Mantan Agen CIA Ditangkap, FBI Temukan Ratusan Batangan Emas Senilai Rp714 Miliar

ja claude 2405 1779962515780 1024x675 1
Ilustrasi. Foto: journalarta

DINEWS.ID – Mantan agen Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA), David Rush, ditangkap setelah diduga menggelapkan ratusan batangan emas senilai sekitar US$40 juta atau setara Rp714 miliar milik pemerintah Amerika Serikat.

Penangkapan dilakukan tim gabungan CIA dan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) pada 19 Mei 2026 di kediaman Rush. Dalam penggeledahan tersebut, aparat menemukan sekitar 303 batangan emas, uang tunai sekitar US$2 juta, serta puluhan jam tangan mewah bermerek.

Kasus ini mencuat setelah CIA melakukan penyelidikan internal terkait dugaan pelanggaran hukum yang melibatkan Rush. Direktur CIA John Ratcliffe kemudian menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada FBI untuk proses hukum lebih lanjut.

Rush kini ditahan dan menunggu sidang penahanan di pengadilan federal Alexandria, Virginia.

Berdasarkan dokumen pengadilan, Rush diketahui merupakan mantan pejabat senior di lembaga pemerintah Amerika Serikat yang memiliki akses terhadap informasi rahasia tingkat tinggi.

Penyidik menduga Rush telah menggelapkan aset pemerintah sejak 2009 hingga Mei 2026. Ia juga diduga menerima sejumlah besar mata uang asing dan puluhan juta dolar dalam bentuk batangan emas dengan dalih kebutuhan operasional pekerjaan.

Namun dalam penyelidikan CIA, tidak ditemukan catatan penggunaan aset tersebut untuk kepentingan dinas maupun laporan pertanggungjawaban resmi.

Selain dugaan penggelapan, Rush juga disebut berulang kali memberikan informasi palsu terkait latar belakang pendidikan dan karier militernya dalam berbagai dokumen lamaran pekerjaan pemerintah AS.

Ia diketahui pernah mengklaim memiliki gelar dari Universitas Clemson dan Institut Politeknik Rensselaer serta mengaku sebagai pilot angkatan laut. Namun penyidik tidak menemukan bukti yang mendukung klaim tersebut.

Catatan pemerintah AS juga menunjukkan Rush diduga menerima kompensasi cuti militer sekitar US$77 ribu meski tidak lagi aktif bertugas di Angkatan Laut Cadangan sejak 2015.

Kasus ini menjadi perhatian publik di Amerika Serikat karena melibatkan mantan pejabat intelijen dengan akses terhadap aset dan informasi strategis negara. (Red/***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *