Bertahan di Tengah Transportasi Modern, Kusir Delman Bogor Jalani Profesi Demi Kemandirian

images 27
Delman. Foto: lovelybogor

DINEWS.ID – Di tengah perkembangan transportasi modern, keberadaan delman sebagai salah satu moda transportasi tradisional sekaligus sarana rekreasi masih tetap bertahan di Kota Bogor.

Di balik laju kereta kuda yang membawa penumpang berkeliling kota, terdapat para kusir yang terus menjaga eksistensi transportasi tradisional tersebut. Salah satunya Siri Maulana, pemuda berusia 18 tahun yang telah menekuni profesi sebagai kusir delman.

Maulana mengaku sudah menjalani pekerjaan tersebut selama dua tahun terakhir. Ia memilih menjadi kusir delman sebagai bentuk kemandirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Saya mah murni nyari uang sendiri,” ujar Maulana saat menceritakan alasannya memilih profesi sebagai kusir delman.

Dalam kesehariannya, Maulana mengemudikan delman yang mampu membawa hingga lima orang penumpang. Namun, jumlah penumpang sangat bergantung pada waktu dan momen tertentu, terutama saat akhir pekan atau musim liburan.

Pada hari biasa, Maulana mulai mencari penumpang sekitar pukul 11.00 WIB. Sementara saat Sabtu dan Minggu, ia harus mulai bersiap lebih pagi karena jumlah wisatawan biasanya meningkat.

“Kalau Sabtu-Minggu beda, dari jam 6 pagi sudah standby. Kadang ramainya cuma hari Sabtu dan Minggu. Kalau sedang ramai, dapat sekitar Rp300 ribu kotor,” katanya.

Meski beraktivitas di kawasan kota, Maulana tidak bekerja hingga malam hari. Biasanya, ia bersama kusir lainnya mulai kembali menuju kandang kuda di kawasan Cimanggu sekitar pukul 17.00 hingga 17.30 WIB.

Pendapatan Disisihkan untuk Kebutuhan Kuda

Dalam menjalankan profesinya, para kusir delman di Kota Bogor bekerja secara mandiri tanpa berada di bawah komunitas atau sistem pembagian jadwal tertentu. Aktivitas mereka berjalan berdasarkan kebiasaan dan kondisi di lapangan.

Maulana menjelaskan, pendapatan kotor yang diperoleh setiap hari belum sepenuhnya menjadi penghasilan bersih. Sebagian harus dialokasikan untuk kebutuhan operasional, terutama menjaga kondisi kuda yang menjadi bagian utama dalam pekerjaannya.

Biaya tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan selama beroperasi, seperti gula dan air minum untuk kuda saat berada di jalan. Sementara kebutuhan pakan utama diberikan setelah kuda kembali ke kandang.

“Uang tarikan dipotong dulu buat operasional, seperti beli gula dan air untuk minum kuda saat narik. Kalau untuk makan, dikasih dedak sama ampas tahu setelah kuda pulang ke kandang,” jelas Maulana.

Bagi Maulana, menjaga kesehatan kuda menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Sebab, tanpa kondisi kuda yang prima, aktivitas delman tidak dapat berjalan dengan baik.

Di tengah gempuran kendaraan modern, Maulana dan para kusir lainnya masih terus mempertahankan keberadaan delman sebagai bagian dari wajah transportasi tradisional Kota Bogor. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *