Bima mengaku, 10 tahun lalu dirinya memproyeksikan Kecamatan Tansa sebagai wajah Metropolitan Kota Bogor. Bogor tidak akan pernah jadi kota metropolitan, tapi sisi metropolitan yang mendekati ada di Tansa. Dengan flyover Sholeh Iskandar yang membelah jalan, kiri kanan memiliki prospek untuk menjadi ruas jalan seperti di Casablanka di Jakarta.
“Tapi kita lihat, kiri kanan belum diatur pertokoannya. Saya kira, Perwali bisa mengatur itu, pedestrian juga belum sampai ke sana, jadi susah buat menyeberang. Ini kalau ditata akan luar biasa, bisa jadi wajah Metropolitan sekaligus membangkitkan ekonomi,” jelasnya.
Hal terakhir dikatakannya, Kecamatan Tansa memiliki warga yang beragam, yang membuat kawasan ini terancam tidak memiliki karakter dan kebersamaan. Karena itu Bima memberikan saran agar setiap perencanaan dipikirkan ruang bersama untuk berkumpul. Seperti balai warga, ruang bermain ramah anak atau ruang-ruang yang bisa menyatukan warga untuk membangun kebersamaan.
“Saya juga titip sekolah satu atap, agar selalu diobservasi dan dievaluasi. Karena ini eksperimen dari penggabungan sekolah SD dan SMP. Pastikan anak-anak bisa sekolah dengan nyaman dan terhindar dari kekhawatiran,” tutupnya. /***













