Ditawar Murah, Pengrajin Tempe di Bogor Tolak Tawaran Pembelian Program MBG

WhatsApp Image 2026 06 05 at 19.53.09
Rohmat (57), pemilik usaha Tempe di Kawasan Cimanggu Bogor

DINEWS.ID – Pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat daerah rupanya belum sepenuhnya berpihak pada para pelaku usaha mikro di sektor hilir.

Salah seorang pengrajin tempe rumahan di Kota Bogor secara terbuka menyatakan memilih untuk menolak tawaran pembelian atau pesanan untuk program MBG tersebut lantaran harga yang diajukan oleh pihak ketiga atau katering kerap ditawar terlalu murah dan merugikan.

​Pemilik usaha Tempe Super Mas Jono di kawasan Cimanggu Barata, Kecamatan Tanah Sareal, Pak Rohmat (57), mengungkapkan bahwa produk tempe miliknya yang biasa dijual dengan harga normal Rp10.000 per potong (dengan berat sekitar 8 ons), kerap ditawar oleh pihak pengelola katering program MBG di kisaran harga Rp2.000 hingga Rp4.000 saja. Skema penawaran yang terlampau rendah itu dinilai sangat menekan pengrajin tradisional di tengah ketidakstabilan modal.

​”Itu sistemnya ke katering, tapi spek harganya merugikan pengrajin. Daripada rugi Rp2.000 per potong, kalau habis 100 potong sudah rugi Rp200.000, ngapain capek-capek produksi? Ya berat, saya tidak mau melayani,” tegas Rohmat saat ditemui di tempat produksinya, Jumat (5/6/2026).

​Sikap untuk menolak pesanan murah tersebut diambil karena para pengrajin tempe saat ini sedang berjuang keras menghadapi hantaman kenaikan harga bahan baku utama yang kian meroket akibat melonjaknya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).

Rohmat membeberkan, harga kacang kedelai impor asal Amerika di pasaran saat ini telah menembus angka Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram.
​Padahal, sekitar tiga hingga empat bulan lalu, harga komoditas tersebut masih berada di bawah Rp10.000, tepatnya sempat menyentuh angka Rp8.700 sebelum merangkak naik secara berkala melewati angka Rp9.200 dan Rp9.500. Situasi ini kian diperparah oleh pembengkakan harga bahan pendukung seperti plastik kemasan, di mana harga per ikat melonjak drastis dari yang biasanya Rp17.000 kini melambung menjadi Rp26.000.

​”Terkait kondisi dolar yang makin naik, otomatis harga kedelai ikut naik. Kalau dihitung dengan kurs dolar sekarang, berat bagi teman-teman pengrajin untuk membeli kedelai,” keluhnya.

​Kendati modal produksi membengkak secara signifikan, pria asal Pekalongan yang sudah memproduksi tempe sejak tahun 1982 ini memilih untuk tidak ikut melakukan aksi mogok produksi. Menurutnya, mogok kerja justru lebih berisiko bagi kelangsungan pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak sekolah yang terus berjalan.

​Sebagai gantinya, Rohmat menerapkan siasat bertahan dengan memangkas kapasitas produksi harian dari yang semula menghabiskan 80 kilogram kedelai menjadi 50 hingga 60 kilogram saja per hari, serta sedikit memperkecil dimensi ukuran tempe yang dicetaknya.

Ia menegaskan cara yang dilakukan dengan memperkecil ukuran ini sengaja dipilih dibanding menaikkan harga jual normal agar tidak membebani daya beli masyarakat bawah di Kota Bogor yang saat ini dinilai belum sepenuhnya stabil. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *