Hari Santri 2026, Dedie Rachim Dorong Santri Tembus Daya Saing Global

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim memimpin Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Lapangan Kresna, Bantarjati, Bogor Utara.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim memimpin Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Lapangan Kresna, Bantarjati, Bogor Utara. Dok: Istimewa

DINEWS.ID – Santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama. Di tengah perubahan zaman, mereka juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir, berinovasi, dan berkolaborasi agar mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa. Pesan inilah yang ditekankan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dalam Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat Kota Bogor.

Kegiatan tersebut dipusatkan di Lapangan Kresna, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Kamis (22/10/2026) pagi. Dalam kesempatan itu, Dedie mengajak para santri mempersiapkan diri sejak dini untuk menghadapi tantangan masa depan, termasuk persaingan di tingkat global.

Menurut Dedie, generasi santri yang saat ini berusia sekitar 15 hingga 17 tahun akan memasuki usia produktif dan matang ketika Indonesia mencapai usia satu abad pada 2045. Rentang waktu tersebut menjadi kesempatan penting untuk membangun kualitas sumber daya manusia yang mampu berkontribusi bagi kemajuan negara.

“Santri menguatkan negeri menuju Indonesia Emas. Kalau dilihat dari usia, santri-santri ini kan usianya rata-rata 15 sampai 17 tahun. Indonesia Emas itu kita akan capai di tahun 2045, kurang lebih 19 tahun lagi. Nanti di usia-usia matang, mereka diharapkan menjadi garda terdepan bagi pembangunan dan pengembangan Indonesia yang berdaya saing global,” ujar Dedie A. Rachim di Lapangan Kresna, Kamis (22/10/2026).

Pesan tersebut menempatkan santri sebagai bagian dari generasi yang dipersiapkan untuk menghadapi masa depan Indonesia. Mereka tidak hanya diharapkan memiliki fondasi keagamaan yang kuat, tetapi juga mampu mengembangkan kapasitas diri agar dapat berkontribusi di berbagai bidang.

Santri Perlu Adaptif terhadap Perubahan Zaman

Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan dunia kerja, dan semakin luasnya hubungan antarnegara membuat generasi muda perlu memiliki kemampuan yang beragam. Dalam situasi tersebut, pendidikan menjadi salah satu bekal penting agar santri dapat mengikuti perkembangan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan mereka.

Saat menyampaikan amanat Menteri Agama Republik Indonesia, Dedie menegaskan bahwa pendidikan santri perlu mencakup penguasaan ilmu agama sekaligus kemampuan berinovasi dan bekerja sama.

“Melalui amanat Menteri Agama, santri bukan hanya mendapatkan ilmu tentang agama, tetapi juga harus mampu berinovasi sekaligus bersinergi dan menguatkan berbagai sektor di bangsa Indonesia ini,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya pengembangan pendidikan pesantren yang memberi ruang bagi santri untuk memperluas wawasan. Penguasaan ilmu keagamaan tetap menjadi bagian penting dari pendidikan mereka, sementara kemampuan lain dapat membantu santri menghadapi tantangan masyarakat modern.

Inovasi juga tidak selalu berarti menciptakan teknologi atau produk baru. Kemampuan menemukan solusi, mengembangkan gagasan, memanfaatkan pengetahuan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan merupakan bagian dari proses tersebut.

Begitu pula dengan kolaborasi. Pembangunan di berbagai sektor membutuhkan kerja bersama dari orang-orang dengan latar belakang dan keahlian berbeda. Santri yang memiliki kemampuan berkomunikasi serta bekerja sama berpeluang mengambil bagian dalam proses itu.

Meski demikian, daya saing global tidak terbentuk hanya melalui dorongan atau slogan. Penguatan kualitas pendidikan, kesempatan mengembangkan keterampilan, serta lingkungan belajar yang mendukung tetap menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda.

Menuju Indonesia Emas 2045

Target Indonesia Emas 2045 menjadi salah satu konteks penting dalam pesan yang disampaikan Dedie pada peringatan Hari Santri tahun ini. Generasi muda yang sedang menempuh pendidikan saat ini akan berada pada fase kehidupan produktif ketika Indonesia mencapai satu abad kemerdekaan.

Karena itu, persiapan sumber daya manusia perlu dilakukan sejak sekarang. Santri sebagai bagian dari generasi muda Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan keahlian sesuai minat dan potensi masing-masing.

Kemampuan tersebut dapat tumbuh melalui pendidikan formal maupun kegiatan di lingkungan pesantren. Penguatan literasi, penguasaan teknologi, pembelajaran keterampilan, kegiatan kewirausahaan, serta pengalaman berorganisasi dapat menjadi ruang pengembangan kapasitas apabila disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan lembaga pendidikan.

Pada saat yang sama, pendidikan karakter dan nilai keagamaan tetap memiliki peran dalam membentuk sikap serta tanggung jawab sosial. Kemampuan intelektual dan keterampilan praktis akan lebih bermakna ketika digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, pesantren memiliki ruang untuk terus mengembangkan pendidikan yang sesuai dengan karakter masing-masing lembaga sekaligus membuka kesempatan bagi santri untuk mengenal perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan dunia modern.

Peringatan Hari Santri juga menjadi momentum untuk mengingat bahwa kontribusi santri tidak harus terbatas pada satu bidang. Dengan bekal pendidikan dan kemampuan yang terus dikembangkan, mereka dapat mengambil peran dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, teknologi, maupun sektor lain sesuai kompetensi masing-masing.

WhatsApp Image 2026 10 22 at 11.59.43

Pesan untuk Lembaga Pendidikan Pesantren

Pemerintah Kota Bogor berharap peringatan Hari Santri Nasional 2026 dapat mendorong lembaga pendidikan pesantren untuk terus melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa, unggul secara intelektual, serta siap menghadapi persaingan internasional.

Harapan tersebut menempatkan pengembangan santri sebagai upaya yang membutuhkan perhatian bersama. Selain peran pemerintah, lingkungan pesantren, pendidik, keluarga, dan masyarakat turut memiliki ruang dalam mendukung proses belajar generasi muda.

Santri perlu memperoleh kesempatan untuk mengenali potensi diri, mengasah keterampilan, dan mengembangkan gagasan. Di sisi lain, nilai keagamaan yang dipelajari di pesantren dapat menjadi landasan dalam menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Dengan pendekatan tersebut, inovasi dan daya saing global tidak harus dipertentangkan dengan identitas santri. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika pengembangan kemampuan dilakukan tanpa mengabaikan nilai-nilai yang menjadi dasar pendidikan.

Melalui peringatan Hari Santri tingkat Kota Bogor, Dedie Rachim kembali menekankan pentingnya mempersiapkan generasi santri untuk mengambil peran dalam perjalanan Indonesia menuju 2045. Tantangannya bukan hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu, melainkan juga mendorong lahirnya generasi yang mampu menerapkan pengetahuan, berkolaborasi, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa.

Bagi santri yang saat ini sedang menempuh pendidikan, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan dibangun melalui proses belajar yang berlangsung sejak sekarang. Bekal agama, penguasaan ilmu, keterampilan, dan kemauan untuk terus berinovasi dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *