Populasi Harimau Sumatra di Garis Merah, Tersisa Sekitar 400 Ekor

WhatsApp Image 2026 10 07 at 16.43.47 1
Harimau Sumatra dalam program konservasi Taman Safari Indonesia. Dok: Istimewa

DINEWS.ID — Populasi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Taman Safari Indonesia (TSI) memprediksi jumlah kucing besar endemik Indonesia tersebut di seluruh dunia hanya tersisa sekitar 400 ekor.

WhatsApp Image 2026 10 07 at 16.43.46

Jumlah tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya konservasi Harimau Sumatra. Selain menghadapi penurunan populasi di alam liar, satwa ini juga memiliki tantangan tersendiri dalam proses perkembangbiakan di kawasan konservasi.

WhatsApp Image 2026 10 07 at 16.43.47

Vice President Life Science TSI, drh. Bongot Huaso Mulia, mengungkapkan bahwa proses reproduksi Harimau Sumatra di tempat konservasi tidak mudah.

Menurutnya, tingkat fertilitas atau kesuburan satwa tersebut tergolong rendah. Kondisi itu membuat proses reproduksi secara alami di tempat penangkaran menjadi jauh lebih sulit dibandingkan ketika Harimau Sumatra hidup bebas di alam liar.

“Spesies Harimau Sumatra ini memiliki tingkat fertilitas (kesuburan) yang rendah. Mereka menghadapi kesulitan dalam mereproduksi secara alami di tempat penangkaran, tidak seperti ketika mereka hidup leluasa di alam liar,” ungkap drh. Bongot.

Populasi Harimau Sumatra Hadapi Tantangan Reproduksi

Bongot menjelaskan, persoalan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan tingkat fertilitas. Harimau Sumatra juga memiliki karakteristik tersendiri dalam menentukan pasangan.

Satwa tersebut disebut cukup pemilih dalam menentukan kecocokan antara harimau jantan dan betina. Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang membuat proses perkembangbiakan di kawasan konservasi membutuhkan perhatian khusus.

“Jadi faktor hambatannya sangat banyak,” tegas Bongot.

Di tengah tantangan tersebut, TSI terus menjalankan upaya konservasi untuk menjaga keberlangsungan Harimau Sumatra.

Sejak 1995, TSI disebut telah berhasil menangkarkan sekitar 25 ekor anakan Harimau Sumatra. Saat ini, terdapat total 22 ekor Harimau Sumatra yang berada di seluruh kawasan TSI.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 ekor berada di TSI Bogor. Sementara itu, empat ekor bayi Harimau Sumatra berusia enam bulan berada di TSI Prigen.

Keberhasilan penangkaran tersebut menjadi bagian dari upaya TSI dalam menjaga keberlangsungan satwa yang populasinya terus menjadi perhatian.

PGI Dukung Konservasi Harimau Sumatra

Kondisi populasi yang disebut berada di garis merah tersebut turut mendorong keterlibatan sektor swasta dalam mendukung kegiatan konservasi.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR), Pusat Gadai Indonesia (PGI) memberikan bantuan pendanaan kepada Yayasan Taman Safari Indonesia.

Bantuan tersebut digunakan untuk mendukung riset dan operasional konservasi harian. Kebutuhannya antara lain pemenuhan pakan, penelitian reproduksi, hingga pengadaan unit mobil operasional.

Direktur Utama sekaligus Pendiri PGI, Andrew Susanto, mengatakan keterlibatan tersebut dilandasi kepedulian terhadap keberlangsungan Harimau Sumatra.

Menurut Andrew, kondisi populasi yang semakin terbatas perlu mendapat perhatian agar generasi mendatang tetap dapat melihat Harimau Sumatra secara langsung.

“Populasi Harimau Sumatra saat ini sangat kritis, hanya tersisa di kisaran 400 hingga 600 ekor. Alasan utama kami turun tangan adalah kepedulian; saya tidak mau anak atau cucu kita nanti tidak bisa lagi melihat Harimau Sumatra secara langsung,” tegas Andrew.

Dana CSR tersebut diserahkan langsung kepada Yayasan Taman Safari Indonesia. Dukungan itu diarahkan untuk memastikan kebutuhan program konservasi, terutama riset medis dan pemeliharaan satwa, tetap berjalan.

Bantuan tersebut juga menjadi bentuk keterlibatan sektor swasta dalam mendukung kegiatan konservasi yang membutuhkan dukungan operasional secara berkelanjutan.

Andrew Ajak Pengusaha Ikut Sokong Konservasi

PGI tidak hanya memberikan bantuan untuk kebutuhan konservasi di TSI. Ke depan, perusahaan tersebut juga merencanakan kunjungan ke TSI Prigen untuk memetakan kemungkinan dukungan tambahan bagi spesies terancam lainnya.

Andrew berharap upaya pelestarian satwa tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga konservasi. Ia mengajak pelaku usaha lainnya ikut memberikan dukungan terhadap program pelestarian satwa langka.

“Sebagai pecinta satwa, saya sangat berharap konservasi hewan-hewan langka kita bisa berjalan mulus. Saya juga mengajak para pengusaha lain untuk ikut bergerak, menyisihkan kepeduliannya untuk program pelestarian satwa yang sudah di ambang kepunahan ini,” pungkasnya.

Upaya konservasi Harimau Sumatra masih menghadapi tantangan, mulai dari kondisi populasi hingga proses reproduksi di kawasan konservasi. Dukungan terhadap riset, pemeliharaan, pakan, dan kebutuhan operasional menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan satwa tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *