DINEWS.ID – Dua pulau kecil di gugusan Kepulauan Tokara, Prefektur Kagoshima, Jepang, dilaporkan mengalami pergeseran hampir 10 sentimeter hanya dalam tiga hari setelah wilayah tersebut diguncang serangkaian gempa sebanyak 1.688 kali sejak akhir Juni 2025.
Profesor Ohta Yusaku dari Universitas Tohoku menjelaskan, berdasarkan analisis data perpindahan kerak Bumi, Pulau Kodakarajima bergerak sejauh 6 cm ke arah utara-barat laut dalam tiga hari sejak gempa berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang pada 2 Juli 2025. Sementara itu, Pulau Takarajima bergeser 3,5 cm ke arah selatan. Akibatnya, jarak antara kedua pulau tersebut bertambah hampir 10 cm.
“Selama ini kedua pulau biasanya bergerak bersama ke arah timur laut, tetapi kali ini bergerak saling menjauh. Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Ohta, Minggu (13/7/2025).
Badan Meteorologi Jepang mencatat, sejak 21 Juni hingga 9 Juli 2025, telah terjadi 1.688 gempa di wilayah Kepulauan Tokara. Sebelumnya, pada September 2023, wilayah yang sama juga mencatat 346 gempa dalam 15 hari.
Ohta memperkirakan gempa M 5,6 bukan penyebab utama pergeseran tersebut, mengingat pusat gempa berada cukup jauh dari kedua pulau. Ia menduga ada faktor lain seperti pergeseran patahan geser lambat pada area dangkal lempeng benua yang turut berkontribusi.
Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah pergeseran kerak Bumi tersebut berpotensi memicu gempa besar di masa mendatang. “Kami masih terus menganalisis data geologi historis untuk memahami fenomena ini,” ujar Ohta.
Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia karena berada di persimpangan empat lempeng tektonik utama dalam wilayah yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik. Setiap tahun, Jepang mengalami sekitar 1.500 gempa bumi, atau sekitar 18% dari total gempa bumi global.
Pemerintah Jepang sebelumnya telah memperingatkan potensi gempa besar di zona subduksi Palung Nankai dalam 30 tahun ke depan. Jika terjadi, gempa berkekuatan M 8,0 hingga M 9,0 tersebut diperkirakan memicu tsunami setinggi minimal 3 meter dan getaran seismik skala 6 dari 7 di 764 distrik di 31 prefektur.
Dalam skenario terburuk, gempa dan tsunami di Palung Nankai diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi hingga US$ 2.000 miliar dan menelan korban jiwa hingga 298.000 orang, dengan mayoritas akibat tsunami. ***








