DINEWS.ID — Konservasi Harimau Sumatra mendapat dukungan dari sektor swasta melalui dana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang disalurkan Pusat Gadai Indonesia (PGI) kepada Yayasan Taman Safari Indonesia (TSI) di Bogor, Jawa Barat, pada Rabu 7 Oktober 2026.
Dukungan tersebut diberikan di tengah kekhawatiran terhadap keberlangsungan Harimau Sumatra yang disebut dalam bahan berita kini hanya tersisa sekitar 400 ekor di seluruh dunia. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena biaya operasional untuk riset, pemeliharaan, hingga penangkaran membutuhkan dukungan yang berkelanjutan.

Direktur Utama sekaligus Pendiri PGI, Andrew Susanto, menilai keterlibatan sektor swasta dibutuhkan agar upaya pelestarian satwa tidak hanya bergantung pada lembaga konservasi.
Menurut Andrew, kepedulian terhadap Harimau Sumatra berkaitan dengan keberlanjutan warisan keanekaragaman hayati Indonesia bagi generasi mendatang.
“Harimau Sumatra itu jumlahnya kini sangat terbatas, hanya di kisaran 500 hingga 600 ekor. Saya tidak mau anak atau cucu kita nanti tidak bisa lagi melihat Harimau Sumatra secara langsung. Karena saya pecinta satwa, saya berharap konservasi semua hewan ini bisa berjalan mulus,” ungkap Andrew.
Andrew menyadari bahwa upaya pelestarian satwa langka membutuhkan dukungan dalam jangka panjang. Karena itu, ia mengajak pelaku usaha lainnya ikut mengambil bagian dalam mendukung program konservasi satwa di Taman Safari.
“Saya mengajak pengusaha lain untuk ikut bergerak menyokong konservasi satwa di Taman Safari,” serunya.
Dukungan PGI untuk Konservasi Harimau Sumatra
Dana CSR yang disalurkan PGI ditujukan untuk mendukung keberlanjutan operasional pelestarian satwa. Dukungan tersebut mencakup sejumlah kebutuhan, mulai dari pemenuhan pakan, riset genetika, program reproduksi, hingga pengadaan unit kendaraan operasional.
Kebutuhan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan konservasi karena pemeliharaan satwa tidak hanya berkaitan dengan perawatan sehari-hari. Riset dan program reproduksi juga diperlukan untuk mendukung keberlangsungan populasi Harimau Sumatra yang berada dalam pengawasan lembaga konservasi.
PGI juga berencana melakukan peninjauan lanjutan ke TSI Prigen. Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan potensi bantuan konservasi terhadap satwa lainnya.
Dengan rencana tersebut, dukungan PGI tidak hanya diarahkan pada satu bentuk kebutuhan. Perusahaan juga membuka peluang untuk melihat kebutuhan konservasi satwa lain yang berada dalam pengawasan Taman Safari Indonesia.
Reproduksi Harimau Sumatra Masih Menjadi Tantangan
Vice President Life Science TSI, drh. Bongot Huaso Mulia, menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam konservasi Harimau Sumatra di luar habitat alaminya adalah proses reproduksi.
Menurut Bongot, tingkat keberhasilan reproduksi satwa tersebut cukup menantang. Harimau Sumatra memiliki tingkat fertilitas yang rendah dan menghadapi kesulitan untuk bereproduksi secara alami di tempat penangkaran.
Kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan mereka di alam liar. Selain itu, kecocokan antara harimau jantan dan betina juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam proses reproduksi.
“Kesulitannya adalah tingkat fertilitas mereka yang rendah. Mereka memiliki kesulitan mereproduksi secara alami di tempat penangkaran, tidak seleluasa ketika di alam liar. Selain itu, mereka juga sangat pemilih untuk urusan kecocokan antara jantan dan betinanya,” urai Bongot.
Karena itu, dukungan dana dari pihak swasta dinilai penting untuk menunjang kebutuhan yang berkaitan dengan rekayasa reproduksi maupun perawatan harian satwa.
Keterlibatan pihak swasta menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap keberlangsungan operasional konservasi. Terlebih, proses pengembangbiakan Harimau Sumatra di luar habitat alaminya menghadapi tantangan tersendiri.
TSI Telah Menangkarkan 25 Anakan Sejak 1995
Meski menghadapi tantangan dalam proses reproduksi, TSI telah menjalankan kegiatan penangkaran Harimau Sumatra selama puluhan tahun.
Sejak 1995, TSI disebut telah berhasil menangkarkan sedikitnya 25 ekor anakan Harimau Sumatra. Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan TSI dalam menjaga keberlangsungan satwa tersebut melalui program penangkaran.
Saat ini, terdapat 22 ekor Harimau Sumatra yang dirawat di bawah pengawasan TSI.
Untuk wilayah TSI Bogor, jumlahnya mencapai 16 ekor. Sementara itu, empat bayi harimau yang disebut sebagai individu termuda baru lahir enam bulan lalu dan saat ini berada di TSI Prigen.
Keberadaan satwa-satwa tersebut sekaligus menunjukkan bahwa program konservasi membutuhkan perawatan yang berkelanjutan, termasuk pemenuhan pakan, pemantauan reproduksi, riset genetika, serta dukungan operasional.
Ajakan Andrew kepada pengusaha lain untuk ikut menyokong konservasi menjadi bagian dari upaya memperluas dukungan terhadap pelestarian satwa. Sementara itu, PGI juga akan melakukan peninjauan lanjutan ke TSI Prigen untuk melihat potensi dukungan bagi konservasi satwa lainnya.
Dengan berbagai kebutuhan tersebut, keberlanjutan konservasi Harimau Sumatra tidak hanya bergantung pada keberhasilan reproduksi, tetapi juga pada dukungan terhadap operasional dan riset yang dilakukan untuk menjaga satwa tersebut.










Respon (1)