DINEWS.ID – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) canangkan gerakan kepedulian lingkungan bertajuk “Tobat Nasional Ekologis” untuk memulihkan kerusakan alam di tanah air. Dalam gerakan ini, komoditas bambu dipilih sebagai pilar utama karena keunggulan ekologis dan nilai ekonominya yang tinggi bagi masyarakat. Gerakan Menanam Bambu Nusantara 2026 digelar di Yayasan Bambu Indonesia, Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (14/06/2026).
Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, menyatakan bahwa pertobatan ekologis ini harus dimulai dari jajaran pemerintah selaku regulator kebijakan. Ia mengakui bahwa generasi seangkatannya merupakan kelompok yang paling banyak melakukan kerusakan terhadap alam jika dibandingkan dengan Generasi Z saat ini.
Berdasarkan data survei, dari 75 juta populasi Gen Z di Indonesia, lebih dari 80 persen di antaranya memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, bahkan rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli produk ramah lingkungan (eco-friendly).
”Sangat terbalik, justru generasi mudalah yang harus menasihati generasi kita. Mereka adalah kelompok yang akan paling merasakan dampak buruk dari kesalahan masa lalu jika kita tidak diingatkan oleh mereka sejak dini,” ujar Jumhur.
Jumhur menegaskan bahwa aksi penanaman 5.000 bibit bambu di Cibinong hari ini baru langkah awal. KLH langsung melempar tantangan besar kepada para ahli pembibitan nasional untuk mengintegrasikan data pasokan demi menghijaukan sisa lahan kritis di Indonesia yang jumlahnya masih sangat masif.
”Kita harus melihat fakta bahwa Indonesia saat ini masih memiliki sekitar 12,7 juta hektare lahan kritis. Ketika gerakan ini berjalan, kita tidak lagi berbicara ribuan, melainkan jutaan, puluhan juta, atau bahkan 100 juta pohon bambu yang ditanam secara nasional.
Kuncinya, ketersediaan bibit berkualitas dari Sabang sampai Merauke harus dipastikan terlebih dahulu,” tantang Jumhur.
Jumhur menyebut posisi KLH bertindak sebagai orkestrator yang menyatukan potensi dana internasional, komunitas hijau, kalangan pesantren, hingga kearifan lokal di setiap daerah agar mengerucut pada gerakan penanaman massal secara konsisten. (Yis)













