DINEWS.ID – Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan petugas saat keadaan darurat terjadi. Pengetahuan tentang risiko, jalur evakuasi, hingga cara menyelamatkan diri perlu dibangun sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah.
Pesan itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat menghadiri Apel Siaga Bencana, Jambore, dan Konsolidasi Relawan Sosial Kebencanaan di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Senin malam, 26 Oktober 2026.
Di hadapan 1.000 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) se-Sulawesi Selatan dan 38 ketua tim, Gus Ipul mengajak para relawan memperkuat kesiapsiagaan sekaligus memperluas edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian ialah sosialisasi program Sekolah Rakyat Aman Bencana.
“Saya ingin sampaikan secara khusus, sosialisasi Sekolah Rakyat Aman Bencana sangat penting. Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi peserta didik, guru, dan seluruh warga sekolah,” kata Gus Ipul.
Menurutnya, sekolah perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai risiko bencana dan langkah yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi. Pengetahuan itu mencakup jalur evakuasi, titik kumpul, komunikasi darurat, serta tindakan penyelamatan dasar.
Edukasi tersebut tidak cukup disampaikan sekali. Pemahaman warga sekolah perlu dibangun melalui latihan dan simulasi secara berkala agar setiap orang mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi berbahaya.
Dalam hal ini, Tagana diharapkan berperan aktif membantu memperluas pengetahuan kebencanaan, tidak hanya ketika bencana terjadi, tetapi juga sebelum keadaan darurat muncul.
Lima Arahan Gus Ipul untuk Anggota Tagana
Dalam arahannya, Gus Ipul menyampaikan lima hal yang perlu menjadi perhatian seluruh anggota Tagana. Arahan tersebut meliputi penguatan kemampuan teknis, kedisiplinan, pelayanan kemanusiaan, edukasi kebencanaan, serta kolaborasi.
Pertama, anggota Tagana diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan teknis. Penguasaan prosedur keselamatan, komunikasi, evakuasi, pertolongan awal, dan koordinasi lapangan menjadi bekal penting dalam menjalankan tugas.
Gus Ipul mengingatkan bahwa keinginan menolong orang lain harus disertai kemampuan yang memadai. Relawan perlu memahami prosedur keselamatan agar tidak justru menjadi korban saat menjalankan misi kemanusiaan.
“Yang mau menyelamatkan orang lain harus terlatih. Jangan sampai kita mau menyelamatkan malah diri kita yang jadi korban atau malah merepotkan orang lain,” ujarnya.
Kedua, ia menekankan pentingnya disiplin dan satu komando. Dalam penanganan bencana, setiap anggota harus memahami tugas dan kewenangannya, mengikuti arahan komando, serta menjaga komunikasi yang jelas.
Menurut Gus Ipul, kekompakan relawan tidak cukup terlihat ketika mengikuti apel atau kegiatan bersama. Kekompakan harus dibuktikan melalui tindakan nyata saat berada di lapangan.
Ketiga, Tagana diminta mengutamakan kemanusiaan dan memberikan pelayanan tanpa diskriminasi. Relawan harus hadir bagi semua warga yang membutuhkan bantuan, terutama anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, perempuan, serta masyarakat yang menghadapi hambatan akses.
“Layani dengan empati, hormat, dan tanpa membeda-bedakan latar belakang,” pesan Gus Ipul.
Keempat, edukasi kebencanaan perlu menjadi gerakan bersama yang menjangkau sekolah, keluarga, dan komunitas. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui simulasi, penyebaran informasi yang benar, serta pengenalan langkah-langkah penyelamatan.
Kelima, ia mengajak seluruh anggota Tagana merawat solidaritas dan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dinas sosial, perangkat daerah terkait, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, komunitas, dan masyarakat.
“Kekuatan Tagana akan semakin besar apabila bergerak bersama dan saling mendukung,” katanya.
Jambore Jadi Ruang Mengasah Keterampilan Relawan
Apel siaga dan jambore tersebut tidak hanya menjadi ajang konsolidasi, tetapi juga ruang bagi para relawan untuk meningkatkan keterampilan, berbagi pengalaman, dan memperkuat pelayanan kepada masyarakat terdampak bencana.
Rangkaian kegiatan mencakup perlombaan keterampilan dan kekompakan, bakti sosial, donor darah, serta sosialisasi Sekolah Rakyat Aman Bencana.
Gus Ipul hadir didampingi Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, yang juga menjabat Komandan Tagana se-Sulawesi Selatan. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi atas pengabdian anggota Tagana yang selama ini membantu masyarakat di berbagai daerah.
Gus Ipul menegaskan bahwa Tagana bukan sekadar barisan relawan yang bergerak ketika bencana terjadi. Mereka juga memiliki peran dalam mendukung pemulihan dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sebelum bencana datang.
“Tagana bukan sekadar barisan relawan, melainkan kekuatan sosial yang hadir di tengah masyarakat ketika bencana terjadi. Membantu pada masa tanggap darurat, mendukung pemulihan, serta menguatkan kesiapsiagaan sebelum bencana datang,” ujarnya.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Di sela-sela arahannya, Gus Ipul beberapa kali menyerukan “Are you ready?” untuk membangkitkan semangat peserta.
Ia bersama Gubernur Sulawesi Selatan juga mengajak sejumlah relawan senior naik ke panggung dan memberikan apresiasi atas pengabdian mereka.
Gus Ipul menilai semangat para relawan senior patut menjadi teladan bagi anggota lainnya. Ia menyoroti kehadiran relawan berusia di atas 70 tahun yang masih menunjukkan semangat dalam menjalankan kegiatan.
“Yang di depan kita ini adalah teladan-teladan kita. Usia sudah di atas 70 tahun, tapi tetap semangat. Kita yang masih muda-muda jangan sampai kalah dengan semangat Bapak Ibu di depan ini,” katanya.
Dalam rangkaian acara tersebut, Gus Ipul dan Gubernur Sulawesi Selatan turut menyerahkan piagam penghargaan kepada 24 ketua forum Tagana kabupaten/kota serta hadiah kepada para pemenang perlombaan jambore.
Kegiatan itu turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Andi Winarno Eka Putra, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, sejumlah kepala daerah dan wakil kepala daerah, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Malik Faisal, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan Andi Erwin Terwo, serta jajaran dinas sosial dan anggota Tagana se-Sulawesi Selatan.
Melalui konsolidasi tersebut, penguatan kemampuan relawan dan edukasi kebencanaan menjadi dua hal yang ditekankan Kementerian Sosial. Tagana diharapkan tidak hanya sigap memberikan bantuan saat bencana terjadi, tetapi juga aktif membangun kesiapan masyarakat agar risiko dan dampak bencana dapat dihadapi dengan lebih baik.











