DINEWS.ID – Kenaikan harga kedelai impor terus menekan pelaku usaha tempe di Kabupaten Bogor. Untuk mempertahankan usaha dan menghindari kerugian yang lebih besar, sejumlah pengrajin memilih memperkecil ukuran tempe yang dijual tanpa menaikkan harga kepada konsumen.
Kondisi tersebut dirasakan para pengrajin tempe rumahan di Kampung Ciluar, Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Mereka menghadapi dilema antara meningkatnya biaya produksi dan daya beli masyarakat yang dinilai belum mampu menerima kenaikan harga tempe di pasaran.
Salah satu pengrajin tempe, Japar, mengatakan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh para pengusaha tempe semakin menipis.
“Kalau dulu harga kedelai sekitar Rp10 ribu per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp11.500 per kilogram. Tentu kenaikan ini sangat berpengaruh dan memberatkan biaya produksi harian kami,” ujar Japar, Senin (8/6/2026).
Untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, para pengrajin memilih mengurangi ukuran tempe yang dipasarkan. Langkah tersebut dilakukan agar harga jual tetap terjangkau dan tidak memberatkan konsumen.
Saat ini, harga tempe di sejumlah pasar tradisional di Bogor masih bertahan di kisaran Rp6.000 untuk ukuran besar dan Rp5.000 untuk ukuran kecil. Namun, ukuran produk yang diterima konsumen menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
Selain memperkecil ukuran produk, pengrajin juga mengurangi kapasitas produksi harian karena keterbatasan modal usaha. Menurut Japar, volume produksi yang sebelumnya mencapai enam hingga tujuh kuintal kedelai per hari kini turun menjadi sekitar lima kuintal.
“Biasanya dalam sehari kami bisa mengolah enam sampai tujuh kuintal kedelai impor. Sekarang karena harga bahan baku terus naik, produksi kami kurangi dan hanya sekitar lima kuintal per hari,” katanya.
Kenaikan harga kedelai juga berdampak pada keberlangsungan usaha tempe skala kecil. Japar mengungkapkan, sejumlah pengrajin pemula di wilayah Sukaraja terpaksa menghentikan produksi karena tidak mampu menutupi kebutuhan modal yang terus meningkat.
Menurutnya, mahalnya harga bahan baku membuat perputaran modal usaha semakin berat, sementara keuntungan yang diperoleh terus menyusut. Karena itu, para pengrajin berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai di pasaran.
“Keuntungan sekarang sudah sangat tipis. Banyak pengusaha kecil yang kesulitan bertahan karena modalnya habis tergerus. Harapan kami harga kedelai bisa segera stabil dan kembali turun sehingga usaha masyarakat bisa berjalan normal,” pungkasnya (Yis)













