Omzet Anjlok hingga 35 Persen, Pedagang Tahu Tempe Mulai Menjerit Akibat Rupiah Melemah

5ff2f67e4cefb
Ilustrasi (Istimewa)

DINEWS.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS mulai dirasakan pelaku usaha kecil, termasuk pedagang tahu dan tempe di pasar tradisional.

Tak hanya menghadapi kenaikan biaya produksi akibat bahan baku impor, para pedagang juga mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat yang berimbas pada merosotnya omzet penjualan.

Joni (47), pedagang tempe di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengaku pendapatannya menurun cukup signifikan dalam sebulan terakhir. Menurutnya, jumlah pembeli yang datang ke lapaknya semakin berkurang dibandingkan biasanya.

“Kalau untuk bulan ini memang berkurang,” kata Joni, Minggu (7/6/2026).

Ia memperkirakan omzet usahanya turun hingga sekitar 35 persen dibandingkan kondisi normal.

“Kurang lebih 35 persen,” ujarnya.

Menurut Joni, penurunan pendapatan lebih disebabkan melemahnya aktivitas belanja pelanggan. Bahkan sejumlah pelanggan tetap kini mulai jarang berbelanja.

Meski harga tempe di lapaknya masih bertahan di kisaran Rp8.000 per balok besar atau Rp15.000 untuk dua balok, ia mengakui harga bisa ikut naik apabila harga kedelai impor kembali meningkat.

“Kalau kedelainya naik, otomatis harga tempe juga naik,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Siti Ayu, pedagang sayur di kawasan Serdang, Kemayoran. Ia menyebut omzet hariannya turun dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp3,5 juta.

Menurutnya, banyak pelanggan kini mengurangi jumlah belanja untuk menyesuaikan kondisi ekonomi rumah tangga.

“Pendapatannya agak berkurang karena pembeli belanja juga dikurang-kurangin,” ujarnya.

Berbeda dengan menaikkan harga, Siti memilih mempertahankan harga jual tahu dan tempe. Namun untuk menekan biaya produksi, ukuran produk dibuat lebih kecil.

“Tempe sama tahu harganya tetap, cuma cetakannya diperkecil,” katanya.

Kondisi yang dialami para pedagang tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengakui pelemahan rupiah mulai menekan pelaku usaha tahu dan tempe karena masih bergantung pada kedelai impor.

“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu, sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan baku masih impor,” ujar Purbaya.

Menurutnya, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha kecil.

Pemerintah saat ini berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui koordinasi dengan Bank Indonesia. Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga daya beli masyarakat agar permintaan terhadap produk kebutuhan pokok seperti tahu dan tempe tetap terjaga.

“Kalau rupiah menguat, otomatis cost of production mereka turun. Kita juga harus memastikan demand-nya tetap ada, sehingga produk mereka tetap dibeli masyarakat,” kata Purbaya. (Red/***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *