Rupiah Menguat di Awal Pekan, Ikuti Tren Positif Mata Uang Asia

rupiah
Rupiah Menguat di Awal Pekan, Ikuti Tren Positif Mata Uang Asia. Foto : Ilustrasi/freepik.com

DINEWS.ID –  Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan awal pekan, Senin (29/9/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp16.661,50 per dolar AS atau naik 76,50 poin setara 0,46%.

Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang tercatat menguat 0,33% ke posisi 148,99 per dolar AS, dolar Singapura naik 0,17% ke 1,28 per dolar AS, dolar Taiwan menguat 0,40% ke level 30,40 per dolar AS, won Korea Selatan naik 0,49% ke 1.402,83 per dolar AS, dan peso Filipina menguat 0,29% ke 57,98 per dolar AS.

Yuan China juga terapresiasi 0,20% ke 7,12 per dolar AS, ringgit Malaysia naik 0,25% ke 4,21 per dolar AS, dan baht Thailand menguat tipis 0,09% ke 32,22 per dolar AS.

Namun, dua mata uang Asia tercatat melemah. Dolar Hong Kong turun tipis 0,01% ke 7,78 per dolar AS, sedangkan rupee India melemah 0,05% ke 88,72 per dolar AS.

Mengutip Reuters, dolar AS berada dalam posisi defensif menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting pekan ini yang diperkirakan memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kekhawatiran atas potensi penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat turut menekan pergerakan dolar.

Pergerakan mata uang dunia pada sesi Asia relatif tenang. Dolar AS sempat kehilangan penguatan akhir pekan lalu ketika sentimen pasar menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Investor global kini menanti perkembangan di Kongres AS terkait pembahasan rancangan undang-undang pendanaan.

Apabila tidak ada kesepakatan hingga Selasa, sebagian lembaga pemerintahan federal AS akan ditutup mulai Rabu (1/10/2025), bertepatan dengan awal tahun fiskal 2026. Kondisi ini berpotensi mengganggu rilis laporan ketenagakerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) yang dijadwalkan Jumat (3/10/2025).

“Jika penutupan pemerintah terjadi, data penggajian tidak akan dirilis. Maka pasar kehilangan acuan penting untuk perdagangan,” kata Kepala Riset Valuta Asing National Australia Bank, Ray Attrill.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *