DINEWS.ID – Suara sound system yang pecah terdengar dari sebuah gang sempit di Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat. Di bawah terik matahari yang menyengat, warga berbondong-bondong menuju sumber suara untuk menyaksikan salah satu kesenian khas daerah tersebut tarling.
Di tengah pekan, suasana kampung justru ramai seperti akhir pekan. Dalam satu gang, tiga hajatan digelar secara bersamaan.
“Satu gang ada tiga hajatan sekaligus. Di sebelah sana ada kawinan, terus ada khitanan, dan rasulan,” ujar seorang warga yang tengah sibuk mempersiapkan pesta.
Bagi masyarakat Indramayu, rasulan merupakan salah satu tradisi sebagai ungkapan rasa syukur keluarga atas kelahiran anak perempuan. Tradisi tersebut biasanya dirayakan dengan menggelar acara yang melibatkan masyarakat sekitar.
Namun, yang menjadi perhatian utama warga hari itu adalah kehadiran seorang biduan tarling, Githa Gusmania. Ia dijadwalkan tampil menghibur tamu dalam acara khitanan yang digelar di salah satu rumah warga.
Ketika naik ke panggung, Githa langsung menyapa penonton dengan bahasa Dermayon, dialek khas Indramayu.
“Mau dibawain lagu apa nih dari Githa?” tanyanya kepada para penonton.
Sorakan warga pun menyambut pertanyaan tersebut. Githa kemudian membawakan sejumlah lagu tarling populer dengan judul yang khas, seperti Midua Cinta, Pecak Welut, hingga Ngadu Bokong.
Penampilan Githa tidak berbeda jauh dengan pertunjukan musik dangdut pada umumnya. Ia tampil bersama grup musik yang dilengkapi gitar listrik, gitar bas, keyboard, drum, simbal, hingga kendang.
Pemandangan tersebut memunculkan pertanyaan: bagaimana kesenian tarling yang identik dengan gitar dan suling bisa memiliki format pertunjukan yang menyerupai orkes dangdut?
Dari Gitar dan Suling Menuju Dangdut Tarling
Etnomusikolog Aris Setyawan menjelaskan bahwa perubahan karakter tarling tidak terlepas dari perkembangan musik dangdut yang semakin populer pada era 1970-an hingga 1980-an.
Pada periode tersebut, musisi tarling Udin Zaen bersama grupnya, Kamajaya, disebut menjadi salah satu pelopor lahirnya dangdut tarling. Perpaduan antara unsur tarling dan dangdut kemudian berkembang menjadi subgenre tersendiri yang memiliki banyak penggemar di Pulau Jawa.
Meski kini banyak dipengaruhi unsur dangdut, tarling memiliki sejarah yang jauh lebih panjang. Kesenian ini berkembang di wilayah Dermayon, yang mencakup Indramayu, Cirebon, serta daerah sekitarnya seperti Kuningan, Majalengka, dan Subang.
Nama tarling sendiri merupakan singkatan dari dua instrumen utama yang menjadi ciri khasnya, yaitu gitar dan suling.
Berdasarkan penelitian Sandra Bader, tarling telah berkembang sejak masa kolonial Belanda pada 1930-an. Kesenian ini disebut lahir dari kreativitas seorang musisi bernama Sugra.
“Sugra mentransfer skala pentatonik gamelan ke media gitar dan memainkannya secara beriringan dengan suling atau seruling,” jelas Bader.
Dari eksperimen musikal tersebut, tarling tumbuh menjadi identitas budaya masyarakat pesisir Cirebon-Indramayu. Seiring waktu, kesenian itu terus beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk menyerap pengaruh musik dangdut.
Kini, di tengah derasnya arus musik modern, tarling masih tetap hadir di panggung-panggung hajatan masyarakat. Bagi warga Indramayu, denting gitar dan suara suling bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Red)







