DINEWS.ID – Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan untuk membentuk unit khusus atau de-confliction cell guna mengurangi eskalasi konflik di kawasan, termasuk di Lebanon. Mekanisme ini bertujuan memastikan penghentian operasi militer di wilayah tersebut dapat berjalan sesuai kesepakatan.
Kesepakatan tersebut disampaikan melalui pernyataan bersama para mediator konflik, yakni Qatar dan Pakistan, yang turut memfasilitasi dialog antara kedua pihak.
“Para pihak sepakat membentuk unit de-konflikasi yang terdiri dari para pihak, Republik Lebanon, serta difasilitasi oleh para mediator untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Lebanon sesuai dengan MoU,” demikian pernyataan yang dikutip CNN, Minggu (22/6).
Pembentukan mekanisme ini merupakan bagian dari upaya implementasi nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah disepakati untuk menurunkan eskalasi konflik di berbagai front, termasuk Lebanon.
Meski demikian, situasi di lapangan masih dinilai belum stabil. Konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon dilaporkan masih terus berlangsung, meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 4.000 korban jiwa sejak eskalasi serangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Ketegangan di kawasan ini meningkat setelah serangkaian serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari. Situasi tersebut kemudian memicu respons dari Hizbullah, yang melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel.
Hizbullah sendiri dikenal sebagai kelompok yang memiliki hubungan erat dengan Iran dan disebut mendapat dukungan persenjataan serta logistik dari Teheran.
Di sisi lain, upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran melalui MoU yang ditandatangani pekan lalu mencakup komitmen penghentian pertempuran di seluruh front konflik, termasuk Lebanon.
Bagi Iran, penghentian serangan Israel terhadap sekutu utamanya di kawasan menjadi salah satu poin penting dalam proses negosiasi. Namun, Israel disebut tetap memandang Hizbullah sebagai ancaman keamanan dan menilai kelompok tersebut harus dilumpuhkan.
Dengan terbentuknya mekanisme de-confliction cell, para mediator berharap dapat membuka ruang baru bagi penurunan eskalasi dan mencegah meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. (Red)












