DINEWS.ID – Ancaman timbunan limbah elektronik (e-waste) di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, kini berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan seiring masifnya penggunaan perangkat digital tanpa dibarengi sistem pembuangan yang aman.
Menghadapi risiko lingkungan tersebut, pergerakan tata kelola sampah digital fungsional mulai dipacu dengan menjadikan ekosistem pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Jabodetabek sebagai basis utama pemulihan.
Berdasarkan data Global e-Waste Monitor 2024, Indonesia saat ini menempati posisi sebagai salah satu negara penghasil limbah elektronik terbesar di Asia Tenggara. Total akumulasi timbunan zat berbahaya dari sisa perangkat elektronik di tanah air telah menembus angka fantastis sebesar 1,9 juta ton pada tahun 2022 lalu.
Secara makro di tingkat global, Laporan Global E-waste Monitor 2022 mencatat sebanyak 62 juta ton e-waste diproduksi di seluruh penjuru dunia setiap tahunnya. Parahnya, sekitar 77,7 persen dari total limbah berbahaya tersebut telanjur dibuang dan tidak dikelola melalui proses daur ulang yang benar.
Guna memutus rantai pencemaran lingkungan hulu tersebut, gerakan keberlanjutan #SayangBumi bentukan Acer Indonesia memasuki tahun keenam dengan memfokuskan titik gerak pada edukasi usia muda.
Sebanyak 50 SMA di wilayah Jabodetabek digandeng untuk mengintegrasikan pembukaan posko pengumpulan limbah elektronik dengan program lokakarya (workshop) intensif mulai Juni hingga November 2026.
President Director Acer Indonesia, Leny Ng, menegaskan bahwa intervensi langsung ke klaster pendidikan ini bukan sekadar agenda musiman, melainkan langkah strategis kolektif untuk membangun kesadaran generasi yang akan menentukan wajah bumi dalam 20 hingga 30 tahun ke depan.
”Tahun ini kami memilih hadir di sekolah karena kami percaya bahwa generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan adalah generasi yang akan menentukan seperti apa bumi ini ke depan. Ini undangan bagi anak-anak muda Indonesia untuk memimpin perubahan dalam pengelolaan limbah elektronik secara bertanggung jawab,” jelas Leny Ng, Kamis (11/6/2026).
Melalui pembukaan titik pengumpulan di 50 SMA peserta serta beberapa lokasi tambahan di area metropolitan, gerakan ini mematok target pembersihan sebesar 5 ton e-waste sepanjang program berjalan. Target ini dipasang melampaui pencapaian tahun sebelumnya yang sukses menjaring total 3 ton sampah elektronik serta penanaman 2.000 bibit pohon untuk menekan emisi karbon.
Secara total, akan ada 150 siswa yang bertindak sebagai duta lingkungan aktif yang bertugas mengorganisir ribuan rekan sejawatnya serta menyebarkan literasi pentingnya memilah sampah elektronik di lingkungan rumah dan sekolah.
Untuk memastikan aspek keamanan operasional, pengolahan limbah elekrronik ini menggandeng EwasteRJ sebagai mitra daur ulang resmi yang telah mengantongi sertifikasi khusus dari otoritas terkait. Seluruh komponen komputer, ponsel, maupun perangkat elektronik bekas yang terkumpul dijamin akan diproses secara aman sesuai dengan standar baku mutu lingkungan agar tidak mencemari ekosistem tanah dan air.
Founder EwasteRJ, Rafa Jafar, menyambut positif keterlibatan aktif sektor industri dan komunitas pelajar dalam menangani isu krusial ini. Dirinya berharap skema pengumpulan massal ini mampu menjadi pemantik bagi publik luas untuk mulai peduli terhadap bahaya laten sampah digital.
”Inisiatif ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan harus secara kolektif. Kami berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya pengelolaan limbah elektronik,” pungkas Rafa. (Yis)








