Bali Dilanda Banjir Bandang, Menteri Lingkungan Awasi Alih Fungsi Lahan

Banjir bandang
Banjir besar yang melanda Bali dalam beberapa hari terakhir memunculkan sorotan tajam terhadap tata ruang Pulau Dewata. Foto : x.com/@ladyofneptune__

DINEWS.ID Banjir bandang yang melanda Bali dalam beberapa hari terakhir menyoroti tata ruang Pulau Dewata. Derasnya pembangunan hotel, vila, dan cottage disebut sebagai salah satu faktor pemicu bencana hidrometeorologi yang menewaskan 16 orang dan memaksa 562 warga mengungsi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 120 lokasi banjir dan 18 lokasi longsor tersebar di sejumlah kabupaten/kota, dengan Denpasar menjadi wilayah terdampak terparah. Meski banjir mulai surut, tim gabungan masih melakukan pencarian korban hilang, pembersihan material, dan penyedotan genangan air, termasuk di basemen Pasar Badung.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan maraknya alih fungsi lahan dari persawahan dan daerah resapan air menjadi bangunan pariwisata telah memperlemah daya dukung lingkungan.

“Alih fungsi lahan memperlemah daya dukung lingkungan dan meningkatkan risiko bencana,” ujarnya di Jakarta, Jumat (12/9/2025).

Hanif menambahkan, pembangunan yang tak terkendali sering luput dari pengawasan pemerintah daerah. Izin mendirikan bangunan kerap dikeluarkan meski berada di kawasan rawan bencana atau jalur resapan air. “Setiap kali landscape terganggu, alam akan mengkalibrasinya, salah satunya lewat bencana,” tegasnya.

Pemerintah pusat telah mengingatkan Gubernur Bali I Wayan Koster agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan izin pembangunan baru. Hanif menyebut langkah jangka pendek yang perlu dilakukan adalah pembersihan material banjir, normalisasi saluran air, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

“Kalau drainase dan aliran air lancar, dampak banjir bisa ditekan meski curah hujan ekstrem,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *