Selanjutnya masalah kemacetan pada persimpangan Cilendek secara keseluruhan, saat ini disebabkan karena kapasitas simpang dengan pengendalian Traffic light yang ada sekarang sudah tidak mampu memfasilitasi kebutuhan volume arus yang sangat tinggi, alias sudah sangat jenuh (over capacity). Waktu siklus Traffic light sudah melebihi 120 detik, sehingga waktu tunggu terlalu lama di setiap kaki simpang.
Saat ini waktu siklus yang terjadi sudah lebih dari 200 detik, sudah sangat jenuh dan ketika lampu hijau pada jam puncak harian maupun akhir minggu, ketika waktu hijaunya selesai masih ada residu antrean yang masih panjang di kaki-kaki pendekat simpang. Kepadatan terjadi hampir seimbang di setiap kaki pendekat.
Upaya memaksimalkan pengaturan stage dan fase Traffic light dengan pola pergerakan lurus, dipisah dengan lajur belok kanan untuk mengurangi waktu siklus terjadinya kendala keterbatasan kapasitas lajur yang ada di kaki pendekat.
Upaya berikutnya yang bisa dilakukan ke depan untuk meningkatkan kapasitas simpang, adalah dengan melakukan redisgn geometrik simpang, dengan upaya manajemen lalu lintas berupa meningkatkan panjang lajur peralihan belok kiri langsung, meningkatkan lebar kaki pendekat lajur belok kanan, memperkecil median dan mengurangi median pembatas.
“Namun ini pun tidak akan mampu menampung tingginya volume yang melintas dari setiap kaki dan masih bersifat mengurangi saja,” tuturnya.
Seiring dengan pertumbuhan volume lalu lintas (lalin) ke depan, dan akan semakin padatnya tingkat kedatangan kendaraan yang akan terjadi sepanjang waktu, maka pengenalan penerapan simpang tidak sebidang (unsegregated intersection) bisa dilakukan baik dengan bentuk fly over atau Under pass yang memerlukan kajian teknis yang bersifat Big plan lebih lanjut,” pungkas Kepala Dishub Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto.
/***
Editor: YB













