Festival Sidekah Bumi Mulyaharja Gunakan Koin Bambu “Batok” untuk Transaksi Kuliner Murah

WhatsApp Image 2026 06 16 at 16.33.32
Koin Bambu Batok alat transaksi yang digunakan warga Mulyaharja Bogor dalam Puncak Sidekah Bumi dan Festival Jajanan Lembur, Selasa (16/06).

DINEWS.ID – Di tengah bayang-bayang fluktuasi ekonomi dan tren inflasi yang mengerek harga kebutuhan pokok, masyarakat Lembur Sawah, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, justru menawarkan oase kuliner murah dalam gelaran Sidekah Bumi & Festival Jajanan Lembur 2026, Selasa (16/6).

​Uniknya, festival ini tidak menggunakan uang rupiah tunai maupun digital sebagai alat transaksi langsung di area bazar. Pengunjung yang ingin mencicipi aneka kuliner tradisional khas pedesaan diwajibkan menukarkan uang mereka dengan mata uang khusus bernama “Batok”, sebuah koin replika bernuansa tradisional yang terbuat dari potongan bambu.

​Sistem nilai tukar yang diterapkan panitia pun sangat sederhana, di mana satu koin Batok bambu memiliki nilai setara dengan Rp5.000. Kendati situasi ekonomi di luar area festival sedang dibayangi inflasi, harga rata-rata jajanan jadul yang dijajakan oleh warga setempat terpantau sangat stabil dan ramah di kantong, yakni berkisar antara satu hingga tiga koin Batok (setara Rp5.000 sampai Rp15.000).

​Penyelenggara acara sekaligus Pengelola Saung Eling, Siti Nurfazriah, menjelaskan bahwa penggunaan koin bambu Batok ini sengaja dirancang untuk menghadirkan kembali atmosfer niaga zaman dulu sekaligus menjaga stabilitas harga produk lokal yang dijual oleh warga.

​”Kami menambahkan inovasi seperti Festival Jajanan Lembur dan perlombaan tari agar lebih menarik. Hasilnya, tidak hanya masyarakat lokal yang terlibat, tetapi masyarakat umum dari luar kota bahkan wisatawan mancanegara pun pernah turut hadir,” ujar Siti Nurfazriah di lokasi festival, Selasa (16/6).

​Melalui standardisasi harga berbasis koin Batok ini, warga pelaku UMKM setempat tetap bisa meraup keuntungan tanpa harus membebani pengunjung dengan harga yang tinggi. Hal ini sejalan dengan esensi dasar Sidekah Bumi yang menekankan asas gotong royong dan pemerataan berkah dari hasil alam.

​”Secara makna, Sidekah Bumi adalah ungkapan syukur dari kami warga Lembur Sawah atas hasil panen dan kebun, sekaligus doa serta harapan agar di tahun berikutnya kita terhindar dari bala dan panen yang dihasilkan menjadi lebih berkah,” pungkas Siti.

​Sistem transaksi unik dengan koin bambu ini pun sukses menarik perhatian ratusan pengunjung. Banyak di antara mereka yang menilai metode ini berhasil menjadi penangkal psikologis dari kejenuhan masyarakat terhadap mahalnya harga-harga barang akibat inflasi di pasar modern saat ini. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *