Transformasi Digital Buka Peluang Perempuan Naik Kelas, 64,5 Persen Pelaku UMKM adalah Perempuan

feature image filenameWhatsApp Image 2026 10 30 at 11.41.19
Menteri PPPA Arifah Fauzi saat peluncuran PRIMA GO Digital Market Hub di UGM Yogyakarta. Dok: Istimewa

DINEWS.ID — Transformasi digital dinilai menjadi salah satu peluang bagi perempuan untuk mengembangkan usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi. Namun, akses terhadap teknologi saja belum cukup. Perempuan juga membutuhkan pendampingan, informasi pasar, jejaring bisnis, serta kesempatan yang setara agar usaha yang dijalankan bisa tumbuh dan naik kelas.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan pentingnya memperluas akses perempuan terhadap teknologi digital, pasar, dan pendampingan usaha. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas agar perempuan tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga mempertahankannya secara berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan Arifah saat peluncuran PRIMA GO (Digital Market Hub) di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

“Transformasi digital yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi tentang seberapa banyak perempuan yang mampu tumbuh dan maju bersamanya. Karena itu, kita harus memastikan perempuan bisa memulai usaha, bertahan, berkembang dan pada akhirnya naik kelas,” ujar Menteri PPPA.

Arifah mengungkapkan, sekitar 64,5 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia merupakan perempuan. Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi perempuan dalam menggerakkan perekonomian nasional.

Meski demikian, besarnya jumlah perempuan pelaku UMKM belum sepenuhnya diikuti kemudahan dalam mengembangkan usaha. Sejumlah hambatan masih dihadapi, mulai dari keterbatasan akses permodalan, informasi pasar, teknologi, jejaring bisnis, hingga pendampingan.

Di sisi lain, tanggung jawab pengasuhan yang masih banyak dibebankan kepada perempuan turut memengaruhi kesempatan mereka untuk mengembangkan usaha. Kondisi ini membuat pemberdayaan ekonomi perempuan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelatihan atau pemasaran produk.

Menurut Arifah, keberhasilan pemberdayaan juga perlu dilihat dari meningkatnya kepercayaan diri, kemampuan mengelola sumber daya, keberanian mengambil peluang, serta kendali perempuan dalam menentukan keputusan ekonomi.

“Perempuan yang berdaya bukan hanya perempuan yang mampu menghasilkan pendapatan, tetapi juga perempuan yang memiliki suara, pilihan, dan kendali atas masa depannya. Untuk itu, kita perlu memastikan transformasi digital memberikan manfaat bagi perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan akses dan kesempatan,” ungkapnya.

PRIMA GO Bantu Perempuan Kepala Keluarga

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, menyampaikan bahwa perkembangan ekonomi digital membuka peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, kesempatan tersebut belum dapat dinikmati secara merata, terutama oleh perempuan kepala keluarga.

Kelompok ini harus menjalankan tanggung jawab ekonomi sekaligus memastikan keberlangsungan kehidupan keluarganya. Karena itu, akses terhadap teknologi perlu disertai pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

“PRIMA GO menemukan makna strategisnya melalui upaya menghubungkan teknologi dengan pendampingan manusiawi. PRIMA GO hadir utamanya untuk perempuan kepala keluarga yang memikul tanggung jawab ekonomi sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan keluarganya,” ujar Paku Alam X.

Ia menjelaskan, transformasi digital harus memperhatikan kondisi dan kebutuhan perempuan yang beragam. Melalui pendekatan We to Women, peserta PRIMA GO tidak hanya mendapatkan akses terhadap teknologi dan pasar digital, tetapi juga pendampingan secara bertahap.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu perempuan meningkatkan keterampilan sekaligus membangun kepercayaan diri dalam mengelola usaha secara mandiri.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, menjelaskan PRIMA GO merupakan layanan Digital Market Hub yang ditujukan bagi perempuan rentan anggota Kelompok Ekonomi Produktif (KEP) Desa PRIMA.

Layanan ini dikembangkan untuk membantu perempuan memperluas pemasaran produk dan memanfaatkan pasar digital secara lebih optimal.

Erlina mengungkapkan, pemanfaatan pasar digital oleh perempuan pelaku usaha masih terbatas. Penggunaan akun media sosial dan lokapasar untuk pemasaran produk masing-masing masih berada di bawah dua persen.

Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain keterbatasan ekonomi, tanggung jawab pengasuhan, modal, hingga literasi digital.

“PRIMA GO hadir sebagai respons atas kebutuhan perempuan pelaku usaha, khususnya perempuan rentan, untuk tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga mampu memanfaatkan pasar digital secara lebih optimal,” ungkap Erlina.

Produk Lokal Perempuan DIY Berpeluang Perluas Pasar

Potensi usaha perempuan di DIY terlihat dari beragam produk unggulan kelompok usaha Desa PRIMA. Produk yang dihasilkan mencakup olahan pangan hingga kerajinan lokal.

Beberapa di antaranya adalah bakpia, wingko, eggroll, brownies, aneka keripik, olahan salak dan pisang, serta jamu instan. Sementara produk kerajinan meliputi batik, shibori, dan ecoprint.

Keragaman tersebut mencerminkan potensi ekonomi produktif perempuan yang dapat dikembangkan melalui perluasan pemasaran digital. Dengan akses pasar yang lebih luas, produk-produk lokal tersebut diharapkan memiliki kesempatan menjangkau konsumen lebih banyak.

Desa PRIMA atau Perempuan Indonesia Maju Mandiri merupakan program DP3AP2 DIY untuk memberdayakan perempuan di tingkat kalurahan melalui kegiatan ekonomi produktif.

Sejak 2021, program ini memperoleh dukungan Dana Keistimewaan (Danais) yang dikelola Paniradya Kaistimewan DIY.

Berdasarkan catatan DP3AP2 DIY, sekitar 21 persen perempuan di Desa PRIMA merupakan kepala keluarga. Mereka masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan skala usaha, terutama terkait akses teknologi, informasi pasar, jejaring, pembiayaan, dan pendampingan.

Peluncuran PRIMA GO menjadi bagian dari kolaborasi Kementerian PPPA, Pemerintah Daerah DIY, dan UGM untuk memperluas akses perempuan terhadap ekosistem ekonomi digital.

Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat pendampingan, memperluas jangkauan pemasaran produk, serta membuka kesempatan bagi perempuan pelaku usaha untuk meningkatkan skala bisnis dan kemandirian ekonomi.

Melalui PRIMA GO, transformasi digital diharapkan tidak berhenti pada kemampuan perempuan menggunakan teknologi atau memasarkan produk secara daring. Lebih dari itu, akses digital perlu menjadi jalan bagi perempuan untuk memiliki usaha yang berkembang, daya tawar yang lebih kuat, serta kendali lebih besar atas masa depan ekonominya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *