Daerah  

Imbas Pertamax Rp16.250 per Liter, Warga dan Ojol Desak Pemerintah Stabilkan Harga BBM

WhatsApp Image 2026 06 10 at 14.25.35
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (10/6)

DINEWS.ID – Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax nonsubsidi menjadi Rp16.250 per liter menuai reaksi dari lapisan masyarakat bawah hingga menengah di Kota Bogor.

Kenaikan drastis yang terpaut sekitar Rp4.000 dari harga sebelumnya Rp12.300 tersebut dinilai kian mencekik daya beli masyarakat kecil di tengah mahalnya harga kebutuhan pokok.

​Pantauan di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, menunjukkan gelombang keluhan dari para pengendara.

Konsumen mengeluhkan minimnya sosialisasi awal serta pembengkakan biaya operasional harian yang tidak sebanding dengan pendapatan.

​Seorang warga yang mengandalkan Pertamax untuk kendaraan hariannya, Rosita, mengaku terkejut dengan lonjakan harga yang dinilai terlalu tinggi tersebut. Baginya, penyesuaian tarif bensin ini langsung memangkas alokasi belanja dapur bagi para pekerja berpenghasilan pas-pasan.

​”Jujur, saya kaget dengan kenaikan ini. Pengeluaran untuk bensin jadi semakin berat. Harapan kami kepada pemerintah, kalau bisa harga BBM ini distabilkan kembali. Tolong buat kebijakan yang adil agar masyarakat kelas bawah tidak merasa tercekik oleh biaya hidup,” keluh Rosita saat ditemui di lokasi SPBU Cimahpar, Rabu (10/6/2026) siang.

​Selain menekan ekonomi rumah tangga, Rosita juga mengkhawatirkan dampak lanjutan dari kebijakan ini berupa potensi kelangkaan pasokan di lapangan yang kerap mengikuti skenario kenaikan harga barang.

​Dampak lainnya yang dirasakan dari melambungnya harga Pertamax juga langsung memukul sektor transportasi informal, khususnya para pengemudi ojek online (ojol). Meski mayoritas mengandalkan Pertalite, para driver mengaku tetap wajib mengisi penuh (full tank) tangki mereka dengan Pertamax beberapa kali dalam sebulan demi menjaga performa mesin kendaraan operasional kerja.

​Tajudin (35), seorang pengemudi ojol lokal, mengaku sangat keberatan dengan angka Rp16.250 per liter yang ditetapkan pemerintah. Kenaikan ini otomatis membuat kalkulasi pengeluaran harian untuk BBM yang biasanya berkisar Rp30.000 hingga Rp40.000 menjadi membengkak.

​”Pendapatan kami di lapangan kadang tidak menentu. Kalau biaya bensin terus naik sementara tarif orderan dari aplikator tidak ikut menyesuaikan, kami sering tekor di jalan. Sisa uang untuk dibawa pulang ke rumah jadi semakin menipis,” ungkap Tajudin terpukul.

​Tajudin juga menyayangkan tidak adanya notifikasi resmi atau pemberitahuan awal dari pihak manajemen aplikator ojol maupun pengurus grup WhatsApp resmi komunitas terkait rencana kenaikan komoditas energi ini.

​Para pengemudi di lapangan baru menyadari adanya lonjakan harga setelah informasi tersebut beredar luas di media massa dan menjadi bahan perbincangan antar-sesama rekan seprofesi saat sedang mengantre di SPBU.

​”Kami tahu-tahu dapat kabar dari media hari ini kalau harganya naik sampai Rp4.000 dari harga lama. Tolonglah pemerintah kalau mau menaikkan harga Pertamax pertimbangkan juga kondisi masyarakat kecil seperti kami yang pendapatannya pas-pasan agar tidak semakin terbebani untuk bekerja setiap hari,” pungkasnya. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *