DINEWS.ID – Harga emas melonjak mendekati titik tertinggi sepanjang masa di awal pekan ini, dipicu oleh tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang memperkuat harapan akan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.
Emas spot tercatat naik 0,4% ke level US$ 3.648,55 per ons, mendekati rekor sebelumnya pada Selasa (9/9/2025) sebesar US$ 3.673,95. Sepanjang minggu ini, logam mulia tersebut telah menguat 1,7% dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan keempat secara beruntun.
Menurut Daniel Pavilonis, analis senior di RJO Futures, “Penurunan kondisi ketenagakerjaan dan inflasi yang fluktuatif menjadi pertimbangan utama The Fed dalam menurunkan suku bunga, yang pada gilirannya mendorong harga emas karena kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang.”
Data ekonomi terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam klaim tunjangan pengangguran, penurunan pada sektor penggajian nonpertanian, serta revisi yang menghapus 911.000 pekerjaan dari angka tahun sebelumnya—semua ini mengindikasikan perlambatan ekonomi.
Meski inflasi konsumen pada Agustus mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, investor lebih fokus pada pelemahan pasar tenaga kerja sebagai dasar ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga.
Giovanni Staunovo dari UBS memperkirakan, “Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan meningkatnya aliran dana ke ETF emas, kami memproyeksikan harga emas akan mencapai US$ 3.900 per ons pada pertengahan tahun depan.”
Di pasar logam lainnya, perak spot naik 1,7% ke US$ 42,26 per ons—level tertinggi dalam 14 tahun. Platinum menguat 1,2% ke US$ 1.395,05, dan paladium naik 1,3% ke US$ 1.202,93. Ketiga logam ini diperkirakan akan mencatatkan kenaikan mingguan.







