UIKA Bogor Gandeng Menteri Pendidikan Malaysia, Bidik Kolaborasi Pendidikan dan Riset AI

WhatsApp Image 2026 10 24 at 22.52.01
Pertemuan Rektor UIKA dan Menteri Pendidikan Malaysia. Dok: Istimewa

DINEWS.ID – Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menjajaki kolaborasi strategis dengan Kementerian Pendidikan Malaysia untuk memperkuat pendidikan keluarga, penelitian, literasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung lahirnya masyarakat madani yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan Rektor UIKA Bogor, Prof. Mujahidin, dengan Menteri Pendidikan Malaysia, YB Datuk Seri Fadhlina Sidek, di Kantor Kementerian Pendidikan Malaysia, Putrajaya, Kamis, 22 Oktober 2026.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak bertukar pandangan mengenai tantangan pendidikan modern. Salah satu perhatian utamanya adalah menghidupkan kembali tradisi intelektual sekaligus memperkuat peran keluarga dalam membentuk karakter generasi muda.

Kolaborasi ini juga mencakup peluang riset bersama, penerbitan buku, pengembangan literasi lintas bahasa, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran dengan tetap memperhatikan etika dan nilai kemanusiaan.

Pendidikan Keluarga Jadi Prioritas Riset Bersama

Rektor UIKA Bogor, Prof. Mujahidin, yang juga Guru Besar Pendidikan Masyarakat FKIP UIKA Bogor, mengusulkan agar pendidikan masyarakat dan keluarga menjadi salah satu prioritas dalam riset serta pengabdian bersama.

Menurutnya, keluarga memiliki posisi mendasar dalam pembentukan karakter anak. Konsep al-madrasah al-ula atau sekolah pertama menggambarkan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan awal bagi anak untuk belajar dan mengenal nilai-nilai kehidupan.

“Pendidikan masyarakat sangat terkait dengan upaya pemberdayaan berbagai entitas agar menjadi lebih siap dalam menghadapi tantangan zaman,” ujar Prof. Mujahidin.

Penguatan pendidikan keluarga dinilai semakin relevan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital. Orang tua tidak hanya menghadapi tantangan dalam mendampingi tumbuh kembang anak, tetapi juga perlu memahami perubahan pola komunikasi, arus informasi, dan penggunaan teknologi.

Karena itu, rencana riset bersama akan diarahkan pada sejumlah isu, mulai dari pola pengasuhan, komunikasi antara orang tua dan anak, pendidikan karakter, penguatan literasi, hingga pendampingan generasi muda agar dapat memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Fokus tersebut diharapkan dapat mempertemukan kajian akademik dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam memperkuat peran keluarga dan lingkungan sosial sebagai bagian dari proses pendidikan.

Mohammad Natsir dan Siddiq Fadzil Jadi Inspirasi Kolaborasi

Selain pendidikan keluarga, pertemuan UIKA Bogor dan Kementerian Pendidikan Malaysia turut membahas pentingnya menghidupkan kembali warisan pemikiran tokoh dari kedua negara.

Anggota delegasi UIKA Bogor, Fathurrahman Mahfudz, yang juga Wakil Ketua YPIKA sekaligus Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), mengusulkan penguatan kajian terhadap pemikiran Mohammad Natsir dari Indonesia dan Datuk Dr. Siddiq Fadzil dari Malaysia.

Gagasan tersebut diarahkan untuk memperkaya tradisi intelektual dan memperluas ruang dialog akademik antara Indonesia dan Malaysia. Pemikiran tokoh-tokoh tersebut dapat menjadi bahan kajian dalam memahami hubungan antara pendidikan, nilai-nilai masyarakat, dan pembentukan karakter.

Menteri Pendidikan Malaysia, YB Datuk Seri Fadhlina Sidek, menyambut positif usulan tersebut sebagai peluang kolaborasi.

Peluang kerja sama yang dibahas mencakup pengembangan literasi, penerbitan buku, publikasi lintas bahasa, serta penelitian mengenai pendidikan kontemporer.

Melalui pendekatan tersebut, kerja sama akademik diharapkan tidak hanya memperkuat pertukaran pengetahuan, tetapi juga membuka akses yang lebih luas terhadap karya dan gagasan intelektual dari kedua negara.

UIKA Bogor dan Malaysia Bahas Etika Penggunaan AI

Perkembangan kecerdasan buatan juga menjadi perhatian dalam pembahasan kolaborasi pendidikan tersebut.

AI semakin membuka peluang pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar, pengembangan materi pendidikan, dan penelitian. Namun, penggunaannya juga membutuhkan perhatian terhadap etika, tanggung jawab, serta nilai-nilai kemanusiaan.

UIKA Bogor dan Kementerian Pendidikan Malaysia berencana mengembangkan seminar akademik dan publikasi ilmiah untuk membahas pemanfaatan AI dalam pembelajaran.

Pembahasan ini diarahkan agar penggunaan teknologi dapat mendukung proses pendidikan tanpa mengabaikan nilai etis yang menjadi landasannya.

Melalui forum akademik dan publikasi ilmiah, kedua pihak berpeluang memperluas diskusi mengenai tantangan pendidikan di era digital, termasuk bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab dalam lingkungan pendidikan.

Meski demikian, rencana tersebut masih merupakan bagian dari agenda kolaborasi yang dibahas dalam pertemuan. Mekanisme pelaksanaan dan prioritas program konkret masih perlu dirumuskan lebih lanjut.

Menteri Pendidikan Malaysia Diundang ke Kampus UIKA Bogor

Sebagai langkah lanjutan, Prof. Mujahidin secara resmi mengundang YB Datuk Seri Fadhlina Sidek untuk berkunjung ke Kampus UIKA Bogor.

Undangan tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk membahas lebih lanjut pelaksanaan kerja sama, termasuk penentuan prioritas program pendidikan keluarga, literasi, dan riset terpadu.

Dalam pertemuan itu, Prof. Mujahidin juga memaparkan sejarah singkat UIKA Bogor sebagai kampus perjuangan yang berdiri pada 1961 atas prakarsa KH Sholeh Iskandar bersama para ulama dan pejuang umat.

UIKA Bogor memiliki komitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kunjungan balasan dari Menteri Pendidikan Malaysia diharapkan menjadi momentum untuk merumuskan langkah nyata kolaborasi bilateral di bidang pendidikan.

Dengan fokus pada pendidikan keluarga, penguatan literasi, kajian pemikiran tokoh, serta etika pemanfaatan AI, kerja sama ini diarahkan untuk mendukung pembentukan generasi yang berkarakter dan siap menghadapi perubahan zaman.

Pada tahap berikutnya, kejelasan program, mekanisme pelaksanaan, dan tindak lanjut riset akan menjadi bagian penting untuk menerjemahkan inisiasi kerja sama tersebut menjadi kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *