Daerah  

Bukan Cuma Evakuasi, Tagana Bogor Juga Dilatih Kelola Dapur Darurat

Anggota Tagana Kabupaten Bogor mengikuti pelatihan kompetensi pengelolaan dapur umum darurat, pembangunan shelter, dan penyelamatan di air di kawasan Telaga Saat, Cisarua.
Anggota Tagana Kabupaten Bogor mengikuti pelatihan kompetensi pengelolaan dapur umum darurat, pembangunan shelter, dan penyelamatan di air di kawasan Telaga Saat, Cisarua. Dok: Istimewa

DINEWS.ID – Tugas relawan kebencanaan tidak berhenti pada penyelamatan korban atau menembus lokasi bencana. Setelah warga dievakuasi, kebutuhan makanan, tempat berlindung, hingga keselamatan para pengungsi juga harus dipastikan terpenuhi.

Inilah salah satu kemampuan yang diasah Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor melalui Pelatihan Kompetensi Taruna Siaga Bencana (Tagana) di kawasan Telaga Saat, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, pada 14–16 Oktober 2026.

WhatsApp Image 2026 10 15 at 18.58.45

Sebanyak 30 anggota Tagana mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari tersebut. Mereka tidak hanya menjalani latihan fisik, tetapi juga mendapatkan pembekalan teknis mengenai pengelolaan dapur umum darurat, pembangunan hunian sementara atau shelter, hingga penyelamatan di air (water rescue).

Ketiga kemampuan itu menjadi bagian penting dalam penanganan bencana. Sebab, ketika bencana terjadi, masyarakat terdampak bukan hanya membutuhkan pertolongan untuk menyelamatkan diri, melainkan juga makanan dan tempat berlindung selama berada di pengungsian.

Dapur Umum Jadi Penopang Kebutuhan Pengungsi

Kepala Dinsos Kabupaten Bogor, Farid Ma’rup, meninjau langsung pelaksanaan pelatihan pada Kamis, 15 Oktober 2026. Ia menjelaskan, dapur umum memiliki peran penting ketika warga terdampak tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari secara mandiri.

Dalam situasi bencana, rumah warga bisa mengalami kerusakan atau akses terhadap kebutuhan pokok menjadi terbatas. Kondisi tersebut membuat penyediaan makanan siap konsumsi menjadi bagian penting dari bantuan kemanusiaan.

“Pada saat terjadi bencana dan masyarakat membutuhkan makanan sehari-hari di lokasi bencana, di mana masyarakat terdampak tidak mungkin masak dan tidak mungkin beli, di situlah peran anggota Tagana yang menyediakan kebutuhan mereka di dapur umum,” jelas Farid.

Karena itu, kemampuan mengelola dapur umum perlu dipersiapkan sebelum bencana terjadi. Relawan harus memahami bagaimana menyiapkan kebutuhan logistik, mengatur area memasak, serta memastikan proses penyediaan makanan berlangsung aman.

Dapur umum bukan sekadar tempat memasak dalam jumlah besar. Pengelolaannya membutuhkan pembagian area kerja dan perhatian terhadap keselamatan agar kegiatan memasak tidak menimbulkan risiko tambahan di tengah kondisi darurat.

Penempatan Tabung Gas Tak Boleh Sembarangan

Pentingnya standar keselamatan dalam pengelolaan dapur umum dirasakan langsung oleh peserta pelatihan, Ajat Sudajat, anggota Tagana dari Desa Cimayang, Kecamatan Pamijahan.

Menurut Ajat, terdapat sejumlah hal teknis yang harus diperhatikan saat menyiapkan dapur umum, mulai dari tata letak peralatan hingga penempatan tabung gas.

“Dari dapur umum ada beberapa kategori yang harus kita siapkan. Pertama dari segi tata letak, untuk penanak nasi di mana, untuk memasak air di mana, dan yang paling penting peletakan tabung gas. Tabung gas tidak diletakkan sembarangan atau didekatkan dengan api kompor untuk mencegah risiko bahaya udara gas yang keluar,” urai Ajat.

WhatsApp Image 2026 10 15 at 18.58.46

Penataan peralatan dan lokasi memasak menjadi bagian dari upaya mencegah kecelakaan selama dapur umum beroperasi. Dalam situasi darurat, kelalaian kecil dapat berdampak besar, terlebih ketika kegiatan memasak melibatkan banyak orang dan menggunakan peralatan dalam jumlah besar.

Melalui pelatihan ini, anggota Tagana diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai tata kelola dapur umum sehingga dapat bekerja secara terorganisasi ketika diterjunkan ke lokasi bencana.

Latihan Shelter dan Water Rescue

Selain keterampilan mengelola dapur umum, peserta juga mendapatkan materi pembangunan shelter atau hunian sementara. Mereka dilatih mendirikan tenda evakuasi secara cepat dan aman untuk mendukung kebutuhan tempat berlindung bagi warga terdampak.

Kemampuan tersebut dibutuhkan ketika rumah warga tidak dapat digunakan atau masyarakat harus mengungsi untuk sementara waktu. Dalam kondisi seperti itu, ketersediaan tempat berlindung menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang perlu diperhatikan.

Materi berikutnya adalah water rescue atau penyelamatan di air. Kompetensi ini relevan dengan kebutuhan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, yang dapat terjadi di wilayah Kabupaten Bogor.

Dalam simulasi tersebut, peserta diuji untuk menerapkan keterampilan penyelamatan di air. Menurut Ajat, materi ini menjadi salah satu bagian yang paling menantang selama rangkaian pelatihan.

“Yang paling menantang dari kita semua yaitu water rescue atau penyelamatan di air. Namun alhamdulillah semua peserta berhasil, tidak ada kendala apa-apa,” tambahnya.

Penguasaan keterampilan tersebut diharapkan membuat relawan lebih si

Dinsos Berharap Kemampuan Relawan Bisa Langsung Diterapkan

Kepala Dinsos Kabupaten Bogor, Farid Ma’rup, berharap pelatihan kompetensi ini dapat meningkatkan motivasi, tanggung jawab, dan kemampuan teknis anggota Tagana ketika menjalankan tugas kemanusiaan.

“Kami berharap peserta tetap memiliki motivasi dan tanggung jawab. Kemampuan yang telah ditingkatkan ini bisa langsung dipergunakan untuk membantu masyarakat secara cepat pada saat terjadi bencana,” ujar Farid.

Tagana merupakan relawan sosial yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial RI melalui Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial. Perannya mencakup berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga pascabencana.

Dengan cakupan tugas tersebut, kesiapan relawan tidak cukup hanya mengandalkan keberanian. Pengetahuan teknis, koordinasi, pengelolaan logistik, dan pemahaman keselamatan juga menjadi bekal penting saat membantu masyarakat.

Pelatihan selama tiga hari di Telaga Saat menjadi salah satu upaya untuk mengasah kemampuan tersebut. Para peserta juga berharap Dinsos Kabupaten Bogor dan Kementerian Sosial terus menyusun perencanaan yang matang guna mendukung peningkatan kapasitas serta kebutuhan operasional Tagana di lapangan.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan bencana bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat korban dievakuasi. Ketersediaan makanan, tempat berlindung, dan bantuan yang terkelola dengan baik juga menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat melewati masa darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *