankan akun, mengunci perangkat jika memungkinkan, serta menghubungi operator atau penyedia layanan terkait apabila diperlukan.
Keamanan Digital Dimulai dari Kebiasaan Pengguna
Meningkatnya penetrasi internet Indonesia membuka semakin banyak peluang dalam bidang pendidikan, ekonomi, komunikasi, dan pelayanan publik. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga keamanan informasi pribadi.
Mengaktifkan autentikasi dua faktor, menggunakan pengunci layar yang kuat, membatasi pemasangan aplikasi dari sumber tidak dikenal, mengatur izin aplikasi, serta menyiapkan fitur pelacak perangkat merupakan langkah dasar yang dapat dilakukan setiap pengguna.
Meski demikian, fitur keamanan bukan jaminan mutlak bahwa perangkat bebas dari ancaman. Pengguna tetap perlu memperbarui sistem operasi, berhati-hati terhadap tautan mencurigakan, dan tidak sembarangan membagikan informasi pribadi.
Pada akhirnya, keamanan digital bukan hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Kebiasaan pengguna dalam menjaga perangkat dan mengelola informasi pribadi juga menentukan seberapa aman aktivitas di dunia maya.













