DINEWS.ID – Pemerintah Iran menyerukan warganya untuk menghemat air dan energi di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah negara itu. Suhu udara di sejumlah wilayah dilaporkan mencapai lebih dari 50 derajat Celsius, menyebabkan sungai-sungai mengering dan waduk mendekati titik kritis.
Badan meteorologi Iran menyebutkan pekan ini sebagai minggu terpanas sepanjang tahun, dengan suhu tertinggi tercatat mencapai 52,8 derajat Celsius di Kota Shabankareh, Iran bagian barat daya. Data dari ahli iklim Maximiliano Herrera dan lembaga meteorologi Inggris juga menunjukkan suhu ekstrem lainnya, yakni 51,6 derajat Celsius di Abadan pada 17 Juli 2025 dan 50,3 derajat Celsius di Ahwaz pada 21 Juli 2025.
Di ibu kota Teheran, suhu tercatat 41 derajat Celsius selama dua hari berturut-turut. Pemerintah Provinsi Teheran pun menetapkan hari libur pada Rabu (23/7/2025) untuk menekan konsumsi energi dan air.
“Gunakan hari libur untuk beristirahat bersama keluarga dan tetap hemat energi,” kata juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani.
Krisis juga berdampak pada distribusi air bersih. Sejumlah wilayah di Teheran mengalami pemadaman air hingga 12 jam per hari. Sementara itu, pemadaman listrik bergilir hingga sembilan jam per hari terjadi di Kota Masyhad.
Iran telah mengalami kekeringan selama lima tahun terakhir. Menteri Energi Iran, Abbas Aliabadi, menyatakan bahwa sejumlah waduk utama dapat mengering sepenuhnya jika suhu ekstrem terus berlanjut. Pemerintah bahkan mempertimbangkan untuk mengimpor air minum dari negara-negara tetangga seperti Turkmenistan, Afghanistan, Tajikistan, dan Uzbekistan.
Saat ini, Bendungan Karaj yang menjadi salah satu sumber air utama Provinsi Teheran hanya terisi sekitar 50 persen dari kapasitas maksimal. Kondisi serupa juga terjadi di Bendungan Lar yang nyaris kosong, serta tiga bendungan lainnya – Latian, Taleqan, dan Mamloo – yang mengalami penurunan pasokan dibandingkan tahun lalu.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Minggu (20/7/2025) menyatakan bahwa krisis air di negaranya jauh lebih serius dari yang selama ini dibicarakan. Ia mendorong pembentukan kelompok kerja bersama antara pemerintah dan akademisi serta peningkatan edukasi publik terkait pola konsumsi air.
“Jika kita tidak bertindak sekarang, kita akan menghadapi situasi yang tidak bisa diperbaiki,” ujarnya. ***













