DINEWS.ID – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor menilai Program Mahasiswa Mengajar menjadi langkah strategis untuk mengatasi krisis kekurangan guru di sekolah negeri. Meski bersifat sementara, program hasil kolaborasi Pemerintah Kota Bogor dengan Universitas Pakuan (Unpak) dan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) dinilai mampu menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi mengatakan program tersebut lahir sebagai respons atas keterbatasan rekrutmen guru, terutama setelah pengadaan tenaga honorer tidak lagi dibuka.
Kekurangan Guru Capai 652 Orang
Herry Karnadi mengungkapkan, hingga Juli 2026 sekolah negeri di Kota Bogor masih kekurangan 652 guru. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah karena rata-rata sekitar 20 guru memasuki masa pensiun setiap bulan.
Jika tren tersebut berlanjut, pada akhir 2026 Kota Bogor diproyeksikan mengalami kekurangan sekitar 800 guru.
“Program ini kami anggap sebagai solusi, walaupun belum permanen. Ini adalah langkah yang bisa dilakukan saat ini untuk menyiasati kekurangan guru karena kita tidak bisa lagi melakukan rekrutmen guru dari jalur honorer,” ujarnya.
SD Jadi Jenjang yang Paling Kekurangan Guru
Disdik Kota Bogor mencatat kebutuhan guru terbesar berada di jenjang Sekolah Dasar (SD).
Rinciannya meliputi:
- Sekitar 450 guru SD masih dibutuhkan.
- Sekitar 200 guru SMP masih belum terpenuhi.
- Kekurangan mencakup guru kelas, guru mata pelajaran, hingga guru Bimbingan Konseling (BK).
Menurut Herry Karnadi, tingginya kebutuhan guru SD dipengaruhi jumlah sekolah dasar negeri di Kota Bogor yang mencapai 197 sekolah.
Program Mahasiswa Mengajar Belum Menutupi Seluruh Kebutuhan
Pada tahap awal, sambungnya, sebanyak 135 mahasiswa diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk membantu proses pembelajaran.
Meski demikian, Disdik Kota Bogor mengakui jumlah tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan guru.
“Kami menyadari masih ada kekurangan. Program ini bukan solusi permanen, baik dari sisi jumlah, status pengajar, maupun masa penugasannya yang hanya enam bulan. Tetapi setidaknya kelas tidak kosong dan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan,” ucap Herry Karnadi.
Ia menambahkan, program tersebut menjadi alternatif sambil menunggu formasi guru melalui seleksi CPNS maupun PPPK, yang jumlahnya terbatas dan tidak selalu dibuka setiap tahun.
Program Berjalan Tiga Tahun dan Dievaluasi Berkala
Disdik Kota Bogor bersama perguruan tinggi menyepakati pelaksanaan Program Mahasiswa Mengajar selama tiga tahun sebagai langkah jangka menengah.
Dalam skema kerja sama tersebut, setiap gelombang mahasiswa bertugas selama enam bulan, kemudian digantikan oleh peserta berikutnya.
Ke depan, jumlah mahasiswa yang diterjunkan akan disesuaikan dengan kondisi kebutuhan guru di sekolah.
Apabila kebutuhan guru telah terpenuhi melalui rekrutmen CPNS, PPPK, atau kebijakan baru mengenai tenaga honorer, jumlah peserta program dapat dikurangi secara bertahap atau dihentikan.
Kabid SD: Guru Sangat Terbantu Kehadiran Mahasiswa
Kepala Bidang SD Disdik Kota Bogor, Asep Faizal Rahman mengatakan kolaborasi dengan Universitas Pakuan dan Universitas Ibn Khaldun menjadi langkah awal yang positif dalam mengatasi kekurangan guru.
Menurutnya, mahasiswa pendidikan tidak hanya memperoleh pengalaman mengajar secara langsung, tetapi juga membantu sekolah mempertahankan kualitas pembelajaran.
“Bagi kami di sekolah, guru-guru sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa jurusan keguruan, terutama untuk posisi guru kelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum program berjalan, tidak sedikit guru yang harus menangani dua kelas sekaligus karena keterbatasan tenaga pendidik.
Dengan adanya mahasiswa pengajar, pembagian tugas menjadi lebih ringan sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih efektif.
Disdik: Program Mahasiswa Mengajar Jadi Solusi Sementara
Asep Faizal Rahman menegaskan, Program Mahasiswa Mengajar bukan solusi instan untuk mengatasi seluruh kekurangan guru di Kota Bogor.
Namun, menurutnya, program tersebut merupakan langkah nyata yang lebih baik dibandingkan tidak melakukan upaya apa pun.
Ia berharap kebutuhan guru di Kota Bogor ke depan tetap dapat dipenuhi melalui rekrutmen CPNS maupun PPPK, sementara kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi solusi alternatif yang memberikan manfaat bagi sekolah sekaligus mahasiswa calon guru.
Penulis: YB













