DINEWS.ID – Sedikitnya 66 orang, termasuk delapan anak tewas dalam serangan udara Israel di Gaza pada Kamis (10/7/2025). Insiden ini terjadi saat warga mengantre bantuan suplemen gizi di luar sebuah klinik kesehatan di Deir Al-Balah, Gaza tengah. Informasi tersebut disampaikan oleh badan pertahanan sipil Gaza.
Menurut UNICEF, salah satu anak korban adalah bayi laki-laki berusia satu tahun yang baru mengucapkan kata pertamanya beberapa jam sebelum serangan. Ibunya dilaporkan mengalami luka serius. Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, menyebut insiden ini sebagai tragedi yang tidak seharusnya dialami oleh keluarga yang sedang mengakses bantuan kemanusiaan.
Organisasi Project Hope asal Amerika Serikat yang mengelola klinik tersebut menyebut, para korban sedang menunggu pelayanan untuk mengatasi kekurangan gizi, infeksi, dan penyakit. Project Hope melaporkan 15 korban tewas di lokasi itu, termasuk 10 anak dan dua perempuan. Presiden dan CEO Project Hope, Rabih Torbay, menyatakan serangan tersebut melanggar hukum humaniter internasional.
Saksi mata, Yousef Al-Aydi (30), mengatakan saat itu dirinya berada dalam antrean bersama puluhan orang lainnya ketika mendengar suara pesawat tak berawak sebelum ledakan terjadi. “Tanah berguncang di bawah kaki kami. Semuanya berubah menjadi darah dan jeritan,” ujarnya kepada AFP.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan seorang militan Hamas di Deir Al-Balah yang diduga terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023. Israel menyatakan menyesal atas jatuhnya korban sipil dan tengah meninjau insiden tersebut.
Selain di Deir Al-Balah, empat orang dilaporkan tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan udara terpisah di kamp Al-Bureij, Gaza tengah. Di Rafah, selatan Gaza, tiga orang termasuk seorang perempuan, tewas akibat tembakan Israel saat warga mengantre bantuan.
Menurut data PBB, lebih dari 600 orang telah tewas di sekitar titik distribusi bantuan dan konvoi kemanusiaan di Gaza sejak akhir Mei 2025. ***








