Demam Dengue dan DBD, Apa Bedanya? Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya

pexels polina tankilevitch 3873175
Perbedaan demam dengue dan DBD serta cara mencegahnya. Dok: Pexels

DINEWS.ID — Demam dengue dan Demam Berdarah Dengue atau DBD sering dianggap sebagai penyakit yang sama. Keduanya memang disebabkan oleh infeksi virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, tetapi kondisi penyakit dengue memiliki tingkat keparahan yang berbeda.

pexels vika glitter 392079 4345667 scaled

Memahami perbedaan demam dengue dan DBD penting, terutama saat musim hujan ketika masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengue merupakan infeksi virus yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti. Infeksi dengue dapat menimbulkan gejala ringan hingga kondisi berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Apa Itu Demam Dengue?

Demam dengue merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue. Virus ini memiliki beberapa serotipe dan ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang telah terinfeksi.

Tidak semua orang yang terinfeksi dengue mengalami gejala. Jika gejala muncul, WHO menyebut beberapa keluhan yang umum terjadi antara lain demam tinggi, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, ruam, serta rasa lelah. Gejala umumnya mulai muncul sekitar 4–10 hari setelah infeksi dan pada banyak kasus dapat membaik dalam satu hingga dua minggu.

Artinya, seseorang yang mengalami infeksi virus dengue tidak selalu langsung berada dalam kondisi berat.

Namun, dengue dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. WHO menyebut sebagian pasien dapat mengalami severe dengue atau dengue berat yang membutuhkan penanganan medis dan dapat mengancam jiwa.

Lalu, Apa Bedanya dengan DBD?

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan DBD sebagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pada kondisi yang lebih berat, penyakit dapat menyebabkan perdarahan, penurunan tekanan darah, hingga dengue shock syndrome.

Dengan demikian, istilah demam dengue tidak otomatis berarti seseorang mengalami DBD berat. Infeksi dengue mempunyai spektrum kondisi, mulai dari tanpa gejala atau gejala ringan hingga dengue berat.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya tanda bahaya ketika demam mulai turun. WHO menyebut tanda dengue berat dapat berupa nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, napas cepat, perdarahan pada gusi atau hidung, muntah atau tinja berdarah, tubuh sangat lemas, gelisah, kulit pucat dan dingin, serta rasa sangat haus. Kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.

Karena itu, turunnya demam tidak selalu berarti kondisi sudah sepenuhnya aman.

Apa Penyebab Demam Dengue dan DBD?

Penyebab dasarnya sama, yaitu virus dengue.

Virus tersebut tidak berpindah begitu saja dari satu orang ke orang lain melalui kontak biasa. Penularannya terutama terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang telah terinfeksi virus dengue. Aedes aegypti merupakan vektor utama penularan dengue.

Siklus penularannya dapat terjadi ketika nyamuk menggigit orang yang sedang membawa virus dengue. Virus kemudian berkembang di dalam tubuh nyamuk dan dapat ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit orang lain.

Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa nyamuk Aedes dapat berkembang biak di berbagai wadah yang menampung air, sehingga lingkungan dengan banyak tempat penampungan air perlu mendapatkan perhatian.

Musim hujan dapat menjadi salah satu periode yang perlu diwaspadai karena keberadaan genangan dan tempat penampungan air dapat mendukung perkembangbiakan nyamuk. Namun, dengue tidak hanya dapat terjadi ketika hujan.

Bagaimana Cara Mencegah Demam Dengue dan DBD?

Pencegahan paling penting dilakukan dengan mengurangi risiko gigitan nyamuk sekaligus mengendalikan tempat perkembangbiakannya.

Kementerian Kesehatan menganjurkan penerapan 3M Plus, yaitu:

1. Menguras

Bersihkan dan kuras tempat penampungan air secara rutin, seperti bak mandi, toren, atau wadah lain yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

2. Menutup

Tutup rapat tempat yang digunakan untuk menampung air agar tidak menjadi tempat nyamuk bertelur.

3. Mendaur ulang

Manfaatkan kembali atau kelola barang bekas yang berpotensi menampung air. Barang yang dibiarkan begitu saja di sekitar rumah dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk jika menampung air hujan.

Selain 3M, masyarakat juga dapat melakukan langkah tambahan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk. WHO menyarankan penggunaan pakaian yang menutupi tubuh, kasa pada pintu dan jendela, serta obat pengusir nyamuk sesuai petunjuk pemakaian. Penggunaan kelambu juga dapat menjadi perlindungan ketika tidur pada siang hari.

Membersihkan lingkungan juga perlu dilakukan secara rutin. Periksa halaman, pot tanaman, talang air, wadah bekas, dan berbagai benda lain yang berpotensi menampung air.

Kenali Tanda Bahaya

Demam tinggi, sakit kepala, nyeri tubuh, mual, muntah, atau ruam dapat muncul pada infeksi dengue. Namun, gejala tersebut juga dapat menyerupai penyakit lain sehingga diagnosis tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan gejala.

Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan apabila seseorang mengalami demam dan keluhan yang mengarah pada dengue.

Kewaspadaan semakin penting apabila muncul tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan, napas cepat, tubuh sangat lemas, kulit pucat dan dingin, atau penurunan kondisi setelah demam mereda. WHO menyarankan orang dengan tanda-tanda dengue berat segera mencari pertolongan medis.

Jangan Tunggu Sampai Banyak Nyamuk

Perbedaan demam dengue dan DBD pada dasarnya berkaitan dengan spektrum dan tingkat keparahan infeksi dengue. Keduanya memiliki penyebab dasar yang sama, yaitu virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes.

Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan ketika sudah ada anggota keluarga yang sakit. Menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, melindungi diri dari gigitan nyamuk, dan segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mengkhawatirkan merupakan langkah yang lebih penting.

Musim hujan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk kembali memeriksa lingkungan rumah. Jangan menunggu sampai muncul kasus dengue baru kemudian membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *