Seskab Teddy Sebut Kelebihan Biaya Kunjungan Luar Negeri Ditanggung Pribadi Presiden Prabowo

WhatsApp Image 2025 12 12 at 12.31.44 1024x683 1
Presiden Prabowo saat Melakukan Kunjungan ke Luar Negeri. Dok: ksp.go.id

DINEWS.ID – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya meluruskan sejumlah kritik dan masukan terkait efisiensi serta protokoler kunjungan luar negeri (LN) kepala negara. Teddy menegaskan bahwa sistem penganggaran perjalanan dinas internasional di era pemerintahan saat ini dilakukan secara sangat ketat dan akuntabel.

​Hal tersebut disampaikan Teddy guna merespons sekaligus menglarifikasi catatan yang diberikan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Salah satu poin krusial yang digarisbawahi Seskab adalah mengenai pembiayaan perjalanan yang melebihi pagu negara.

​”Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” ujar Teddy Indra Wijaya dalam keterangannya melalui video yang dilansir dari kanal YouTube Kementerian Sekretariat Negara RI, Selasa (2/6/2026).

​Selain masalah anggaran, Teddy membeberkan bahwa jumlah rombongan yang mendampingi presiden saat melakukan diplomasi internasional telah dipangkas secara besar-besaran jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

​”Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran, lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi kalau dulu itu sekali keluar negeri bisa lebih dari 120 orang, nah zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” bebernya.

​Menjawab kritik mengenai frekuensi kunjungan luar negeri dalam satu setengah tahun terakhir, Teddy menjelaskan bahwa Presiden Prabowo mulai menjabat di saat situasi dunia sedang menghadapi dinamika global dan krisis multidimensi yang sangat dinamis. Mulai dari konflik di Ukraina, Venezuela, Iran, hingga ketegangan di kawasan Timur Tengah.

​Menurut Teddy, intensitas pertemuan antarpemimpin dunia, baik yang diliput media maupun yang bersifat tertutup, murni dilakukan untuk membangun kedekatan emosional (personal) yang kuat, bukan sekadar untuk formalitas seremonial semata. Hubungan baik ini dinilai krusial agar Indonesia bisa dengan cepat saling membantu di saat kondisi mendesak. (Yis/***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *