DINEWS.ID – Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan secara lisan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kedua negara disebut telah menyetujui rancangan awal perjanjian dan tengah mempersiapkan penandatanganan kesepakatan dalam beberapa hari ke depan.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan Washington dan Teheran telah menyepakati teks perjanjian yang menjadi dasar penghentian konflik.
“Kedua pihak telah menyetujui teks tersebut dan kami memperkirakan kesepakatan awal dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang,” kata pejabat AS yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters, Sabtu (13/6).
Kemajuan perundingan tersebut juga dikonfirmasi Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi. Meski mengakui masih ada kemungkinan perubahan dalam isi kesepakatan, ia menilai hasil sementara menunjukkan posisi Iran tetap kuat dalam proses negosiasi.
“Iran adalah pemenang perang dengan AS,” ujar Araqchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.
Di tengah perkembangan diplomatik itu, ketegangan militer dilaporkan masih terjadi. Reuters melaporkan pasukan AS menembak jatuh sejumlah drone bunuh diri Iran yang terbang menuju Selat Hormuz karena dinilai mengancam jalur pelayaran komersial. Meski demikian, Komando Pusat AS (CENTCOM) memastikan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut tetap terbuka.
Berdasarkan rancangan nota kesepahaman yang sedang dibahas, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, sementara AS menghentikan blokade angkatan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Setelah itu, kedua negara akan melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir Teheran yang selama ini menjadi sumber utama perselisihan.
Seorang pejabat AS menyebut kesepakatan tersebut telah memenuhi tujuan utama Presiden Donald Trump dan membuka peluang besar bagi keberhasilan proses diplomasi selanjutnya.
“Kesepakatan ini memenuhi tujuan utama Presiden Trump dan menempatkan negosiasi pada posisi yang sangat baik,” ujarnya.
Pakistan disebut berperan sebagai mediator dalam perundingan tersebut. Sementara itu, sejumlah sumber Barat menyebut penandatanganan kesepakatan berpotensi dilakukan paling cepat pada Minggu (14/6), dengan Jenewa, Swiss, menjadi lokasi yang paling mungkin dipilih.
Dalam rancangan yang diperoleh Reuters dari sejumlah sumber, AS disebut akan mulai membuka akses terhadap miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan serta memberikan pelonggaran terhadap sanksi ekspor minyak. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup menyusul serangan AS dan Israel pada Februari lalu.
Selain itu, kedua negara akan memasuki masa negosiasi selama 60 hari untuk membahas masa depan program nuklir Iran. Washington menginginkan pembongkaran program nuklir dan pemusnahan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi. Namun, Teheran tetap bersikeras mempertahankan uranium tersebut dalam bentuk yang telah diencerkan.
Kabar mengenai kemajuan perundingan ini langsung mendapat respons positif dari pasar global. Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 3 persen ke level terendah dalam hampir dua bulan terakhir, sementara bursa saham dunia menguat seiring meningkatnya harapan berakhirnya konflik di kawasan Teluk.
Meski demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut. Israel juga menyatakan tetap mempertahankan kebebasan bertindak terhadap setiap ancaman yang dianggap dapat membahayakan keamanan nasionalnya. (Red)













