DINEWS.ID – Harga emas dunia sempat mengalami koreksi selama dua hari berturut-turut akibat aksi ambil untung (taking profit) oleh investor.
Koreksi ini terjadi menjelang pertemuan pemimpin Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan dalam KTT minggu ini. Selain itu, pertemuan pejabat AS dan China di Malaysia untuk membahas perang dagang turut memengaruhi sentimen pasar.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pesimis tercapainya kesepakatan antara kedua negara. Ia menilai perang dagang yang berlanjut, ditambah perlawanan China, menekan harga emas dunia.
Meski demikian, Ibrahim melihat harga emas mulai menguat kembali, meski belum signifikan. Ia menyebut penurunan sebelumnya disebabkan aksi ambil untung investor yang menilai harga emas sudah tinggi.
Selain faktor perdagangan, pemberian sanksi ekonomi AS kepada Rusia setelah serangan ke Donbas dan Kyiv, serta sanksi Inggris dan Uni Eropa terhadap Rusia termasuk larangan minyak dan gas, berpotensi mendongkrak harga emas.
Investor juga menantikan data inflasi AS, yang akan memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral AS. Jika inflasi stagnan, bank sentral diperkirakan menurunkan suku bunga, yang dapat mendorong harga emas menuju US$ 4.186. Menurut Ibrahim, jika level ini ditembus, harga emas berpeluang naik ke kisaran US$ 4.400 dalam jangka pendek.












