DINEWS.ID – Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren pelemahan setelah situasi geopolitik di Timur Tengah mereda pasca kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat suplai minyak global kembali lancar, sehingga menekan harga di pasar internasional. Pada perdagangan Kamis (25/6), harga minyak Brent tercatat melemah menjadi US$73,34 per barel, turun 0,54 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga turun ke level US$70,07 per barel.
Perubahan ini langsung berdampak pada ekspektasi pasar energi di dalam negeri, khususnya terkait kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada periode mendatang.
Sejumlah pengamat menilai, harga BBM nonsubsidi di Indonesia memang tidak lepas dari pergerakan harga minyak mentah dunia. Namun, penyesuaian tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui mekanisme perhitungan rata-rata bulanan yang menjadi acuan pemerintah.
Praktisi migas menilai, apabila tren penurunan harga minyak bertahan, ruang koreksi harga BBM terbuka pada bulan berikutnya. Namun, kepastian arah harga sangat bergantung pada rata-rata harga minyak dalam satu siklus perhitungan.
Di sisi lain, fluktuasi harga minyak juga kembali menegaskan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Dengan produksi kilang domestik yang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi, perubahan harga global dengan cepat tercermin pada struktur biaya energi nasional.
Dalam jangka pendek, kondisi ini berpotensi menjadi tekanan bagi kebijakan harga BBM nonsubsidi. Namun dalam jangka panjang, pengamat menilai momentum pelemahan harga minyak seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Sejumlah langkah seperti peningkatan kapasitas kilang, penambahan fasilitas penyimpanan, serta diversifikasi energi melalui pengembangan energi baru terbarukan dinilai menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Selain itu, percepatan transisi dari energi fosil menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan juga dianggap penting untuk mengurangi kerentanan Indonesia terhadap gejolak harga minyak dunia.
Dengan kondisi pasar energi global yang masih dinamis, arah kebijakan harga BBM ke depan diperkirakan tetap sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan tren pasokan minyak internasional. (Red)













