DINEWS.ID – Ketua Umum Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyoroti fenomena “rojali” atau “rombongan jarang beli” yang kerap membuat para pedagang kesal. Rojali merujuk pada perilaku masyarakat yang datang ke toko atau pusat perbelanjaan hanya untuk melihat-lihat tanpa melakukan pembelian.
Menurut Budihardjo, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah pesatnya perkembangan pusat perbelanjaan. Ia menilai, pembangunan toko dan mal yang semakin baik seharusnya diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat.
“Sebenarnya kami harus menciptakan daya beli, menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi, enggak bisa cuma bikin toko atau mal sebagus-bagusnya, tapi yang beli enggak ada,” ujarnya disitat dari beritasatu.com, Kamis (24/7/2025).
Ia juga menyebut bahwa fenomena rojali erat kaitannya dengan melemahnya kemampuan membeli, serta perubahan gaya hidup masyarakat yang dipengaruhi oleh sistem kerja fleksibel seperti work from anywhere (WFA).
“Jadi, memang saat ini ada rojali tadi, tapi itu juga dipengaruhi oleh work from anywhere. Itu jadi satu customer behavior baru,” ungkapnya.
Budihardjo menilai penciptaan lapangan kerja merupakan salah satu solusi utama agar masyarakat memiliki kemampuan untuk berbelanja dan menggerakkan roda perekonomian di sektor ritel.***








